Mendikdasmen RI Resmikan Gedung MBC Krembangan, Tekankan Visi Pendidikan Inklusif dan Unggul
SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan mencatatkan sejarah baru dalam dunia pendidikan dan pelayanan sosial di Kota Surabaya. Berlokasi di sepanjang jalan Dupak Bangunsari, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., meresmikan Gedung Muhlas Boarding Class (MBC) serta berbagai Program Unggulan PCM Krembangan pada Jumat (1/5/2026).
Acara silaturrahim ini dihadiri langsung oleh jajaran Pimpinan Daerah, Wali Kota Surabaya, serta tokoh masyarakat. Hadir pula anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya dr.
Zuhrotul Mar’ah Lailatusholichah. Dalam sambutannya, H. Sutikno, S.Sos, M.H., selaku Wakil Ketua PCM Krembangan Bidang Dikdasmen dan Kesehatan, ditegaskan bahwa peresmian ini merupakan simbol transformasi pelayanan Muhammadiyah di berbagai lini.
Sutikno memaparkan bahwa Gedung MBC senilai Rp3,2 miliar ini menjadi tonggak utama bagi SD Muhammadiyah 11 melalui peluncuran Cambridge International Program (CIP) untuk mencetak generasi berwawasan global.
Tidak hanya di tingkat dasar, transformasi juga dilakukan di tingkat menengah:
SMP Muhammadiyah 11: Meluncurkan Program Peminatan mulai dari DKV, Kelistrikan, Otomotif, Tata Boga, hingga Tata Rias, serta penguatan digitalisasi pendidikan.
PAUD & TK Aisyiyah: Penguatan branding berbasis karakter (Entrepreneur Cilik dan Tahfidz).
Pendidikan Non-Formal: Peresmian PKBM Rumah Pintar Matahari (RPM) yang melayani anak-anak di shelter Kemayoran dan sekitarnya.
”Kami sedang mengembangkan sekolah terintegrasi dari PAUD hingga SMP, dan ke depan kami memohon doa restu untuk mendirikan SMA/SMK di wilayah Krembangan ini,” ujar Sutikno.
Selain pendidikan, PCM Krembangan juga memamerkan kemajuan di bidang kesehatan dengan digitalisasi Klinik Pratama Al-Azhar yang kini dilengkapi Rekam Medis Elektronik (RME) dan layanan USG.
Di sektor sosial, diluncurkan tiga pilar asuhan bagi anak negeri:
1. Program SiAGA (Panti Ahmad Dahlan): Fokus mencetak generasi andalan bangsa.
2. Program AMAN (Panti Walidah): Perlindungan anak yang kini tengah dalam proses renovasi gedung.
3. Program MAJU (RPM): Menanamkan nilai kejujuran dan keunggulan bagi anak-anak marjinal.
Agenda ini juga meresmikan Masjid Al-Muttaqin sebagai “Masjid Ramah Musafir” dan Masjid Al-Islam sebagai pusat pemberdayaan. Uniknya, dakwah kultural juga diperkuat melalui peluncuran buku “Da’i Sejuta Parikan” serta program Santri Ceria di TPA Al-Mukhlis.
Dalam penutupnya, Sutikno menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada donatur, pemerintah daerah, dan para penggerak akar rumput.
”Kehadiran Bapak Menteri dan Bapak Wali Kota adalah suntikan energi luar biasa bagi kami untuk terus berkhidmat di jalur pendidikan dan sosial. Segala kebaikan datangnya dari Allah, dan kekurangan adalah milik kami sebagai penyelenggara,” tegasnya.
Wali Kota Surabaya, Dr. Eri Cahyadi, S.T., M.T., memberikan apresiasi mendalam atas peran Muhammadiyah dalam mentransformasi karakter kota melalui pendidikan.
Dalam sambutannya, Eri Cahyadi mengenang perjalanan panjang kawasan Krembangan. Ia menyoroti bagaimana pendidikan telah menjadi motor penggerak perubahan dari wilayah yang dulunya memiliki citra kurang baik menjadi lingkungan yang religius dan terdidik.
“Krembangan ini adalah contoh nyata perputaran pendidikan dan perubahan Kota Surabaya yang luar biasa. Kita ingat bagaimana Krembangan dulu, dan bagaimana pendidikan mampu merubah karakter anak-anak kita di sini,” ujarnya.
Ia menceritakan sebuah kisah menyentuh tentang sebuah bangunan yang dulunya digunakan untuk kegiatan negatif, namun kemudian dibeli oleh Muhammadiyah untuk dijadikan sekolah. Pemilik lamanya bahkan memilih mewakafkan aset tersebut agar keturunannya mendapatkan pendidikan yang lebih baik di bawah naungan Muhammadiyah.
Wali Kota Eri juga mengaitkan semangat pendidikan ini dengan filosofi logo Muhammadiyah, yaitu Matahari (Sang Surya). Ia menyebut Muhammadiyah sebagai “Sang Fajar” yang membawa harapan melalui doa-doa terbaik di waktu subuh, yakni:
Pertama, Sinar Pendidikan: Kehadiran kompleks pendidikan yang lengkap (TK, PAUD, SD, SMP, hingga Masjid) di MBC Krembangan diharapkan terus menyinari Surabaya dengan keberkahan.
Kedua, Kekuatan Akidah: Ia memuji konsistensi Muhammadiyah dalam menjalankan Ahlussunnah wal Jama’ah yang didasarkan pada akidah kuat tanpa memandang latar belakang asal-usul seseorang.
Eri Cahyadi menegaskan bahwa kemajuan Surabaya bukan semata-mata karena peran Wali Kota, melainkan karena banyaknya orang baik yang terus berkontribusi dan berdoa. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya atas dedikasi mereka.
”Sebuah kota akan menjadi baik bukan karena Wali Kotanya, tapi karena banyaknya orang baik di sana yang berdoa kepada Allah SWT. Hari ini, Muhammadiyah menunjukkan kekuatannya dalam pendidikan untuk memberikan perbedaan bagi Surabaya,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Wali Kota memberikan ucapan selamat kepada Muhammadiyah 11 atas gedung baru ini. Ia berharap lembaga ini terus mencetak generasi yang mampu membuat Surabaya menjadi kota yang lebih terang, cerah, dan bahagia.
”Semoga dengan sinar Sang Surya, kita buat Surabaya semakin hebat dan menjadi rumah yang Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur,” harapannya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., hadir meresmikan Gedung Muhammadiyah Boarding Class (MBC) yang berlokasi di sepanjang jalan Dupak Bangunsari, Surabaya.
Peresmian ini menandai langkah nyata dalam memperkuat ekosistem pendidikan dasar yang berkualitas dan inklusif di Indonesia.
Dalam sambutannya, Prof. Abdul Mu’ti menekankan pentingnya layanan pendidikan yang inklusif sebagai pilar keterbukaan Muhammadiyah. Ia menjabarkan empat dimensi inklusi yang menjadi visi besarnya, yakni:
Pertama, Inklusi Agama: Menciptakan ruang belajar bersama bagi murid dari berbagai latar belakang keyakinan.
Kedua, Inklusi Sosial: Menghapus sekat antara keluarga mampu dan kurang mampu dalam satu lingkungan sekolah.
Ketiga, Inklusi Fisik: Memberikan ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Keempat, Inklusi Intelektual: Pendampingan khusus bagi anak-anak dengan kecepatan belajar yang berbeda (slow learners).
Prof. Mu'ti menegaskan komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk fokus pada perbaikan sarana pendidikan. "Tahun 2026 ini, kami telah mengalokasikan bantuan revitalisasi sebesar 14 triliun rupiah untuk 11.744 sekolah, dengan prioritas bagi sekolah yang terdampak bencana alam, sekolah di daerah 3T, serta sekolah dengan kerusakan berat," ungkapnya.
Selain itu, ia juga memaparkan rencana pengembangan sekolah unggulan, termasuk:
Pertama, Sekolah Unggul Terintegrasi: Sekolah non-asrama dengan standar akademik tinggi yang akan dibangun minimal satu di setiap kabupaten/kota.
Kedua, Sekolah Unggul Garuda: Target pembangunan 20 sekolah bertaraf internasional dalam kurun waktu lima tahun.
Mendikdasmen memberikan apresiasi tinggi kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan atas inisiatif pembangunan MBC dan serangkaian revitalisasi sekolah lainnya, mulai dari tingkat PAUD hingga pendidikan dasar. Ia menyoroti kemandirian warga Muhammadiyah dalam membangun fasilitas tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan pusat.
"Semangat warga persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah Krembangan dalam membangun umat sangat luar biasa. Kemandirian ini adalah contoh nyata partisipasi masyarakat dalam memajukan pendidikan nasional," imbuhnya.
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Mu’ti juga meninjau berbagai inovasi di tingkat TK, seperti TK Entrepreneur yang mengajarkan kemandirian bisnis sejak dini, serta TK berbasis budaya lokal yang melestarikan tradisi melalui seni.
Acara peresmian yang dihadiri oleh Wali Kota Surabaya dan jajaran pimpinan Muhammadiyah ini berlangsung dengan khidmat. Kehadiran MBC diharapkan dapat menjadi model pendidikan berasrama yang mampu melahirkan generasi cerdas, berkarakter, dan memiliki daya saing tinggi sesuai tantangan zaman. (Yuda)

