Menatap Vokasi Berkemajuan: Menghadirkan Etika Profesi Pada Laboratorium SMK

Suara Muhammadiyah

11 August 2026

52
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menatap Vokasi Berkemajuan: Menghadirkan Etika Profesi Pada Laboratorium SMK

Penulis: Achmad Purtama Andana, S.Pd.I., M.Pd., Gr., Guru SMK Negeri 1 Purwokerto, Dosen Praktisi FKIP UMP, Fokal IMM Kab. Banyumas

Di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi industri telah mengubah lanskap dunia kerja secara drastis. Di tengah percepatan keterampilan teknis yang begitu masif, dunia industri justru mengetuk pintu-pintu sekolah dengan keluhan mendasar yaitu krisis integritas. Saat ini betapa mudahnya data dimanipulasi, privasi dilanggar, hingga lahirnya kecurangan-kecurangan berbasis teknologi  yang terjadi di tempat kerja.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi digital tanpa fondasi moral justru berpotensi melahirkan penyalahgunaan teknologi yang merugikan individu, organisasi, bahkan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan tidak lagi cukup berorientasi pada penguasaan hard skills semata, tetapi juga harus memastikan tumbuhnya karakter, etika dan tanggung jawab sebagai bekal utama murid dalam menghadapi transformasi dunia kerja.

Pertanyaannya, di manakah posisi Pendidikan Agama Islam (PAI) ketika para calon tenaga terampil ini dipersiapkan? Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK sering terjebak dalam pendekatan yang serba formalistik. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sering disamakan begitu saja dengan sekolah umum yaitu berfokus pada hafalan teori, fikih ibadah (ritual) serta pemenuhan nilai secara administratif. Padahal karakteristik pendidikan vokasi menuntut pembelajaran yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan budaya kerja profesional yang akan dihadapi murid.

Teaching Factory sebagai Ruang Persemaian Etika Profesi

Murid yang ada di SMK berada pada fase usia yang sangat krusial. Saat seorang murid pada kompetensi keahlian Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) diajarkan coding, tantangan moralnya bukan sekadar hafal syarat sah salat, melainkan pemahaman tentang hak cipta sampai pada batasan etis penggunaan  AI (Artificial Intelligence). Hal serupa juga ditemukan pada pada murid di kompetensi Keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV) yang telah menjadi Pusat Keunggulan DKV.

Ketika menggarap pesanan konsumen seperti pembuatan jersey, identitas visual atau kampanye media sosial dan lainnya maka pergulatan etis mereka terasa begitu nyata yaitu bagaimana menjaga keaslian karya di tengah godaan rekayasa AI (Artificial Intelligence), menghindari plagiarisme digital, hingga menolak manipulasi visual yang menyesatkan publik. Begitu pula di ruang Teaching Factory (TeFa) pada kompetensi keahlian Teknologi Farmasi (TF). Ketelitian dalam meracik dosis, kejujuran dalam menjaga standar penyimpanan obat hingga etika dalam mengedukasi konsumen bukan sekadar materi ujian teknis melainkan wujud kesalehan profesi yang berdampak langsung pada keselamatan jiwa manusia.

Demikian pula ketika murid-murid memproduksi sabun cair dan berbagai produk kesehatan lainnya di Teaching Factory, mereka tidak hanya dituntut menghasilkan produk yang layak jual, tetapi juga memegang teguh prinsip itqan (bekerja secara teliti dan berkualitas), amanah dalam penggunaan bahan, serta kejujuran dalam penyampaian informasi produk. Pada titik inilah kompetensi vokasional bertemu dengan nilai-nilai keislaman dimana setiap produk yang dihasilkan bukan hanya mencerminkan keterampilan teknis, tetapi juga tanggung jawab moral kepada konsumen dan kepada Allah Swt.

Di sinilah program SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) dan skema Teaching Factory (TeFa) menemukan urgensi spiritualnya. Teaching Factory (TeFa) bukan sekadar tempat simulasi produksi barang dan jasa, melainkan ruang persemaian karakter. Pendidikan Agama Islam tidak boleh berhenti di papan tulis selama tiga jam (3JP) pelajaran seminggu. Nilai-nilai keislaman harus masuk ke dalam SOP produksi dan layanan di Teaching Factory (TeFa). Agama hadir bukan sebagai tambahan hafalan di ruang kelas, melainkan sebagai kompas moral yang membimbing setiap keputusan professional mulai dari menghormati hak cipta dalam coding, menjaga keaslian karya desain, hingga memastikan setiap produk dan layanan kesehatan diproses sesuai standar mutu, keamanan, dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Reorientasi dan Kemandirian Belajar

Menghadirkan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang bernapas vokasi membutuhkan reorientasi strategi. Mengadopsi prinsip pembelajaran mandiri terstruktur (self directed learning) sebagaimana yang biasa diterapkan pada sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di Universitas Terbuka, guru Pendidikan Agama Islam dapat merancang ekosistem belajar yang melampaui sekat dinding kelas. Melalui pembelajaran yang berbasis proyek (Project Based Learning), murid diajak membedah dilema etika nyata di industri. 

Sebagai contoh, murid pada kompetensi keahlian Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) dapat mengembangkan aplikasi pengelolaan zakat, infak dan sedekah yang transparan atau merancang sistem informasi masjid berbasis digital sebagai proyek PAI. Murid pada kompetensi keahlian Desain Komunikasi Visual (DKV) dapat menghasilkan kampanye visual tentang etika bermedia sosial dan literasi digital Islami dengan mengedepankan orisinalitas dan tanggung jawab moral.

Sementara itu, murid pada kompetensi keahlian Teknologi Farmasi dapat mengembangkan proyek Teaching Factory berupa produk kefarmasian terstandar  atau sediaan herbal dengan menerapkan prinsip halalan thayyiban dan standar mutu. Dengan demikian, keterampilan vokasional tidak hanya berkembang secara teknis, tetapi juga menjadi wahana internalisasi nilai-nilai Islam, etika profesi dan tanggung jawab sosial secara kontekstual.

Garis tajdid Muhammadiyah yang diletakkan oleh KH. Ahmad Dahlan sejak awal tidak pernah memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum, antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial dan profesional. Rekonstruksi PAI menjadi Etika Profesi Digital adalah bentuk nyata dari Islam yang berkemajuan. Agama  selalu hadir dalam memberikan solusi konkret bagi tantangan zaman. 

Pekerja Terampil Berjiwa Tauhid

Transformasi ini sama sekali tidak mengesampingkan ibadah pokok seperti salat dan lainnya. Justru sebaliknya, ibadah menjadi fondasi spiritual yang mewarnai setiap keputusan profesional. Salat yang khusyuk semestinya melahirkan pengembang perangkat lunak yang menjunjung tinggi etika digital, desainer yang menghargai keaslian karya dan menolak manipulasi visual yang menyesatkan, serta kefarmasian yang mengutamakan ketelitian, kejujuran, dan keselamatan masyarakat dalam setiap produk maupun layanan yang dihasilkan.

Pendidikan Agama Islam harus menjadi ruh yang menghidupkan budaya kerja di setiap ruang laboratorium apalagi ketika sudah masuk ranah SMK PK dan Teaching Factory. Ketika nilai itqan, amanah, an-nasiha dan ihsan terintegrasi dalam setiap proses pembelajaran vokasional di SMK, tidak hanya melahirkan lulusan yang unggul dalam penguasaan teknologi dan siap bersaing di dunia kerja, tetapi juga menghadirkan generasi profesional yang menjadikan tauhid sebagai acuan etika dalam berkarya. Inilah ikhtiar menghadirkan pendidikan vokasi yang tidak hanya mencetak pekerja terampil, melainkan manusia yang memadukan kompetensi, integritas dan keberkahan dalam setiap profesinya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Kota 3 Kudus menggelar Musyawarah ....

Suara Muhammadiyah

4 August 2025

Berita

MADIUN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) membuka kesempatan bagi generas....

Suara Muhammadiyah

23 May 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Sekolah Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Cilacap mengadakan penandatan....

Suara Muhammadiyah

24 July 2024

Berita

BAUBAU, Suara Muhammadiyah – Ketua Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat....

Suara Muhammadiyah

11 February 2025

Berita

PULANG PISAU, Suara Muhammadiyah - Ketua Badan Pengurus Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

18 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah