YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Manusia tiada pernah terlepas dari cengkeraman dosa. "Memang dosa itu berat," tegas Nur Kholis, Anggota Bidang Kajian Al-Qur’an dan Hadis Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Karenanya, Nur, menyebut, bulan puasa Ramadhan menjadi ruang pereduksian gumpalan dosa yang membelit jiwa. Dosa-dosa kita dihapus," sebutnya.
Maknanya kemudian, derap langkah manusia mengembara di belantara kehidupan semakin ringan. Dan, tidak ada lagi bayang-bayang kecemasan dan kebimbangan yang menggelayutinya.
"Karena hati kita sudah lepas dari beban berat," beber Nur, Sabtu (11/4) saat Syawalan dan Mangayubagyo Jamaah Calon Haji Keluarga Besar Muhammadiyah Kota Yogyakarta di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Di samping itu, juga diperkuat dengan kemampuan prosesor manusia dalam membuka jendela maaf kepada sesama. Hal ini memiliki implikasi terhadap syawalan, yang telah melembaga di kehidupan masyarakat sehari-hari.
Tapi ternyata, ada alasan estimasi di permukaan yang tidak dapat dinafikan. Bahwa proses memaafkan itu mudah.
"Belum tentu yang bilang enggak apa-apa itu memaafkan, belum tentu. Butuh proses panjang," beber Wakil Rektor Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta itu.
Di samping itu, juga membutuhkan kerelaan hati. Sebab, ditemukan di lapangan kehidupan, kalau ada orang yang memberi maaf karena keterpaksaan.
"Karena tidak ada kerelaan di situ," tuturnya.
Karenanya, konteks memaafkan ini mesti menyelaraskan variabel kerelaan dan ketulusan. Dari sinilah kemudian, terjadi transformasi kepribadian yang lebih baik, pelan tapi pasti.
"Kalau perubahan sikapnya enggak ada, berarti kita masing-masing belum memaafkan," tegasnya, mengaksentuasikan terjadinya peluruhan rasa benci kepada orang lain.
"Kalau unsur ini sudah ada, yakinlah Bapak Ibu memang sudah menjadi orang yang pemaaf. Tapi kalau tidak, ya selamanya ini akan menjadi legitimasi semata-mata," jelasnya.
Sebab, proses memaafkan betul-betul terejawantah dengan berpokok pangkal pada Ranah kognitif, akal menerima dan memaklumi.
"Butuh proses untuk bisa menerima dan memaklumi atas kesalahan orang lain," urainya.
Kemudian, ranah afektif, batin betul-betul memaafkan. "Pastikan hati kita sudah memaafkan," tekannya. Yang diperkuat lagi dengan aspek behavior psikomotorik.
Yakni pantulan perilaku yang memang menunjukkan seseorang sudah benar-benar memaafkan.
"Kita sampaikan saya maafkan, berjabat tangan, ajak ngobrol sudah biasa lagi. Kalau di belakang dia, kita sudah nggak ngerasani lagi. Nah, kalau semua unsur itu sudah ada, maka kita berarti memang sudah memaafkan," tandasnya. (Cris)
