Memutus Rantai Krisis Sampah Ala MBS Yogyakarta

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
120
TPS Mandiri PPM MBS Yogyakarta di Prambanan. Foto Dok SM

TPS Mandiri PPM MBS Yogyakarta di Prambanan. Foto Dok SM

Bau menyengat gas metan itu pernah merajai udara dalam radius tujuh kilometer, menembus setiap celah ventilasi rumah warga di sekitar TPST Piyungan. Di sana, gumpalan debu tebal disapu deru truk yang mengular, mengantarkan 630 ton beban harian menuju "gunung" setinggi 136 meter yang kini telah melampaui batas kapasitasnya. Namun, tak sampai jarak half marathon ke arah timur laut, di lereng Prambanan, sebuah oase kemandirian sedang dibangun oleh Pondok Pesantren Modern (PPM) Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta untuk memastikan tragedi lingkungan tersebut tidak terus berulang.

Bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang merupakan Ibu Kota Muhammadiyah, penutupan TPST Piyungan merupakan alarm bahaya. "Kita mau tidak mau kebingungan buang sampah. Akhirnya kita bismillah punya pengolahan sendiri," kenang Ustadz Nuh Ats Tsani Al Khamidi, Kepala Seksi Kebersihan dan Pertamanan MBS Yogyakarta kepada Suara Muhammadiyah, pertengahan April 2026. Di tengah kepungan masalah sampah Sleman yang overload, MBS memilih untuk tidak menjadi beban, melainkan bagian dari solusi.

Setiap harinya, kompleks pesantren yang menampung sekitar 2.500 santri mukim dan 540 santri SD santri ini menghasilkan sekitar satu ton sampah setara dengan satu truk penuh. Jika dibiarkan, tumpukan itu akan menjadi bom waktu. Namun, kini suara gemuruh mesin pengolah sampah menjadi musik harian di area pengelolaan mandiri pesantren. Di sini, sampah tidak sekadar dibuang, tapi dipilah antara organik dan anorganik menggunakan mesin tersendiri dengan ketelitian yang terus disempurnakan.

Pimpinan MBS Yogyakarta Ustadz Didik Riyanta mengungkapkan, sebelum TPS Piyungan resmi ditutup, MBS telah bergerak lebih awal. "Kami menyiapkan pelatihan-pelatihan pilah sampah untuk santri, guru, hingga karyawan dengan menghadirkan pemateri ahli," kenang Ustadz Didik. Langkah ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan perwujudan dari Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) yang menegaskan bahwa lingkungan hidup adalah anugerah Allah yang harus dipelihara dan tidak boleh dirusak. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-A'raf: 56 yang melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.

Berjalan menuju area pengelolaan sampah MBS, telinga akan menangkap deru mesin penggiling yang memecah kesunyian. Di sana, sampah tidak lagi dipandang sebagai kotoran yang menjijikkan. Mata kita akan melihat pemandangan yang rapi, botol-botol plastik dikelompokkan tersendiri, sementara sampah organik menumpuk menunggu waktu menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanah.

Salah satu inovasi teknologi di sini adalah alat pembakaran sampah (insinerator) yang telah dimodifikasi. "Dulu kami sempat didemo warga karena asapnya hitam," tutur salah satu pendiri MBS Yogyakarta yang mulai berdiri tahun 2008 itu. Namun, melalui riset panjang dan kerja sama dengan pihak ketiga, kini hanya asap putih bersih yang menari keluar dari cerobongnya. Asap tersebut telah melalui proses penyaringan dan penyemprotan air di dalam kolam khusus sehingga aman bagi lingkungan. Hasil pembakarannya pun sangat lembut, bahkan bertahun-tahun sisa pembakaran itu jika dikumpulkan tidak sampai memenuhi tiga truk karena langsung membaur dengan tanah.

Santri MBS Yogyakarta tertib menjaga lingkungan dan mengurangi sampah. Foto Dok Riz/SM

Mengubah perilaku ribuan santri bukanlah perkara mudah. Ustadz Didik menceritakan tantangan terbesar adalah edukasi yang harus dilakukan secara terus-menerus. Edukasi ini terintegrasi dalam kurikulum, mulai dari pelajaran Hadits hingga kajian rutin Senin dan Kamis. Para santri diajarkan bahwa kebersihan bukan sekadar estetika, tapi bagian dari iman. PHIWM menekankan bahwa setiap Muslim wajib melakukan konservasi sumber daya alam dan ekosistem demi keselamatan manusia dan keseimbangan alam raya (QS. Al-Maidah: 33).

MBS Yogyakarta tidak berhenti pada pengelolaan. Visi ke depannya adalah meminimalisir sampah dari hulu. "Kami berpikir bagaimana jajanan di koperasi tidak lagi menggunakan bahan plastik sekali pakai," ujar Ustadz Didik mantap. Ini adalah langkah nyata dari tindakan amar ma'ruf nahi munkar terhadap kebijakan yang berpotensi merusak lingkungan serta tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa.

Menjemput Bola Sebelum Krisis

Syahdan, gemericik air menemani syahdu para santri belajar di gazebo-gazebo yang teduh. Ikan-ikan berenang riang bagai untaian tasbih di antara dzikir para santri. Aroma tanah basah dan udara segar perbukitan menambah semangat santri dalam belajar dan merangkai cita-cita. Jika pengelolaan sampah padat adalah tentang pemilahan, maka pengelolaan limbah cair di MBS adalah tentang pemulihan kehidupan. Terdapat sebuah sistem yang menjadi ginjal bagi pesantren MBS yaitu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Seluruh air yang berasal dari aktivitas harian ribuan santri di asrama mulai dari air bekas mandi hingga sisa sabun dialirkan menuju satu titik pusat pengolahan.

Proses penjernihan ini melibatkan rute yang panjang dan kompleks. Di dalam instalasi tersebut, air harus melewati berbagai sekat-sekat penyaring yang berfungsi secara bertahap untuk mensterilkan zat kimia dan kotoran. "IPAL ini berfungsi untuk mensterilkan limbah-limbah dari air sabun dan kamar mandi. Banyak sekat di sini yang berfungsi menjernihkan air," urai Ustadz Nuh.

Keberhasilan teknologi ini bisa dilihat langsung dengan mata telanjang di ujung saluran pembuangan. Air yang dulunya keruh dan penuh busa sabun, keluar dalam kondisi yang jernih dan segar. Bukti paling otentik dari keberhasilan ini adalah kolam-kolam di area tersebut yang kini menjadi habitat bagi ikan-ikan yang berenang bebas.

Perubahan dari air limbah yang mematikan menjadi air yang mampu mendukung kehidupan makhluk lain adalah simbol kesuksesan MBS dalam menjaga ekosistem. "Ketika keluar sudah jernih dan bisa untuk kehidupan makhluk air seperti ikan, itu berarti kita sudah berhasil mengubah yang tadinya tidak ada kehidupan menjadi ada," tegas Ustadz Nuh dengan optimis. 

Di sisi lain, pengelolaan sampah bukanlah kurikulum di atas kertas, melainkan sebuah laku hidup yang dipelopori oleh para pendidik. Ustadz Arif Yudhistira mengungkapkan bahwa konsep "Pesantren Hijau" ini merupakan gerak satu padu antara pimpinan dan guru yang telah dirintis sejak lama. Para guru memegang prinsip bahwa kesadaran santri tidak akan tumbuh hanya melalui teguran, melainkan melalui keteladanan visual.

Tong sampah dan suasana asri komplek PPM MBS Yogyakarta. Foto Dok Riz/SM

Salah satu kebijakan yang paling ditekankan adalah himbauan agar guru tidak membawa sampah dari luar ke lingkungan pesantren. Kebijakan "0% sampah dari luar" ini bertujuan untuk menjaga agar volume sampah harian tetap terkendali di angka maksimal satu ton. Dengan tidak mendatangkan sampah tambahan, para guru memberikan contoh nyata kepada ribuan santri tentang tanggung jawab terhadap ruang hidup mereka sendiri.

"Harapannya, santri dapat teladan dari guru-gurunya dulu. Setelah itu, otomatis kesadaran mereka akan terbangun," jelas guru Bahasa Inggris tersebut. Bahkan, manajemen unit usaha atau kantin di dalam pesantren pun diatur sedemikian rupa agar perputaran barang tetap terjaga dalam sistem mandiri, sehingga potensi ledakan jumlah sampah akibat konsumsi luar bisa diminimalisir.

Sementara itu, bagi para santri seperti Izazam Alfurqan Rasyid, atau yang akrab disapa Zazam, memilah sampah plastik telah menjadi rutinitas yang ia bawa hingga ke rumah. "Di pesantren kami kurangi plastik, buang sampah sesuai jenisnya, dan rajin bersihkan kamar agar tidak tercemar penyakit," tutur santri kelas 9 tersebut. Pandangannya yang bersih terhadap lingkungan asrama menjadi bukti nyata bahwa disiplin "Nurturing Faith, Morals, and Knowledge" terpatri dalam dada setiap santri.

Kemandirian ini membawa angin segar secara harfiah bagi warga sekitar. Babeh, warga yang tinggal tepat di sisi selatan pesantren, merasakan perubahan signifikan. Jika dulu bayang-bayang bau tak sedap menghantui, kini ia merasa lebih nyaman. "Sudah lebih baik, tidak begitu mengganggu masyarakat sekitarnya," ungkapnya dengan nada penuh harap. Tentu saja agar pengelolaan ini terus ditingkatkan demi kenyamanan bersama.

Langkah konkrit MBS Yogyakarta ini sejalan dengan Gerakan 1000Cahaya yang diluncurkan oleh Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah. Program ini merupakan "Green Movement" yang bertujuan memobilisasi sekolah dan pesantren untuk beralih ke energi bersih dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Sebagaimana pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, bahwa Gerakan 1000Cahaya harus menjadi praksis nyata untuk menyelamatkan lingkungan. MBS telah memulai langkahnya. Ustadz Nuh memimpikan masa depan di mana sampah plastik pesantren bisa diolah menjadi energi, mengikuti tren teknologi ramah lingkungan yang mulai berkembang di Yogyakarta.

Langkah ini mempertegas posisi MBS sebagai salah satu simpul penting dalam Gerakan 1000Cahaya tentang kemandirian pesantren bisa menjadi solusi bagi kelestarian alam di Yogyakarta. Setiap kepulan asap putih dan setiap butir kompos adalah bukti bahwa pesantren mampu menjadi pelopor keselamatan lingkungan hidup, mengemban misi kekhalifahan di muka bumi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pengeloaan sampah mandiri “sampah hari ini selesai hari ini juga” bagi lingkungan MBS adalah ibadah, ladang amal dan inspirasi. Di tengah hiruk-pikuk krisis iklim yang membuat dunia "mendidih" ditambah pencemaran tanah, air, dan udara, pesantren Muhammadiyah sedang menyalakan satu cahayanya sendiri, memastikan bahwa masa depan santri-santrinya tidak terkubur di bawah gunung sampah. (*)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah – Untuk meningkatkan potensi dan prestasi siswa di Amal Usaha M....

Suara Muhammadiyah

1 March 2024

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Program Studi Manajemen Program Sarjana (S-1) Fakultas Ekonomi dan Bisnis....

Suara Muhammadiyah

18 August 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Yuk, saatnya mengisi Ramadan dengan pengalaman belajar yang beda dan b....

Suara Muhammadiyah

11 February 2026

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi tuan rumah rapat ko....

Suara Muhammadiyah

7 January 2026

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Ratusan warga kota Makassar menghadiri peringatan semarak milad Muham....

Suara Muhammadiyah

20 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah