Lima Cara Emas Mendidik Anak Menurut Imam Al-Ghazali

Suara Muhammadiyah

4 April 2026

502
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Lima Cara Emas Mendidik Anak Menurut Imam Al-Ghazali

Penulis: Dr. Muhammad Solihin Fanani, M. P. SDM, Wakil Ketua V Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah

Pendidikan, menurut Imam Al-Ghazali ditekankan kepada pembentukan kepribadian jiwa manusia agar menjadi orang-orang yang memiliki kelembutan hati dan jiwa (Tazkiatun Nafs).

Beliau mengatakan bahwa kerberhasilan dalam menempuh pendidikan bagi seseorang apabila dia telah memiliki sifat-sifat yang baik dan rendah hati, jauh dari sifat iri hari dan sombong. 

Oleh karena itu pendidikan harus mampu mengantarkan manusia kepada kebagian hidup dunia-akhirat. 

Untuk mencapai tujuan tersebut menurut Imam Al-Ghazali ada lima cara emas dalam mendidik anak. 

Pertama. Jangan dibiasakan memberikan makan yang lezat-lezat. Sesekali anak perlu diberi makanan yang tidak lezat agar tidak menjadi ahli makan sehingga hidupnya hanya digunakan untuk makan, bukan makan untuk hidup dan menjadi orang yang mudah bersyukur jika mendapat sesuatu. 

Kedua. Jangan dibiasakan anak tidur di tempat yang empuk-empuk. Sesekali anak perlu tidur di lantai agar anak tidak malas beribadah.  Kebanyakan anak sekarang mendapatkan fasilitas kamar tidak yang istimewa sehingga menjadikan anak suka tidur dan malas beribadah, terutama tahajud.

Ketiga. jangan dibiasakan anak diberi pakaian yang bagus-bagus, sesekal anak perlu diberi pakaian yang biasa saja agar tidak menjadi anak yang sombong dan meremehkan orang lain yang pakainya tidak sebagus dirinya. Anak perlu dilatih untuk mencuci pakaiannya sendiri, setrika sendiri. Sehingga merasakan betapa susahnya mendapatkan pakaian yang bagus. 

Keempat. Jangan permudah memberi permintaan anak. Yang paling bagus, bahwa anak meminta sesuatu kepada orang tuanya sampai menangis sehingga ada perjuangan disitu. Kalau mau memberi permintaan anak, tolong kasih syarat tertentu agar anak.mengerti etos kerja dan perjuangan untuk mendapatkan sesuatu itu tidak mudah. Keuntungan yang lain anak akan menjadi orang yang mandiri dan tidak menggantungkan orang tuanya setelah dewasa. 

Kelima. Jangan menghukum anak didepan orang lain. Sebab jika anak dimarahi di depan orang lain, maka masa depannya akan rusak dan jiwanya menjadi hancur. 
Oleh karena pilihlah waktu yang tepat untuk menasehati. Yaitu sebelum tidak, waktu saat makan bersama dan waktu saat bepergian. 

Selain itu orang tua juga harus menguasai cara berkomunikasi dengan anak yaitu kinertetik, intonatif dan substantif. 

Secara teori tingkat keberhasilan komukasi secara kinestetik (dengan sentuhan) adalah 57 %, sedangkan secara intonatif 37 % dan substantif 6 %.

Hal ini sesuai dengan nasihat Ali Bin Tholib. "Perbaikilah akhlakmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu".


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Hening Parlan Di antara denting lonceng gereja pada Minggu pagi, lantunan doa di wihara saat ....

Suara Muhammadiyah

21 July 2025

Wawasan

Bedah Bariatrik dalam Perspektif Hukum Islam: Analisis Medis-Fiqih terhadap Penanganan Obesitas Morb....

Suara Muhammadiyah

10 February 2026

Wawasan

Pemberdayaan Ekonomi Sektor Perunggasan Yang Berkemajuan Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko, LPCRPM PP ....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Wawasan

Sultan Muhammad Salahuddin: Cahaya Islam dari Timur Nusantara Oleh: Ahmad Mujahidin, Kader IMM Cipu....

Suara Muhammadiyah

1 December 2025

Wawasan

Tidak Terlihat Namun Paling Terdampak: Suara Penyandang Disabilitas dalam Bencana Sumatra 2025 Oleh....

Suara Muhammadiyah

1 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah