YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan Halal Bihalal dan Konsolidasi Program di Aula Buya Yunahar Ilyas, Gedung Pusdiklat Tabligh PP Muhammadiyah, Sabtu (11/04). Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, beserta jajaran pimpinan dan pengurus Majelis Tabligh.
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, mengikuti kegiatan tersebut secara daring melalui Google Meet dari Malaysia. Dalam sambutannya, Ia menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir secara langsung lantaran harus menuntaskan studi seiring keterbatasan masa izin tinggal. Meski demikian, Ia menegaskan bahwa seluruh agenda organisasi harus tetap berjalan tanpa bergantung pada kehadiran fisik pimpinan.
Dalam forum tersebut, Kiyai Fathurrahman Kamal memaparkan sejumlah capaian dan arah strategis Majelis Tabligh. Ia menegaskan bahwa seluruh program berjalan sesuai matriks kerja yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Hasil konsolidasi terakhir bersama Badan Pembina Organisasi (BPO) mengarah pada penyederhanaan struktur program tanpa mengurangi substansi, termasuk penggabungan model pelatihan serta penyusunan Tuntunan Majelis Tabligh dalam satu kerangka program utama.
Di bidang pendataan, Majelis Tabligh terus mengakselerasi integrasi data masjid dan mubaligh melalui sistem informasi Tabligh yang terhubung dengan Satu Data Muhammadiyah. Hingga saat ini, sekitar 3.000 data telah terkonsolidasi dari target awal 6.000 masjid. Selain itu, pengembangan sistem juga diperkuat melalui peluncuran program sertifikasi mubaligh dan platform pelatihan daring berbasis riset akademik.
Namun demikian, penekanan utama dalam kegiatan ini bukan semata capaian program, melainkan peneguhan nilai dasar dalam berorganisasi. Kiyai Fathurrahman Kamal menegaskan bahwa seluruh capaian Majelis pada hakikatnya merupakan amanah, bukan kepemilikan.
“Segala capaian Majelis merupakan aset milik Allah yang dititipkan melalui Muhammadiyah. Pimpinan dan pengurus ibarat hamba sahaya bagi Tuannya untuk mengelolanya dengan amanah; bukan untuk memilikinya demi kepentingan diri. Cukuplah ini menjadi jalan menuju ridha dan surga Allah, bukan untuk eksistensi diri,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa orientasi kerja organisasi harus dilandaskan pada nilai keikhlasan dan pengabdian, bukan pada kepentingan personal atau pencitraan.
Selain itu, Majelis Tabligh juga terus mendorong penguatan amal usaha masjid melalui model berbasis koperasi, yang diharapkan dapat direplikasi secara luas di lingkungan Muhammadiyah dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk LPCR dan tim ekonomi. Di sisi lain, program kaderisasi internasional melalui jalur Masjid Istanbul juga terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi penguatan sumber daya manusia.
Dalam laporan lainnya, disampaikan bahwa beberapa kader Majelis Tabligh pada tahun ini mendapatkan amanah sebagai petugas haji, baik sebagai petugas reguler maupun pembimbing (mistasar), yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelayanan jamaah.
Dari aspek pendanaan, Majelis Tabligh memperoleh dukungan anggaran sekitar Rp1,1 miliar pada tahun 2026, yang bersumber dari Lazismu, anggaran rutin PP Muhammadiyah, serta dukungan eksternal. Dana tersebut diharapkan dapat dikelola secara amanah, efektif, dan efisien untuk memastikan seluruh program berjalan optimal.
Menutup sambutannya, Kiyai Fathurrahman Kamal menyampaikan apresiasi kepada seluruh pimpinan dan pengurus atas dedikasi yang telah diberikan, seraya memohon maaf atas segala kekurangan selama menjalankan amanah kepemimpinan. Ia berharap seluruh ikhtiar yang dilakukan menjadi bagian dari amal ibadah yang diridhai Allah SWT. (Indra)
