BANTUL, Suara Muhammadiyah — Di sebuah ruang seni yang hening di Kiniko Artspace, Yogyakarta, malam itu tidak sekadar menghadirkan peristiwa budaya. Ia menjadi ruang batin—tempat refleksi kolektif tentang arah bangsa, sekaligus momentum untuk membaca kembali warisan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif sebagai “suluh” yang menuntun kehidupan publik.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, hadir bukan hanya sebagai pejabat negara, melainkan sebagai saksi hidup dari kedekatan intelektual dan personal dengan Buya Syafii Maarif. Pengalaman itu menjadi titik pijak refleksi yang ia bagikan di hadapan para hadirin.
Dalam pidatonya, Fajar mengisahkan masa ketika dirinya menjabat sebagai Direktur Eksekutif MAARIF Institute—ruang yang selama ini menjadi rumah pemikiran Buya. Di sanalah, ia tidak hanya belajar gagasan, tetapi juga menyaksikan langsung keteladanan yang bekerja dalam sunyi. “Buya tidak pernah mengajarkan dengan retorika yang menggelegar. Ia mengajarkan melalui sikap—keteguhan pada prinsip, sekaligus kelapangan dalam menerima perbedaan,” ujar Fajar.
Bagi Fajar, perjumpaan dengan Buya bukan sekadar relasi antara murid dan guru, melainkan pengalaman intelektual yang membentuk cara pandang terhadap pendidikan dan kehidupan publik. Ia mengingat bagaimana Buya selalu menempatkan agama sebagai sumber etika publik, bukan alat eksklusi; serta menegaskan bahwa keindonesiaan harus dirawat dalam keberagaman, bukan diseragamkan.
Refleksi personal itu kemudian mengalir menjadi kegelisahan yang lebih luas. Fajar menilai, Indonesia hari ini tengah menghadapi krisis keteladanan—bukan sekadar kekurangan figur, tetapi problem sistemik dalam pendidikan yang terlalu menekankan transfer pengetahuan dan mengabaikan pembentukan karakter. “Pendidikan kita berisiko kehilangan kompas moral, jika tidak ditopang oleh nilai dan keteladanan yang otentik,” ujarnya.
Ia menegaskan, warisan pemikiran Buya Syafii Maarif tetap relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Dalam kerangka pendidikan, nilai-nilai itu dapat diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama: keislaman yang mencerahkan, keindonesiaan yang menyatukan, dan kemanusiaan yang membebaskan. Ketiganya menjadi fondasi untuk membangun pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.
Kegiatan Malam Budaya pembukaan pameran seni rupa ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian “Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif (BB-ASM)” yang digagas MAARIF Institute sebagai upaya merawat dan mendiseminasikan gagasan besar Buya tentang Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh M Busyro Muqoddas (Mantan Ketua KPK), Prof. Fathul Wahid (Rektor UII) dan sejumlah seniman-perupa nasional.
Dalam konteks kebijakan, Fajar menekankan pentingnya mengembalikan pendidikan sebagai proyek kebudayaan—bukan sekadar sistem teknokratis. Sekolah, menurutnya, harus menjadi ruang perjumpaan nilai, dialog, dan refleksi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam malam kebudayaan ini. “Pendidikan bukan hanya mengasah nalar, tetapi merawat nurani,” kata Fajar.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa menjaga “suluh bangsa” tidak berarti mengawetkan sosok Buya sebagai figur yang dikultuskan. Sebaliknya, yang lebih mendesak adalah memastikan nilai-nilai yang ia hidupkan—integritas, keberanian moral, dan keberpihakan pada kemanusiaan—hadir dalam setiap ruang pendidikan.
Pada akhirnya, pesan yang mengemuka sederhana tetapi mendasar: menjaga “suluh” bukan berarti mengawetkan masa lalu, melainkan memastikan nyala nilainya tetap hidup dalam konteks hari ini.
Di tengah kecenderungan mencari figur penyelamat, pendidikan diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif—bahwa setiap warga negara adalah subjek moral yang bertanggung jawab atas arah bangsa. “Mungkin yang kita butuhkan bukan suara yang lebih keras, tetapi cahaya yang lebih jernih,” ujarnya.
Dari Yogyakarta, pesan itu terdengar jernih: jika pendidikan kehilangan nurani, maka yang hilang bukan hanya arah belajar, tetapi arah bangsa.[]

