Mengaji Amal Saleh bersama Kiai Abdul Mu’ti
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso – Tangerang Selatan
Pengajian subuh di Griya Dakwah Ranting Muhammadiyah Pondok Cabe Ilir, Tangerang Selatan pagi ini diisi oleh Mas Kiai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengajian intim yang dihadiri sekitar 30 jamaah ini sama sekali tidak terasa nuansa birokrasinya. Tidak ada pengawal, ajudan, sekretaris pribadi, ataupun staf protokol. Mas Menteri datang dan pergi hanya menggunakan sepeda motor sehingga nyaris tidak diketahui identitasnya.
Setelah mengimami salat subuh, beliau duduk di depan sambil sesekali menghirup kopi saset yang disiapkan oleh Pak Keni, penjaga kantor PRM. Semuanya berlangsung apa adanya. Air mineral, kopi saset, gorengan tahu, ubi, ketela, dan tempe yang disajikan kepada Mas Kiai Menteri sama persis dengan yang disajikan kepada jamaah. Tidak ada petugas khusus yang harus terlebih dahulu mencicipi kualitas makanan yang disajikan.
Tema yang diangkat dalam pengajian pagi tadi juga sangat sederhana, yaitu mengupas Surah Al-‘Asr, surah yang sangat akrab di telinga warga Persyarikatan pada umumnya. Begitu nama surah itu disebut, ingatan saya langsung melayang jauh pada peristiwa ratusan tahun lalu ketika Kiai Haji Ahmad Dahlan dengan tekun mengajarkan surah tersebut kepada jamaah pengajiannya selama delapan bulan secara berulang-ulang. Metode itu digunakan agar para murid tidak hanya hafal ayat-ayatnya, tetapi juga benar-benar memahami dan mengamalkan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Karena begitu sering mengajarkan surah tersebut, beliau bahkan dijuluki sebagai “Kiai Wal-‘Ashri”.
Kandungan Surah Al-‘Asr ini memang luar biasa. Mas Kiai Menteri pagi ini mengupas kalimat, “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Kajian pagi ini menitikberatkan pada kata “amal saleh”. Secara ringkas, beliau menjelaskan bahwa amal saleh bukan hanya ibadah ritual seperti salat, puasa, atau zikir. Amal saleh adalah semua perbuatan baik yang membawa manfaat dan kemaslahatan bagi manusia, serta dilakukan atas dasar iman dan tauhid. Perbuatan baik yang dilakukan tanpa landasan tauhid ia akan kehilangan dimensi spiritual di hadapan Allah.
Manusia akan beruntung jika mereka beriman, beramal saleh, saling memberi nasihat dengan kebenaran dan kesabaran. Dalam Surah At-Tin, konsep amal saleh juga disebutkan dalam ayat ke-6, yaitu bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, tetapi bisa jatuh ke derajat rendah jika tidak menjaga iman dan amalnya. Beliau menjelaskan bahwa Surah At-Tin adalah sebuah penegasan tentang kemuliaan manusia yang harus diwujudkan melalui iman dan amal saleh yang nyata manfaatnya bagi sesama. Manusia tidak cukup hanya menjadi “saleh” secara pribadi, tetapi juga harus menjadi muslih, yakni menghadirkan perbaikan sosial.
Mas Kiai Menteri mengutip pendapat Toshihiko Izutsu dalam bukunya yang berjudul Ethico-Religious Concepts in the Qur'an. Ia menyampaikan bahwa amal saleh merupakan konsep etis yang tidak bisa dipisahkan dari iman. Dalam kajian semantik Al-Qur’an, ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an hampir selalu memasangkan iman dengan amal saleh karena keduanya membentuk satu kesatuan moral-spiritual.
Pandangan Fazlur Rahman tentang iman dan amal saleh juga dijelaskan. Dalam pandangannya, iman dan amal saleh memiliki hubungan yang tidak terpisahkan, seperti benda dan bayangannya. Iman bukan sekadar keyakinan yang tersimpan di dalam hati, melainkan kesadaran moral yang hidup dan harus tampak dalam tindakan nyata. Dengan demikian, amal saleh menjadi wujud konkret dari iman itu sendiri.
Karena itu, seseorang yang benar-benar beriman akan menghadirkan keadilan, kejujuran, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kemanusiaan dalam kehidupannya. Sebagaimana benda yang selalu melahirkan bayangan, demikian pula iman yang sejati akan melahirkan amal saleh. Keduanya tidak dapat dipisahkan, sebab iman tanpa amal saleh akan menjadi pengakuan yang kosong, sedangkan amal tanpa iman akan kehilangan arah dan landasan spiritualnya.
Penjelasannya tentang iman dalam ajaran Islam terasa sangat ringan dan mudah dipahami. Baginya, iman harus diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam perbuatan. Karena itu, iman dan amal saleh tidak dapat dipisahkan. Orang yang beriman dituntut untuk aktif membangun peradaban, memajukan pendidikan, menegakkan keadilan, dan menghadirkan nilai rahmat bagi kehidupan. Ikrar tersebut sebagaimana senantiasa diucapkan dalam kalimat syahadat yang dibaca berulang-ulang dalam setiap salat, yakni iman sebagai satu kesatuan: beriman kepada Allah dan kepada Muhammad sebagai Rasulullah.
Dalam pesan penutupnya, ceramah pembuka Mas Kiai Menteri Abdul Mu’ti juga diperkaya oleh pandangan Dr. Suparto dan Dr. Muhammad Sungaidi. Menurut ketiganya, amal saleh memiliki beberapa ciri atau dimensi utama. Dijelaskan bahwa amal saleh bukan hanya ibadah ritual, melainkan seluruh perbuatan baik yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia.
Ciri-ciri amal saleh tersebut antara lain:
· Ikhlas karena Allah
Amal dilakukan dengan niat mencari rida Allah, bukan demi pujian atau kepentingan pribadi.
· Sesuai syariat dan dilakukan secara benar
Cara melaksanakannya harus baik, benar, profesional, dan sesuai dengan tuntunan agama.
· Membawa manfaat dan maslahat
Amal saleh harus menghadirkan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, serta tidak menimbulkan kerusakan.
· Bersifat ishlah (perbaikan)
Amal saleh tidak berhenti pada kebaikan pribadi, tetapi juga memperbaiki keadaan, menyelesaikan masalah, dan mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.
Ketiganya berpandangan bahwa iman dan amal saleh tidak dapat dipisahkan. Iman memberi ruh pada amal, sedangkan amal saleh menjadi bukti nyata dari iman seseorang.
Mengikuti pengajian pagi ini, imajinasi saya melayang jauh ke langgar kecil yang dikelola oleh Kiai Ahmad Dahlan dan diramaikan oleh pengajian warga sekitar. Mereka menghafal Surah Al-‘Asr, lalu Kiai Dahlan menjelaskan dengan gamblang makna surah tersebut. Beliau berulang-ulang mengajarkan Surah Al-‘Asr kepada murid-muridnya karena ingin menanamkan bahwa iman dan amal saleh tidak boleh berhenti sebagai hafalan, ceramah, atau pengetahuan belaka.
Iman dan amal saleh harus menjelma menjadi kerja nyata yang menghadirkan manfaat, menolong sesama, memajukan kehidupan, serta menegakkan kebenaran dan kesabaran dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, manusia tidak akan keluar dari kerugian hanya dengan banyak berbicara tentang agama, melainkan dengan membuktikan iman melalui amal saleh yang hidup di tengah masyarakat.

