Mariyatul Kiftiyah dan Jalan Panjang Pengabdian Aisyiyah Kota Bogor

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
65
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

KOTA BOGOR, Suara Muhammadiyah - Berjilbab kuning muda, gamis hitam yang sederhana, kacamata bertengger rapi di wajahnya. Tutur katanya runtut, tenang, dan bernas. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Mariyatul Kiftiyah seolah telah melalui proses berpikir panjang—bukan sekadar retorika, tetapi refleksi pengalaman hidup yang ditempa puluhan tahun dalam dunia persyarikatan.

Mariyatul Kiftiyah, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Aisyiyah Kota Bogor. Bagi dirinya, Aisyiyah dan Muhammadiyah bukan sekadar organisasi. Keduanya adalah kampus berjalan, ruang belajar yang tak pernah selesai, dan medan pengabdian yang tak mengenal kata pensiun.

Mariyatul Kiftiyah tidak “masuk” Muhammadiyah—ia lahir di dalamnya. Sejak kecil, ia sudah diperkenalkan pada denyut nadi Aisyiyah dan Muhammadiyah. Lingkungan keluarga menjadi sekolah pertama, tempat nilai-nilai keislaman berkemajuan ditanamkan bukan lewat ceramah, tetapi lewat teladan.

Keluarganya adalah aktivis Muhammadiyah dan Aisyiyah. Diskusi keagamaan, aktivitas sosial, hingga urusan umat adalah percakapan sehari-hari di rumah. Dari situlah tumbuh keyakinan yang mengendap kuat dalam dirinya: berislam bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga kerja sosial dan keberpihakan pada kemanusiaan.

Tak berlebihan jika ia menyebut, “Darah saya Muhammadiyah.” Sebab yang mengalir dalam hidupnya bukan sekadar afiliasi organisasi, melainkan nilai, cara berpikir, dan etos perjuangan.

Bagi Mariyatul Kiftiyah, Aisyiyah dan Muhammadiyah adalah universitas kehidupan. Tak ada wisuda, tak ada gelar akhir. Yang ada hanya proses belajar yang terus berjalan.

Ia menyebut Aisyiyah sebagai “kampus berjalan”, tempat setiap kader belajar tentang tauhid sosial, keadilan lingkungan, kemanusiaan, dan keberpihakan pada yang lemah. Di situlah teori diuji oleh realitas, dan idealisme diuji oleh kerja lapangan.

Tak heran jika ia dikenal aktif mengikuti kajian tarjih Muhammadiyah di kantor PDM Kota Bogor. Meski usia tak lagi muda, semangat belajarnya tetap menyala. Baginya, memahami tarjih bukan sekadar memperdalam fiqh, tetapi memperkuat landasan berpikir dalam menghadapi persoalan umat dan kebangsaan yang terus berubah.

Sebagai Ketua LLHPB Aisyiyah Kota Bogor, Mariyatul Kiftiyah berada di garis depan isu lingkungan hidup dan penanggulangan bencana—dua persoalan yang kerap dianggap teknis, tetapi sesungguhnya sangat ideologis.

Baginya, merawat lingkungan adalah bagian dari iman. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan, dan mengabaikannya sama saja dengan mengkhianati amanah sebagai khalifah di bumi.

Dalam berbagai kegiatan, ia kerap menekankan bahwa perempuan Aisyiyah bukan hanya pendamping, tetapi aktor utama perubahan. Edukasi lingkungan, kesiapsiagaan bencana, hingga advokasi masyarakat dilakukan dengan pendekatan persuasif, berkelanjutan, dan membumi.

Ada satu pemandangan yang kerap ditemui oleh rekan-rekan persyarikatan: Mariyatul Kiftiyah datang sendiri mengendarai motor. Hujan bukan alasan. Jarak bukan penghalang. Selama ada kegiatan Muhammadiyah dan Aisyiyah, ia akan berusaha hadir.

Motor baginya bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol kemandirian dan kesungguhan. Di usia yang oleh sebagian orang dijadikan alasan untuk mengurangi aktivitas, ia justru terus bergerak.

“Kalau masih diberi kesehatan, berarti masih ada amanah,” begitu prinsip hidupnya.

Mariyatul Kiftiyah bukan tipe aktivis yang gemar tampil di panggung sorotan. Ia lebih memilih bekerja dalam senyap, namun konsisten. Ia tidak berbicara lantang, tetapi kata-katanya selalu tepat sasaran.

Sikapnya mencerminkan karakter khas kader Aisyiyah: tegas tanpa keras, lembut tanpa kehilangan prinsip. Ia tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap, tetapi juga tidak ragu ketika kebenaran harus ditegakkan.

Di tengah zaman yang serba cepat, instan, dan sering kali dangkal, sosok Mariyatul Kiftiyah hadir sebagai pengingat bahwa pengabdian adalah soal ketekunan, bukan popularitas.

Ia menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk terus belajar, bergerak, dan memberi manfaat. Bahwa perempuan bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek utama perubahan sosial.

Dan bahwa Muhammadiyah serta Aisyiyah bukan sekadar organisasi tua, melainkan arus pemikiran dan gerakan yang hidup di tubuh kader-kadernya.

Selama masih ada jalan yang bisa ditempuh—meski harus dengan motor di bawah hujan—selama masih ada umat yang perlu disentuh, dan lingkungan yang perlu dijaga, langkah Mariyatul Kiftiyah akan terus berjalan.

Karena baginya, hidup adalah pengabdian. Dan pengabdian adalah jalan pulang menuju Allah.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - SD MBS Prambanan menggelar Ajang kreasi dan prestasi anak ke 9 (AKIRA #....

Suara Muhammadiyah

24 December 2023

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - FORTASI atau Forum Ta'aruf dan Orientasi Siswi merupakan ajang bes....

Suara Muhammadiyah

20 July 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah meray....

Suara Muhammadiyah

19 June 2024

Berita

WAJO, Suara Muhammadiyah - Bupati Wajo Amran Mahmud mengaku dirinya banyak belajar dari Majelis Pemb....

Suara Muhammadiyah

7 October 2023

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka ingin memberi edukasi tentang pelaksanaan penyeleng....

Suara Muhammadiyah

25 July 2025