Membangun Kader Melampaui Sekat Ortom

Suara Muhammadiyah

27 June 2026

98
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Membangun Kader Melampaui Sekat Ortom

Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY)

Perkaderan merupakan urat nadi Muhammadiyah. Selama lebih dari satu abad, Persyarikatan mampu bertahan dan berkembang karena tidak pernah berhenti melahirkan kader-kader yang siap menggerakkan dakwah Islam berkemajuan. Tugas besar itu tidak hanya dipikul oleh sekolah, perguruan tinggi, atau pengajian. Organisasi otonom (ortom) juga menjadi pilar penting dalam proses pembentukan kader.

Namun dinamika zaman menghadirkan tantangan baru. Masing-masing ortom kini berkembang semakin profesional sesuai bidang garapnya. Kondisi ini tentu merupakan kemajuan, tetapi pada saat yang sama melahirkan konsekuensi semakin besar perhatian ortom pada bidang spesialisasinya, semakin besar pula risiko berkurangnya ruang untuk membangun pengalaman kader yang lebih utuh.

Tapak Suci : Dulu dan Kini

Perkembangan dunia olahraga telah mendorong pencak silat menjadi bagian dari industri olahraga nasional. Hampir setiap pekan terselenggara berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat pelajar, mahasiswa, hingga kategori umum. Kompetisi hadir dalam beragam level sehingga menuntut setiap perguruan melakukan pembinaan prestasi secara lebih profesional.

Bagi Tapak Suci, perkembangan tersebut membawa banyak dampak positif. Semakin banyak atlet lahir, semakin banyak prestasi diraih, dan semakin luas pengakuan masyarakat terhadap kualitas pembinaan perguruan. Prestasi adalah bagian penting dari syiar.

Namun di balik keberhasilan itu, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Kesibukan mengejar prestasi sering kali menyita hampir seluruh energi organisasi.

Latihan semakin intensif, jadwal pertandingan semakin padat, dan perhatian pengurus banyak terserap pada pembinaan atlet. Akibatnya, ruang untuk menginternalisasikan kecintaan anggota terhadap Muhammadiyah menjadi semakin terbatas.

Situasi ini berbeda dengan beberapa dekade yang lalu. Ketika kejuaraan pencak silat belum sebanyak sekarang, anggota Tapak Suci memiliki ruang yang lebih longgar untuk mengikuti berbagai aktivitas Angkatan Muda Muhammadiyah.

Banyak pesilat tumbuh melalui pengalaman berproses bersama Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, maupun kegiatan Persyarikatan lainnya. Pengalaman lintas organisasi itulah yang memperkaya wawasan dan memperkuat loyalitas mereka kepada Muhammadiyah.

Hari ini tantangannya berbeda. Karena itu, strategi perkaderannya pun tidak bisa lagi sama. Menurut saya, sudah saatnya Muhammadiyah membangun model perkaderan kolaboratif.

Tidak ada satu ortom pun yang mampu membentuk kader Muhammadiyah secara utuh sendirian. Setiap ortom memiliki keunggulan masing-masing. Keunggulan-keunggulan itulah yang harus dipertemukan sehingga saling melengkapi.

Tapak Suci, misalnya, memiliki kekuatan luar biasa dalam menghimpun anak-anak muda. Di Kabupaten Bantul saja terdapat sekitar 80 cabang latihan yang tersebar di sekolah dasar, SMP, SMA, SMK, perguruan tinggi, pesantren, dan masyarakat umum. Ribuan siswa berlatih secara rutin dengan semangat yang tinggi.

Energi besar ini sesungguhnya merupakan peluang bagi seluruh elemen Muhammadiyah. Majelis Lingkungan Hidup (MLH), misalnya, dapat menjadikan kegiatan Tapak Suci sebagai ruang pendidikan ekologis.

Bayangkan apabila setiap Ujian Kenaikan Tingkat siswa disertai gerakan penanaman pohon atau konservasi lahan. Dalam satu kegiatan, Tapak Suci tetap menjalankan proses pembinaan pencak silat, sementara MLH menanamkan kesadaran menjaga lingkungan. Anak-anak tidak hanya naik tingkat sebagai pesilat, tetapi juga tumbuh sebagai kader Muhammadiyah yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.

Demikian pula dengan Lembaga Resiliensi Bencana atau MDMC. Tapak Suci memiliki banyak anggota muda dengan kondisi fisik yang prima, disiplin, dan terbiasa bekerja dalam tim. Potensi ini sangat strategis apabila dibina secara berkelanjutan sebagai relawan kemanusiaan.

Di Bantul terdapat tiga cabang latihan perguruan tinggi, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, dan STIKES Surya Global. Ditambah para atlet remaja dan dewasa yang tersebar di 17 kapanewon, sesungguhnya tersedia modal sosial yang sangat besar untuk memperkuat relawan Muhammadiyah.

Yang diperlukan bukanlah mobilisasi sesaat, melainkan pembinaan yang terencana. Saya membayangkan MDMC Bantul menyelenggarakan latihan relawan secara berkala, misalnya setiap tiga bulan sekali, dengan melibatkan unsur Tapak Suci.

Mereka dibekali kemampuan dasar pencarian dan penyelamatan, pertolongan pertama, manajemen posko, logistik, komunikasi lapangan, hingga pelayanan psikososial sesuai kebutuhan. Melalui proses itu, anggota Tapak Suci tidak hanya berlatih menjadi pesilat, tetapi juga belajar menjadi pelayan kemanusiaan.

Di sisi lain, MDMC juga memperoleh manfaat besar. Ketika terjadi bencana berskala besar, Muhammadiyah telah memiliki cadangan relawan muda yang terlatih, disiplin, dan siap diterjunkan kapan pun dibutuhkan.

MLH dan MDMC hanya dua contoh yang paling mudah diwujudkan karena memiliki irisan program yang kuat dengan karakter pembinaan Tapak Suci. Di masa mendatang, pola kolaborasi serupa dapat dikembangkan bersama majelis, lembaga, maupun organisasi otonom lainnya sesuai bidang garap masing-masing.

Hakikat Kolaborasi

Setiap elemen tetap menjalankan fungsi utamanya, tetapi pada saat yang sama saling memperkuat proses perkaderan Persyarikatan. Sarasehan Organisasi Otonom Muhammadiyah di Bukit Lintang Songo, Dlingo, menjadi momentum yang tepat untuk membangun kesadaran tersebut.

Perkaderan Muhammadiyah tidak boleh lagi dipahami sebagai pekerjaan masing-masing ortom. Melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen Persyarikatan.

Tapak Suci tidak kehilangan identitasnya sebagai perguruan pencak silat. MLH tetap menjalankan gerakan lingkungan. MDMC tetap menjadi garda depan pelayanan kemanusiaan. Namun ketika ketiganya saling beririsan dalam ruang pembinaan yang sama, proses kaderisasi menjadi jauh lebih kaya.

Muhammadiyah telah membuktikan selama lebih dari satu abad bahwa kekuatan Persyarikatan lahir dari semangat berjamaah. Semangat itu pula yang perlu diterjemahkan dalam model perkaderan hari ini.

Kolaborasi bukan sekadar kerja bersama untuk menyukseskan sebuah program, melainkan cara membangun kader yang lebih utuh, lebih tangguh, dan lebih mencintai Muhammadiyah. Sebab pada akhirnya, yang sedang kita bangun bukanlah kebesaran masing-masing ortom, melainkan masa depan Persyarikatan.

Dan masa depan itu akan semakin kokoh apabila setiap ortom tidak hanya menjadi pelaksana programnya sendiri, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam melahirkan kader-kader Muhammadiyah yang siap menjadi penggerak, pelangsung, pelopor, dan penyempurna gerakan Persyarikatan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Rusydi Umar, Dosen S3 Informatika UAD, Anggota MPI PP Muhammadiyah 2015-2022 Beberapa waktu l....

Suara Muhammadiyah

30 June 2025

Wawasan

Catatan Milad ke-112 Muhammadiyah Sulawesi Selatan: Terima Kasih Pangkep! Oleh: Haidir Fitra Siagia....

Suara Muhammadiyah

1 January 2025

Wawasan

Perluasan Jaringan Logmart: Menghidupkan Roda Ekonomi Sumatra Menjelang Muktamar 2027 Oleh: Bayu Ma....

Suara Muhammadiyah

11 September 2025

Wawasan

Ketika Diplomasi Menjadi Narasi, dan Fiskal Menjadi Korban Oleh: Ijang Faisal, Kepala LPPM Universi....

Suara Muhammadiyah

29 January 2026

Wawasan

Antara das Sein dan das Sollen Pendidikan Karakter pada Era Reformasi Oleh: Mohammad Fakhrudin, War....

Suara Muhammadiyah

8 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah