JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Semangat memperkuat persatuan umat, membangun kemaslahatan bangsa, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan nasional mewarnai pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII, Kamis (24/7). Sejumlah tokoh menegaskan bahwa kongres ini menjadi momentum penting untuk memperkokoh ukhuwah sekaligus merumuskan rekomendasi strategis bagi pemerintah dan masyarakat.
Ketua Panitia KUII VIII, Marsudi Suhud, mengatakan bahwa seluruh peserta kongres berkumpul untuk menunaikan amanah besar, yakni menjaga persatuan umat sekaligus membangun kemaslahatan bagi bangsa dan negara.
"Hari ini kita berkumpul untuk menunaikan amanah besar. Amanah untuk menjaga persatuan, amanah membangun kemaslahatan umat dan bangsa," ujarnya.
Menurut Marsudi, membangun bangsa tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kemampuan, kesadaran, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Karena itu, penyelenggaraan Kongres Umat Islam Indonesia bertujuan memperkuat persatuan umat, bangsa, dan negara melalui gagasan-gagasan yang konstruktif.
Ia berharap kongres tidak hanya menghasilkan pemikiran yang kritis, tetapi juga melahirkan solusi yang aplikatif bagi berbagai persoalan bangsa. Lebih jauh, kongres diharapkan turut berkontribusi dalam mewujudkan tatanan dunia yang damai.
"Mari kita jadikan kongres ini sebagai kongres yang berkelanjutan," ajaknya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid, menilai KUII VIII merupakan momentum penting bagi umat Islam Indonesia untuk memperkuat ukhuwah dan mempertegas peran MUI sebagai pelayan umat sekaligus mitra pemerintah.
Menurutnya, selama lebih dari 50 tahun MUI telah menjalankan fungsi strategis dalam menjaga akidah umat, memberikan bimbingan keagamaan, serta menjadi mitra pemerintah dalam berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan umat.
Ia mengungkapkan bahwa dalam kongres ini akan digelar sidang pleno yang membahas berbagai kebijakan pemerintah. Dari pembahasan tersebut, MUI akan menyampaikan rekomendasi dan solusi sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi bangsa.
"Kami menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada pemerintah yang secara jelas menunjukkan komitmen terhadap ekonomi kerakyatan," katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar pelaksanaan berbagai program pemerintah dilakukan secara bersih, transparan, dan terbebas dari praktik korupsi maupun manipulasi.
Selain itu, Ketua MUI Anwar Iskandar menegaskan kembali sikap MUI yang menolak praktik LGBT karena dinilai bertentangan dengan nilai-nilai agama dan merendahkan martabat manusia. Menurutnya, persoalan tersebut menjadi keprihatinan para ulama sekaligus perhatian bersama yang perlu disikapi secara bijaksana sesuai dengan ketentuan agama dan peraturan yang berlaku.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar pembangunan umat. Di samping itu, perkembangan teknologi informasi perlu dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana dakwah Islam yang lebih luas, efektif, dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap isu kemanusiaan global, MUI juga menyampaikan bahwa telah disiapkan program beasiswa bagi anak-anak Palestina dengan nilai mencapai Rp22 miliar, sebagai dukungan terhadap pendidikan generasi muda Palestina.
Sementara itu, Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sekitar 87 organisasi kemasyarakatan Islam. Keberagaman tersebut merupakan kekuatan besar apabila mampu dikelola dalam semangat persatuan.
Menurutnya, Kongres Umat Islam Indonesia VIII hadir pada momentum yang sangat tepat ketika dunia sedang menghadapi berbagai ketidakpastian, baik di bidang politik, ekonomi, maupun keamanan global.
"Kalau kita bersatu, semua persoalan akan bisa diselesaikan," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa tema persatuan harus terus menjadi semangat yang menggelora di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia.
"Itulah perjuangan kita, itulah harapan kita, dan itulah yang menjadi semangat dari Kongres Umat Islam Indonesia," pungkasnya.
Melalui berbagai sidang dan pembahasan yang akan berlangsung selama kongres, para peserta diharapkan mampu melahirkan rekomendasi yang tidak hanya memperkuat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, penguatan ekonomi umat, serta terciptanya kehidupan bangsa yang damai, adil, dan bermartabat. (diko)

