Lebih Dekat dengan Tokoh 'Aisyiyah Generasi Pertama, Teladan Bagi Generasi Masa Kini

Publish

27 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
65
Mu’arif, SPdI., MPd. Foto: Abyan

Mu’arif, SPdI., MPd. Foto: Abyan

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – ‘Aisyiyah telah banyak melahirkan para tokoh-tokoh hebat. Tentu, deret tokoh tersebut niscaya berkontribusi terhadap kehidupan bangsa. “Kiprahnya itu bisa menjadi teladan bagi kita semua di generasi sekarang,” kata Mu’arif.

Pertama, Siti Walidah. Menurut Mu’arif, nama Siti Walidah tidak hanya disematkan pada istri Kiai Dahlan. “Jadi jangan membayangkan Siti Walidah cuma 1 orang pada zamannya, tidak. Itu keliru,” singkapnya, menyebut ada 3 nama serupa di zaman tersebut. 

“Namanya Siti Walidah, sama. Kalau tidak jeli, bisa keliru kita,” tekan Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu di Gerakan Subuh Mengaji 'Aisyiyah Jawa Barat, Senin (26/1).

Munculnya nama Siti yang melekat di bentang jajaran tokoh-tokoh ‘Aisyiyah generasi pertama, menjadi bahan diskusi para peneliti. “Semuanya pakai Siti,” ucapnya. 

Hal ini secara khusus dikemukakan Mu’arif, bukan sebuah kebetulan. “Sebutan Siti itu khusus untuk perempuan pada waktu itu dalam budaya Jawa,” bebernya. 

Dalam kiprahnya, Siti Walidah bergerak di dunia pendidikan. Ia ikut berjuang untuk mencerdaskan masyarakat. “Peran Nyai Dahlan (Siti Walidah) itu luar biasa,” katanya, yang menerima gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah sesuai Surat Keputusan Presiden No 042/TK/Tahun 1971. “Sangat layak,” sebutnya.

Kedua, SitI Bariyah. “Terpilih sebagai Ketua ‘Aisyiyah pertama,” tutur Mu’arif. Pemilihan tokoh tersebut mendasari karena merupakan intelektual perempuan. “Sosok inilah perempuan pertama penfasir ideologi Muhammadiyah pertama,” urai Redaktur Suara Muhammadiyah ini.

Siti Bariyah merupakan adik kandung dari Siti Jasimah, Haji Syuja’, Haji Fachrodin, Haji Hadikusuma, Haji Zaini, Siti Munjiyah, dan Siti Walidah. “Kemampuan bahasa Belandanya (Siti Bariyah) keren,” ulasnya. Termasuk, Siti Bariyah merupakan seorang qoriah. “Juga menafsirkan maksud dan tujuan Muhammadiyah,” tambah Mu’arif.

Ketiga, Siti Munjiyah. “Ini kakaknya Siti Bariyah,” ucapnya. Kiprahnya sangat menonjol pada zamannya. “Beliau adalah Wakil Ketua Panitia Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta tahun 1928,” sambungnya. Dikemukakan juga, Siti Munjiyah sebagai tokoh pergerakan perempuan bahkan menjadi penghubung organisasi ‘Aisyiyah dengan ormas lain. 

“Bahkan non-muslim sekalipun. Karena beliau sangat disegani di kalangan gerakan perempuan nasional pada waktu itu,” ulasnya.

Keempat, Siti Aisyah. “Inilah putri Kiai Dahlan,” ucap Mu’arif. Dan, ia merupakan remaja putri angkatan kedua yang menjadi embrio kader gerakan ‘Aisyiyah. Disebutkan Mu’arif, anak-anak Kiai Dahlan dianjurkan untuk sekolah di Belanda.

“Agar punya wawasan yang di atas rata-rata perempuan-perempuan muslimah pada zamannya,” lanjutnya. Yang kemudian, Siti Aisyiah ini, tampil menjadi seorang aktivis ‘Aisyiyah kala itu.

Kelima, Siti Badilah Zuber. Merupakan Ketua PP ‘Aisyiyah, yang menyelesaikan pendidikan di Neutraale Lagere Meijes School (NMS). Di sekolah, Badilah dikenal sebagai siswa yang cerdas dan rajin. Bahkan menguasai bahasa Belanda aktif.

“Beliau ini guru MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderweijs, sekolah menengah pertama, SLP),” terang Mu’arif. Badilah juga dikenal sebagai mubalighah. “Beliau dikirim ke beberapa forum, khususnya forum instansi pemerintah (mengisi pengajian),” ujarnya.

Keenam, Siti Hayinah. Ketua PP ‘Aisyiyah, yang menikah dengan Mohammad Mawardi, Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta periode 1960-1963 & 1969-1980. “Siti Hayinah ini Anggota Kongres Perempuan. Dia itu ikut berpidato, berdebat dengan kelompok-kelompok lain,” bebernya.

Menariknya, Siti Hayinah ini merupakan seorang jurnalis perempuan. “Pemimpin Redaksi Suara ‘Aisyiyah periode 1938-1940,” urainya. Diungkapkan, Suara ‘Aisyiyah pada masa kedudukan Jepang, “hampir mati,” ucapnya. Tapi, Siti Hayinah berupaya sedemikian rupa agar Suara ‘Aisyiyah ini tetap bertahan terbit.

“Beliau menyemangati bagaimana pun keadannya, akhirnya tetap terbit sampai sekarang,” sebutnya, yang dikenal juga sebagai mubalighah. “Tapi segmen beliau memang kaum intelek,” sambung Sejarawan Muhammadiyah tersebut.

Ketujuh, Siti Umniyah. Merupakan Ketua PP Nasyiatul ‘Aisyiyah (Siswoproyo, dulu) dan putri Kiai Sangidu dari istrinya Siti Jauhariyah (putri Kiai Soleh, kakak ipar Kiai Ahmad Dahlan).

“Kiai Sangidu merupakan orang yang pertama kali mengusulkan nama perkumpulan Muhammadiyah,” jelasnya. Pada saat yang sama, Siti Umniyah juga dikenal sebagai aktivis ‘Aisyiyah dan sebagai pendiri TK ABA. “Unggulannya gerakan ‘Aisyiyah. Di mana-mana tidak ada tandingannya,” tegasnya. Tidak hanya itu saja, Siti Umniyah adalah sosok yang gemar bersilaturahmi.

Siti Umniyah mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah Pawiyatan (1915), sekolah pertama yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Selanjutnya ia masuk ke al-Qismul Arqo (Madrasah Mu'allimaat). Setelah tamat, kemudian ia menjadi guru di Madrasah Muallimat Yogyakarta sampai tahun 1954. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan (Sulses) bakal m....

Suara Muhammadiyah

14 April 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengg....

Suara Muhammadiyah

1 June 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Ma'had Al Birr Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar berk....

Suara Muhammadiyah

6 February 2024

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus mengokohkan komitmennya....

Suara Muhammadiyah

28 May 2025

Berita

Tonggak Baru Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Pekalongan PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah - RSI PKU M....

Suara Muhammadiyah

15 November 2025