LSF Goes to Campus di UM Bandung, Gaungkan Bijak Memilih Tontonan

Suara Muhammadiyah

10 July 2026

236
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Pada era banjir konten digital, kemampuan memilih tontonan secara bijak menjadi bagian penting dari literasi masyarakat. Melalui program LSF Goes to Campus, Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia mendorong kampus menjadi mitra dalam membangun budaya sensor mandiri, terutama di kalangan generasi muda.

Program bertajuk "Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia" itu digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kamis (9/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan implementasi kerja sama LSF dengan sekitar 60 kampus di Indonesia.

Ketua Komisi III LSF RI Kuat Prihatin mengatakan, mahasiswa diharapkan menjadi agen literasi perfilman yang dapat mengedukasi keluarga dan masyarakat agar memilih tontonan sesuai usia.

"Kampus kami harapkan menjadi pusat edukasi literasi perfilman. Mahasiswa bisa menjadi penyambung pesan kepada keluarga, teman, dan lingkungan tentang pentingnya memilih tontonan yang tepat," ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan literasi tidak hanya datang dari film, tetapi dari derasnya konten di media sosial. Meski bukan menjadi kewenangan LSF, pihaknya ingin menumbuhkan kesadaran masyarakat agar lebih cerdas, dewasa, dan mampu menyaring setiap konten yang dikonsumsi.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan pentingnya literasi sensor mandiri di tengah pesatnya perkembangan industri film. Menurutnya, film mencerminkan kualitas budaya suatu bangsa sekaligus mampu memengaruhi cara pandang masyarakat.

Oleh karena itu, masyarakat harus cerdas memilih tontonan sesuai usia dan mampu menyerap nilai-nilai positif dari setiap film. Ia juga mengajak mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut menciptakan film yang mengangkat nilai-nilai luhur Indonesia, seperti moderasi, kebinekaan, dan persatuan.

Pada waktu yang sama, Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung Rahmat Alamsyah menilai kolaborasi dengan LSF sejalan dengan penguatan kompetensi Prodi KPI di bidang sinematografi dan film dakwah. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi pemahaman mengenai regulasi, etika, dan budaya sensor yang menjadi bekal saat berkarya di industri kreatif.

Rahmat menilai film merupakan perpaduan seni, teknologi, komunikasi, dan sastra yang mampu menjadi media pendidikan sekaligus pembentukan karakter. Oleh karena itu, ia meyakini industri film akan terus berkembang dan memiliki peran besar dalam menyampaikan nilai-nilai positif kepada masyarakat.

"Film tidak hanya menjadi hiburan. Selama mampu mengajak kepada nilai-nilai kebaikan, kepedulian, dan kemanusiaan, film juga dapat menjadi media dakwah," katanya.

Ia juga mengajak mahasiswa memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara bijak. Menurutnya, AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung proses kreatif, sedangkan orisinalitas, etika, dan tanggung jawab tetap harus menjadi landasan utama dalam menghasilkan karya.*(FA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SORONG, Suara Muhammadiyah – Tim Pendamping dan Pelaksana Program Kolaborasi Sosial Membangun ....

Suara Muhammadiyah

2 December 2024

Berita

NAGAN RAYA, Suara Muhammadiyah - Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh  Iskandar Muda Hasibu....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Berita

BANDARLAMPUNG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Aisyiyah Lampung berkerjasama dengan Majelis Ke....

Suara Muhammadiyah

22 May 2024

Berita

PAYAKUMBUH, Suara Muhammadiyah — Para dai perlu memahami peta dakwah guna menentukan strategi ....

Suara Muhammadiyah

23 June 2025

Berita

PERLIS, Suara Muhammadiyah - Pekan Orientasi Mahasiswa Baru Universiti Muhammadiyah Malaysia diisi d....

Suara Muhammadiyah

18 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah