JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pada setiap jelang Ramadhan berakhir, terpatnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan, umat Islam makin memompa denyut semangat ibadahnya. Tujuannya untuk merebut ganjaran terbaik, yang versi premiumnya, yakni menjadi manusia bertakwa.
Ibadah yang paling digeliatkan yakni i’tikaf. “Ibadah yang senantiasa dilaksanakan oleh Nabi Muhammad beserta dengan para sahabat di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan,” tegas Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Berpokok pangkal dengan Qs al-Baqarah ayat 187, aksentuasinya menurut Mu’ti ada dua. Pertama, pelaksanaan i’tikaf mesti uzlah, yakni menghindarkan diri dari hiruk pikuk duniawi.
“Termasuk juga menahan diri dari ibadah suami istri demi mendapatkan ketenangan,” tekannya, Jumat (13/3) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.
Kedua, i’tikaf secara pengejawantahannya dilakukan di dalam masjid. Menukil hadis dibentangkan kalau Nabi Muhammadiyah selalu menghabiskan 10 hari terakhir Ramadhan itu dengan beri’tikaf.
“Bahkan ditegaskan selama i’tikaf itu beliau memang melaksanakannya tidak hanya di malam hari tapi juga 10 hari terakhir semuanya full (beliau beri’tikaf),” jelas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu, tegas.
Namun, pada titik tunjangnya, i’tikaf meniscayakan jalan meraih ketenangan jiwa dan batin. Demikian menarik benang merah substansi ibadah sunnah muakkadah itu.
“Memang dalam hidup perlu untuk sedikit uzlah supaya kita berpikir jernih dan banyak mendapatkan ketenangan dari situ,” ujar Mu’ti.
Lebih jauh, pelaksanaan i’tikaf bisa dilaksanakan kapan saja di bulan Ramadhan. “Tidak harus pada 10 terakhir,” kata Mu’ti. Tapi, katanya lagi, yang 10 terakhir itu difullkan.
"Sebagian ada yang berpendapat i’tikaf itu dilaksanakan hanya pada malam hari saja. Di waktu-waktu shalat malam mulai dari habis isyak atau tengah malam sampai terbit fajar,” jelasnya.
Yang paling substansialnya, pelaksanaan i’tikaf mesti memperbanyak zikir kepada Allah. Ini sebagai medium untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga meraih ketenangan.
“Zikir dengan membaca kalimat thayyibah, zikir dengan membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan shalat malam (qiyamul lail). Sehingga dengan cara demikian kita bisa mendapatkan ketenangan,” bebernya. (Cris)
