YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Gagasan tentang kapitalisme religius sebagai strategi kebangkitan peradaban Islam mengemuka dalam bedah buku karya Dr. Suwarsono Muhammad, M.A. berjudul "Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan" yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (3/6). Melalui buku tersebut, Suwarsono menawarkan perspektif baru dalam membaca dinamika peradaban Islam di tengah perubahan lanskap global.
Dalam pemaparannya, Suwarsono mengkritisi dominasi sosialisme religius yang selama ini banyak dijadikan strategi pembangunan oleh negara-negara Islam. Menurutnya, pilihan tersebut merupakan produk historis dari era pascakolonial sekitar tahun 1945, ketika dunia berada dalam konfigurasi bipolar dan sosialisme menjadi ideologi yang dominan di negara-negara berkembang.
“Kalau ditanya strategi yang dipakai negara-negara Islam dalam membangun kembali peradabannya, jawabannya selama ini adalah sosialisme atau sosialisme religius. Itulah pendekatan yang dominan,” ujar Suwarsono.
Namun, ia menilai strategi tersebut tidak lagi sepenuhnya relevan dengan perkembangan global saat ini. Dalam bukunya, Suwarsono mengaitkan gagasan tersebut dengan dua peristiwa besar yang menurutnya mengubah arah peradaban dunia, yakni melemahnya hegemoni Amerika Serikat dan bangkitnya China sebagai kekuatan ekonomi global dalam kurun waktu kurang dari empat dekade sejak era reformasi ekonomi Deng Xiaoping.
Berangkat dari pembacaan atas perubahan geopolitik tersebut, Suwarsono mengajukan tesis bahwa kapitalisme religius merupakan alternatif yang lebih historis sekaligus relevan bagi dunia Islam saat ini.
Ia menelusuri akar kapitalisme dalam sejarah peradaban Islam melalui beberapa fase perkembangan ekonomi. Menurutnya, praktik kapitalisme telah hadir jauh sebelum Islam melalui jaringan perdagangan yang berkembang di kawasan Timur Tengah.
“Fase pertama adalah kapitalisme perdagangan pra-Islam yang ditandai oleh keberadaan kota-kota perdagangan seperti Petra dan Palmyra sebagai pusat jalur dagang Nabatea. Setelah Islam hadir, praktik ekonomi tersebut bertransformasi menjadi kapitalisme negara melalui berbagai bentuk intervensi religius dalam aktivitas ekonomi,” jelasnya.
Salah satu contoh yang dikemukakan adalah praktik mudharabah atau sistem bagi hasil yang telah dikenal sebelum Islam. Sistem tersebut kemudian dipertahankan karena dianggap selaras dengan nilai-nilai Islam, meskipun mengalami berbagai penyesuaian dalam penerapannya.
Melalui pendekatan historis tersebut, Suwarsono berupaya menunjukkan bahwa kapitalisme dan nilai-nilai agama tidak selalu berada dalam posisi yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berinteraksi dan membentuk model ekonomi yang khas dalam peradaban Islam.
Dalam buku setebal 375 halaman tersebut, Suwarsono menganalisis peluang sekaligus strategi kebangkitan peradaban Islam di masa depan. Ia mengambil sudut pandang yang optimistis dengan menekankan pentingnya kemampuan umat Islam untuk membangun sistem ekonomi, sosial, dan intelektual yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Selain membahas konsep kapitalisme religius, buku tersebut juga menguraikan definisi peradaban melalui dua elemen utama, yakni world vision (pandangan dunia) dan historical system (sistem historis). Berdasarkan kerangka tersebut, Suwarsono menawarkan sejumlah strategi kebangkitan, antara lain komunalisme, produktivisme, universalisme, serta kemandirian ilmu pengetahuan.
Menurutnya, kebangkitan peradaban tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan suatu masyarakat membangun visi peradaban yang kuat dan sistem pengetahuan yang mandiri.
Bedah buku ini turut menghadirkan dua pembedah, yakni Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., dari UMY dan Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D., dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi akademik mengenai arah perkembangan dunia Islam di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Tiga Pilar Utama
Zuly Qodir mengungkapkan bahwa kebangkitan peradaban Islam dinilai membutuhkan tiga pilar utama yang harus hadir secara bersamaan, yakni perkembangan ilmu pengetahuan yang ditopang oleh ulama dan cendekiawan independen, jaringan perdagangan global yang kuat, serta pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik kongkalikong antara negara, pengusaha, dan militer.
Menurut Zuly, ketiga pilar tersebut merupakan prasyarat konkret yang selama ini sering terabaikan dalam wacana kebangkitan peradaban Islam. Salah satu persoalan paling mendasar yang dihadapi dunia Islam saat ini adalah menurunnya independensi ulama dan cendekiawan dalam menjalankan peran intelektualnya.
“Tidak adanya ulama dan cendekiawan yang benar-benar independen menjadi salah satu problem internal yang serius. Padahal, kemajuan peradaban selalu ditopang oleh tradisi ilmu pengetahuan yang bebas, kritis, dan produktif,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Zuly menjelaskan bahwa kemunduran peradaban Islam berlangsung pada tiga level sekaligus, yaitu teoritik, internal, dan eksternal.
Pada level teoritik, persoalan tersebut berkaitan dengan siklus peradaban yang bersifat konjungtural dan struktural. Sementara pada level internal, tantangan yang dihadapi meliputi rendahnya produktivitas, sikap partisan di kalangan ulama dan cendekiawan, serta tumbuhnya budaya kemewahan di kalangan elite politik dan kelompok borjuis.
“Secara teoritik, ini berkaitan dengan siklus peradaban yang bersifat konjungtural dan struktural. Secara internal, masalahnya mencakup sikap tidak produktif, ulama dan cendekiawan yang partisan, serta kemewahan berlebihan di kalangan penguasa dan borjuasi,” jelas Zuly.
Adapun pada level eksternal, faktor perang, kolonialisme, dan dominasi kekuatan global turut memperburuk kondisi dunia Islam. Namun demikian, Zuly menegaskan bahwa faktor internal tetap menjadi penyebab yang lebih menentukan dibandingkan tekanan dari luar.
Berdasarkan pembacaannya terhadap buku karya Suwarsono Muhammad, Zuly menilai terdapat dua kontribusi utama yang ditawarkan, baik secara teoritis maupun praktis.
Dari sisi teoritis, buku tersebut dinilai berhasil membangun kembali kesadaran mengenai teori peradaban sekaligus menawarkan perspektif yang lebih optimistis melalui pendekatan positivistik-konstruktif. Perspektif ini menjadi alternatif terhadap cara pandang pesimistis yang selama ini mendominasi diskursus kemunduran dunia Islam.
Sementara dari sisi praktis, Zuly menegaskan bahwa kebangkitan peradaban Islam tidak dapat dicapai melalui konfrontasi dengan peradaban lain, melainkan melalui kerja sama, dialog, dan kolaborasi lintas peradaban.
Ia juga menyoroti pentingnya membebaskan diri dari mentalitas terjajah sebagai langkah awal menuju kebangkitan.
“Buku Suwarsono memberikan harapan baru bagi pembangunan peradaban Islam. Namun, gagasan kapitalisme religius tetap membutuhkan kajian lanjutan yang lebih empiris. Konsep ini perlu diuji dan dibuktikan di lapangan oleh para ilmuwan sosial, humaniora, maupun sains dan teknologi agar tidak berhenti sebagai wacana intelektual semata,” pungkasnya.
Melalui gagasan tersebut, Zuly melihat adanya peluang untuk membangun kembali optimisme umat Islam dalam menghadapi tantangan global, dengan menjadikan ilmu pengetahuan, kekuatan ekonomi, dan tata kelola pemerintahan yang bersih sebagai fondasi utama kebangkitan peradaban di masa depan. (ID)

