MBG dan Kaidah Usul Fikih: Dar'ul Mafasid Muqaddamun 'Ala Jalbil Mashalih

Suara Muhammadiyah

2 May 2026

1285
Deni Asy’ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

Deni Asy’ari, MA., Dt Marajo. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Deni Asy'ari, Direktur Utama PT SCM/Suara Muhammadiyah menyoroti kondisi ekonomi global yang dinilainya sedang tidak baik-baik saja. Hal itu ia sampaikan dalam rapat rutin awal bulan Suara Muhammadiyah pada Sabtu (2/5).

Menurutnya, salah satu pemicu kondisi tersebut adalah konflik geopolitik, termasuk perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran. Dampaknya, harga berbagai komoditas mengalami kenaikan secara signifikan di banyak negara.

“Ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik global berdampak langsung pada kenaikan harga bahan, dan itu kita rasakan bersama,” ujar Deni.

Ia menjelaskan, Indonesia tidak luput dari dampak tersebut. Kenaikan harga bahan baku seperti plastik dan kertas turut memengaruhi sektor industri dan menekan daya beli masyarakat. Kondisi ini pada akhirnya berimbas pada penurunan omzet di berbagai perusahaan, termasuk Suara Muhammadiyah.

Deni menambahkan, dalam situasi seperti ini, langkah efisiensi menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Ia mendorong adanya penghematan anggaran serta pengelolaan fasilitas kantor secara lebih bijak, seperti mengurangi penggunaan listrik dan air serta membiasakan gaya hidup hemat energi.

“Efisiensi itu bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Kita harus mulai dari hal-hal sederhana,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Deni juga mengkritisi kebijakan pemerintah terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, meskipun program tersebut memiliki tujuan baik, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional saat ini.

Ia menilai, pengurangan pelaksanaan MBG menjadi empat hari dalam sepekan menunjukkan bahwa pemerintah mulai menyadari pentingnya efisiensi. Namun, ia mempertanyakan apakah manfaat program tersebut sudah sebanding dengan beban yang ditanggung negara.

“MBG itu baik, tapi kita harus jujur bertanya: apakah manfaatnya saat ini benar-benar sebanding dengan prioritas bangsa?” ujarnya.

Deni menegaskan, dalam situasi yang serba terbatas, pengambilan kebijakan seharusnya berlandaskan prinsip kehati-hatian. Ia merujuk pada kaidah Dar'ul Mafasid Muqaddamun 'Ala Jalbil Mashalih yang berarti menolak kerusakan atau kemudaratan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat.

Kaidah tersebut, lanjutnya, pernah menjadi rujukan penting bagi Muhammadiyah pada masa pandemi COVID-19. Saat itu, berbagai aktivitas ibadah berjamaah dibatasi demi mencegah penyebaran virus.

"Jika memang tidak mengganggu aspek prioritas bangsa, mungkin tidak jadi soal, tapi kalau ini mengangggu di tengah langkah efesiensi dan krisis bangsa, mungkin kaidah ushul ini bisa menjadi pertimbangan,” terang Deni

“Dulu kita berani mengambil keputusan besar demi mencegah mudarat. Prinsip itu mestinya juga relevan dalam melihat kebijakan hari ini,” pungkasnya. (gsh).


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) menyelenggarakan Sid....

Suara Muhammadiyah

23 December 2023

Berita

KOTABUMI, Suara Muhammadiyah - Lembaga pengembangan Cabang, Ranting, dan pembinaan Masjid (LPCRPM) P....

Suara Muhammadiyah

23 October 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora (FSH) Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

22 May 2026

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini mengata....

Suara Muhammadiyah

23 February 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menjelang kompetisi Piala Soeratin yang serentak dilaksanakan di se....

Suara Muhammadiyah

11 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah