Menembus Wilayah 3T, Dakwah Komunitas Muhammadiyah Raih Kepuasan 90 Persen

Suara Muhammadiyah

15 August 2026

169
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Dakwah tidak selalu harus dimulai dari tempat yang mudah dijangkau. Di tengah keterbatasan akses, fasilitas, dan kondisi geografis, dakwah justru dituntut hadir lebih dekat, menyentuh kehidupan masyarakat, serta mampu memberikan manfaat nyata.

Semangat itulah yang terus dikembangkan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui program dakwah komunitas, termasuk di berbagai wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Hasil tersebut disampaikan Ketua LDK PP Muhammadiyah Muchamad Arifin dalam Rapat Pleno Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rabu, 12 Agustus 2026. Di hadapan jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin memaparkan hasil survei kepuasan masyarakat terhadap layanan program dakwah komunitas yang menjadi salah satu bahan evaluasi pengembangan dakwah Muhammadiyah.

Berdasarkan Survei Kepuasan Masyarakat terhadap Layanan Program Dakwah Komunitas LDK PP Muhammadiyah Tahun 2025, sebanyak 90 persen responden menyatakan puas dan sangat puas terhadap layanan program secara keseluruhan.

Capaian tersebut menjadi gambaran bahwa kehadiran dai komunitas Muhammadiyah semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dakwah tidak hanya hadir dalam bentuk ceramah dan pengajian, tetapi berkembang menjadi proses pendampingan yang menyentuh aspek keagamaan, pendidikan, sosial, pemberdayaan, hingga penguatan kemandirian masyarakat.

Salah satu temuan penting dalam survei adalah 95 persen responden mengapresiasi manfaat kegiatan bagi pengembangan diri jamaah. Sementara itu, 94 persen memberikan penilaian positif terhadap kejelasan dan sistematika penyampaian materi.

Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan dakwah yang mampu menjawab kebutuhan mereka. Dai tidak cukup hanya hadir menyampaikan pesan-pesan keislaman, tetapi juga perlu menjadi pendamping dan bagian dari kehidupan masyarakat.

Di wilayah 3T, tantangan tersebut menjadi semakin nyata. Jarak yang jauh, keterbatasan sarana, kondisi geografis, serta kebutuhan masyarakat yang beragam membutuhkan pola dakwah yang sabar, adaptif, dan berkelanjutan.

Karena itu, LDK PP Muhammadiyah mengembangkan pendekatan dakwah transformatif, yakni dakwah yang tidak berhenti pada penyampaian pesan agama, tetapi berupaya menghadirkan perubahan positif dalam kehidupan masyarakat.

Pendampingan masyarakat dan mualaf, penguatan Mualaf Learning Center (MLC), pengembangan ekonomi produktif, pendampingan pendidikan, pembangunan sarana keagamaan, serta penguatan kapasitas komunitas menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.

Melalui pendekatan ini, seorang dai diharapkan tidak hanya menjadi imam dan mubalig, tetapi juga mampu menjadi pendamping, penggerak, sekaligus penguat masyarakat.

Meski memperoleh tingkat kepuasan yang tinggi, survei juga memberikan catatan penting. Ketersediaan fasilitas penunjang kegiatan memperoleh penilaian 86 persen, sedangkan kemudahan akses menuju lokasi binaan mencapai 87 persen.

Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi LDK PP Muhammadiyah untuk terus meningkatkan kualitas program, terutama di daerah 3T yang memiliki tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas.

Bagi LDK PP Muhammadiyah, hasil survei yang dipaparkan dalam rapat pleno tersebut bukan semata-mata angka keberhasilan. Lebih dari itu, survei menjadi instrumen evaluasi untuk memastikan bahwa setiap program dakwah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Muchamad Arifin menegaskan bahwa dakwah komunitas harus terus bergerak dari pola dakwah yang sekadar menyampaikan menuju dakwah yang mampu mendampingi dan memberdayakan.

“Dakwah bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi bagaimana pesan itu menghadirkan kebaikan, menguatkan masyarakat, dan melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan mereka. Hasil survei ini menjadi evaluasi sekaligus energi bagi kami untuk terus memperkuat dakwah komunitas, khususnya di wilayah 3T,” ujarnya dalam rilis yang diterima Redaksi Suara Muhammadiyah, Sabtu (15/8).

Menurutnya, keberadaan dai di wilayah 3T merupakan bagian dari komitmen Muhammadiyah untuk memastikan dakwah dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada jauh dari pusat-pusat pelayanan keagamaan dan sosial.

“Kami ingin dakwah hadir dengan pendekatan yang humanis, memberdayakan dan berkelanjutan. Dai hadir bukan sekadar datang dan pergi, tetapi tumbuh bersama masyarakat, mendampingi mereka dan ikut merasakan persoalan yang dihadapi,” tambahnya.

Hasil survei tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa dakwah berbasis komunitas memiliki ruang yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat. Ketika dakwah mampu hadir dengan pendekatan yang tepat dan menyentuh kebutuhan nyata, kehadirannya tidak hanya melahirkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membangun kepercayaan dan kekuatan sosial masyarakat.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terus mengukir prestasi....

Suara Muhammadiyah

27 October 2023

Berita

SD Muhammadiyah Sapen Dominasi Apresiasi Dikdasmen Award 2024 Sekolah-sekolah Muhammadiyah se-Indone....

Suara Muhammadiyah

31 May 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok dapat mengahadiri silatu....

Suara Muhammadiyah

10 May 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Lebih dari 300 siswa akhir Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yo....

Suara Muhammadiyah

24 May 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sejarah sepakbola Indonesia dan Muhammadiyah telah beririsan sejak ....

Suara Muhammadiyah

17 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah