Mengajarkan Puasa pada Anak Bisa Dimulai dari Cerita dan Keteladanan

Publish

23 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

2
868
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Dosen prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UM Bandung Rizka Saputri menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang sarat makna sekaligus momentum yang tepat untuk mengenalkan pendidikan puasa kepada anak usia dini. Melalui pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, Ramadhan dinilai menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai keislaman dan membentuk karakter sejak dini.

Rizka menjelaskan bahwa konsep puasa sejatinya bersifat abstrak bagi anak usia dini. Oleh karena itu, pengenalan puasa tidak bisa dilakukan secara instan atau dengan pendekatan yang kaku. “Konsep puasa perlu dijelaskan melalui cara yang sederhana dan konkret, salah satunya dengan bercerita agar anak mudah memahami maknanya,” ujarnya.

Dia menuturkan, cerita tentang puasa dapat diawali dengan menyampaikan dasar perintah puasa dalam Al-Qur’an, lalu dilanjutkan dengan tujuan dan cara menjalankannya. Anak, kata dia, perlu diperkenalkan bahwa puasa adalah perintah Allah yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa, dengan bahasa yang dekat dengan dunia mereka.

“Misalnya, puasa itu perintah Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183, tujuannya supaya kita menjadi anak yang baik, hormat pada orang tua, sayang pada teman, dan disayang Allah,” kata Rizka di UM Bandung pada Senin (23/02/2026). Dengan cara itu, nilai ketakwaan diterjemahkan ke dalam perilaku konkret yang mudah dipahami anak.

Terkait strategi agar anak belajar puasa tanpa merasa tertekan, Rizka menekankan pentingnya memahami karakter anak usia dini yang masih berada pada tahap pra-operasional. Guru dan orang tua, menurutnya, harus menyesuaikan metode pengajaran dengan dunia anak yang penuh imajinasi dan pengalaman langsung.

Dia menyarankan agar pembelajaran puasa difokuskan pada cerita-cerita menyenangkan tentang Ramadhan, bukan pada hal-hal yang menakutkan. “Ceritakan keseruan Ramadhan, seperti sahur bersama keluarga, berburu takjil, atau kegiatan di masjid, bukan sesuatu yg menakutkan seperti larangan makan dan minum seharian,” jelasnya.

Selain itu, proses belajar puasa juga perlu dilakukan secara bertahap dan melalui kesepakatan bersama anak. Anak dapat diajak menentukan target puasanya sendiri, misalnya sampai Zuhur atau Magrib. “Dengan kesepakatan itu, anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya dan diajak berdoa agar dikuatkan Allah,” ujarnya.

Rizka juga menekankan pentingnya apresiasi terhadap proses, bukan semata hasil. Meski anak belum mampu berpuasa penuh, orang tua tetap perlu memberikan penguatan positif. “Apresiasi usaha anak, misalnya dengan pujian, agar mereka termotivasi mencoba puasa lebih lama di hari berikutnya,” katanya.

Melalui pembelajaran puasa, Rizka menilai ada sejumlah karakter penting yang dapat ditanamkan pada anak usia dini, seperti sabar, disiplin, jujur, empati, dan gemar berbagi. “Puasa melatih anak menahan keinginan, mengikuti aturan waktu, merasa diawasi Allah, serta belajar peduli dan berbagi dengan sesama,” pungkasnya.***(FA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Alergi karena makanan menjadi masalah kesehatan yang angka kem....

Suara Muhammadiyah

21 June 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Indonesia sebagai negara yang rawan terjadinya bencana alam, ....

Suara Muhammadiyah

23 May 2025

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar internasio....

Suara Muhammadiyah

8 March 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menyampaikan apresi....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Berita

JEPARA, Suara Muhammadiyah - Rutinitas PDM Jepara, dalam setiap ramadhan selalu diadakan kegiatan sa....

Suara Muhammadiyah

21 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah