Komunikasikanlah
Iu Rusliana, Dosen Program MM Uhamka Jakarta, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat
Tidak ada yang tidak selesai kalau dibicarakan, dikomunikasikan dengan baik dan santun. Tentu dalam suasana yang masih tegang, penuh amarah dan emosional, sebaiknya saling menahan. Gunakanlah mediator yang netral namun memastikan memahami aspirasi para pihak jika diperlukan. Namun jika mampu dan mau sendiri, ada baiknya lakukan. Itu jauh lebih efektif dan mengkanalisasi konflik, agar tidak meluas melebar.
Sambil ngopi di tempat dengan suasana yang menyenangkan. Mau Anda apa, lalu mau kamu apa? Jadikan menjadi kemauan kita. Saling mendengarkan dengan sikap dewasa, terbuka dan menghargai. Jangan pura-pura tidak tahu, apalagi tidak peduli. Jika terjadinya atasan dengan bawahan, hanya soal waktu aja menunggu dipindahkan. Bersedia dengan sabar dan teliti mendengarkan arahan agar tidak keliru dengan langkah yang dilakukan.
Di dunia ini ada orang yang hanya mau menang sendiri, munafik dan arogan. Tak punya empati, menggunakan segala cara untuk menang, ingin selalu membuktikan kehebatan. Manusia beginian harus ditaklukan, jangan diberi ruang memperlihatkan kesombongan. Jika upaya komunikasi tak ada solusi, libatkan aparat berwenang, berani berhadapan bahkan di pengadilan. Jangan pernah mundur, karena kebenaran harus diperjuangkan dan keadilan ditegakkan.
Konsensus, kesepakatan dan kedamaian hanya mungkin karena ada komitmen, menahan diri, saling menghargai dan semangat kesetaraan. Jika tidak setara, yang ada dominasi. Itu lah kenapa sistem masyarakat harus di atur setara di depan hukum. Demikian pula dalam organisasi, sistem yang adil, profesional, proporsional harus dirumuskan, ditetapkan bersama menjadi sistem dan dilaksanakan sehingga menjadi budaya.
Kembali lagi pada unit terkecil dalam organisasi. Jenis apapun, itu, baik profit maupun non profit. Apabila ada aspirasi, kekecewaan, kekurangpuasan, harapan, baiknya dibicarakan. Apalagi kalau itu sifatnya rasa kebanggaan. Sebagai pimpinan, tentu harus dibuatkan sistem komunikasinya agar terkelola dengan baik. Tidak ada yang mendominasi, atau bahkan sebaliknya, tersingkirkan. Jangan perbanyak komunikasi setengah kamar, ketika sifatnya hanya kepentingan pihak terbatas. Buka di atas meja, agar tidak ada fitnah dan syak wasangka. Saling curiga, saling menghambat, bersaing satu sama lain akan membuat bingung pasukan. Garis komando dan instruksi sering saling buyarkan. Sulit untuk mendapatkan kesamaan, sangat merepotkan, hilang kewibawaan.
Komunikasi internal dan eksternal merupakan kunci. Proses pertukaran ide, gagasan, pesan dan informasi di internal organisasi. Antara pimpinan, dengan anggota atau atasan, juga mitra kerja di internal. Tentu sifatnya untuk menyamakan frekuensi nilai, tujuan, visi dan misi. Mendorong kinerja organisasi, budaya kerja dan iklim komunikasi yang sehat. Dengan komunikasi yang cair, akan mengurangi kesalahpahaman dan konflik internal yang tidak perlu.
Selain komunikasi internal, komunikasi eksternal juga sangat strategis. Banyak hal yang berantakan karena hal ini tak terkelola. Tentu perlu kerja keras, komitmen dan saling mempercayai. Ada mekanisme respon cepat antar pihak, sehingga tidak ada sumbatan dalam komunikasi. Walau kadang, si pembuat ribut selalu ada dalam barisan. Senang kalau ada kegaduhan, dia kelihatan punya pekerjaan menyelesaikan. Padahal dia pula yang memantiknya, menyebarkan isu yang tak mengadudomba. Relasinya dengan media massa, influencer di media sosial dan para pihak harus diperkuat. Rutinkan bertemu untuk sekedar ngopi dan berdiskusi.
Sumbatan komunikasi di interal akan berbahaya jika dibiarkan. Meledak tak tertangani, akan menambahkan pekerjaan tersendiri. Buka jalur komunikasinya secara informal dan formal. Bahkan perbanyak yang tidak resminya, sambil ngopi. Dalam suasana terbuka, hati tenang dan nyaman, segalanya bisa diekspresikan dan diterima dengan hati lapang. Mungkin isinya kritik, tapi dengan gelak tawa dan canda, semuanya akan terasa biasa. Itu memang tidak mudah, tapi selama ego sama-sama diturunkan, saling bertukar dan menjaga kepercayaan, sama-sama jelas dan paham apa yang masing-masing orang inginkan, semuanya bisa bergandengan tangan untuk kemajuan organisasi di masa depan. Wallaahu’alam

