Fitrah Memuliakan Manusia: Jejak Penghormatan dari Langit

Publish

10 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
43
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Fitrah Memuliakan Manusia: Jejak Penghormatan dari Langit

Oleh: Miqdam Awwali Hashri, M.Si, Pengurus Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah, Mahasiswa Program Doktoral Pengkajian Islam Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah

Dalam diskursus kemanusiaan, sikap saling menghormati sering kali dipandang sebatas norma sosial atau etika pergaulan. Ia dianggap sebagai bagian dari tata krama yang berkembang dalam budaya masyarakat. Padahal, jika kita telaah lebih dalam pesan-pesan wahyu Al Quran, penghormatan kepada manusia memiliki akar teologis yang sangat kuat. Ia bukan sekadar basa-basi sosial, melainkan prinsip yang sudah melekat dengan kisah awal penciptaan manusia. Dengan kata lain, penghormatan terhadap sesama manusia bukan sekadar tuntutan budaya, melainkan merupakan fitrah manusia yang telah dimandatkan sejak awal mulanya.

Akar Penghormatan Manusia

Al-Qur’an telah menceritakan peristiwa penting yang menjadi fondasi bagi martabat manusia. Ketika Allah SWT menciptakan Nabi Adam a.s., Allah SWT kemudian memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah ayat 34, menjelaskan bahwa sujud tersebut bukanlah sujud penyembahan (ibadah), melainkan sujud penghormatan (tahiyyah) dan pemuliaan (takrim). Perintah itu datang langsung dari Allah SWT sebagai penegasan bahwa manusia; dengan segala potensi kecerdasan akal, emosional, dan spiritualnya; memiliki kedudukan yang mulia dalam tatanan ciptaan.

Peristiwa itu dapat dipahami sebagai akar teologis tentang harkat dan martabat manusia. Jika malaikat, makhluk yang diciptakan dari cahaya saja, diperintahkan untuk menghormati manusia maka sesungguhnya penghormatan terhadap sesama manusia telah ditetapkan sejak awal oleh kehendak Allah SWT. Dalam konteks inilah manusia tidak boleh diperlakukan sebagai objek yang bisa direndahkan, dilecehkan, atau dieskploitasi secara semena-mena.

Namun Al-Qur’an juga mencatat sebuah peristiwa penting dibalik perintah penghormatan tersebut. Ketika para malaikat segera menaati perintah itu dengan penuh kepatuhan, tetapi Iblis justru menolaknya. Penolakan itu bukan semata tindakan pembangkangan, melainkan lahir dari kesombongan. Iblis merasa dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah. Kesombongan inilah yang kemudian menjadi akar malapetaka dari peristiwa-peristiwa setelahnya.

Jika malaikat saja bersedia menghormati manusia atas perintah Allah, maka betapa naifnya jika sesama manusia justru saling merendahkan. Menghormati manusia pada hakikatnya adalah bentuk ketaatan kepada kehendak Allah. Sebaliknya, sikap meremehkan, merendahkan, menindas, atau memperlakukan orang lain secara tidak adil merupakan refleksi dari kesombongan yang dahulu telah dipelopori oleh Iblis.

Namun perlu digarisbawahi, kemuliaan manusia tidak boleh ditafsirkan sebagai legitimasi untuk berlaku semena-mena terhadap alam atau makhluk lainnya. Kemuliaan yang diberikan Allah justru mengandung amanah. Manusia dimuliakan bukan untuk mengeksploitasi bumi tanpa batas, melainkan untuk mengelolanya dengan penuh tanggung jawab. Al-Qur’an juga menyebut manusia sebagai khalifah di bumi, sebuah mandat yang menuntut keseimbangan antara pemanfaatan sekaligus konservasi. Karena itu, manusia yang benar-benar terhormat adalah manusia yang mampu memuliakan sesamanya sekaligus menjaga kelestarian alam yang menjadi ruang hidup bersama.

Realita Penghormatan Manusia

Prinsip penghormatan ini harus mengakar dalam realitas kehidupan sosial kita yang semakin kompleks. Penghormatan kepada manusia tidak cukup berhenti pada wacana moral, melalinkan harus hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari. Sayangnya, dalam ruang sosial tidak jarang kita menyaksikan gejala sebaliknya, yaitu terdegradasinya sikap saling menghormati.

Salah satu bentuk muncul adalah fenomena pelecehan, baik verbal maupun nonverbal. Ia bisa muncul dalam bentuk komentar merendahkan, gestur, atau tindakan kecil yang mengintimidasi sehingga meruntuhkan harga diri manusia. Dalam perspektif keagamaan, tindakan semacam ini bukan sekadar pelanggaran etika sosial, tetapi juga bentuk pengingkaran terhadap martabat manusia yang telah dimuliakan oleh Allah SWT.

Lebih ironisnya lagi, kesadaran untuk memuliakan sesama justru terkadang luruh di jalan raya, tempat di mana hukum rimba yang sering kali menggeser adab dan etika publik. Seringkali kita menyaksikan pejalan kaki dan pesepeda berada dalam posisi yang rentan. Mereka adalah kelompok pengguna jalan yang paling minim menimbulkan dampak lingkungan, tetapi justru sering menjadi pihak yang termarjinalkan. Tidak jarang mereka menghadapi intimidasi berupa raungan suara knlapot, klakson yang agresif, hingga penyerobotan jalur oleh pengedara lain. 

Padahal Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan telah memberikan perlindungan yang jelas bagi pejalan kaki dan pesepeda. Ketika trotoar atau jalur sepeda diserobot oleh pengguna jalan lain, maka persoalannya bukan sekadar pelanggaran lalu lintas. Ia mencerminkan hilangnya kesadaran untuk menghormati hak dan ruang pengguna jalan. Pada contoh semacam itu, sesungguhnya sedang dipertaruhkan nilai dasar kemanusiaan yang telah ditegaskan sejak kisah penciptaan Adam a.s.

Ilmu dan Kedaulatan Global

Penghormatan terhadap manusia juga memiliki dimensi intelektual. Prof. Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsir Al Misbah QS Al-Baqarah ayat 34, bahwa kemuliaan Adam a.s. berkaitan erat dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya. Karena itu, Al-Qur’an pun menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11. Ilmu yang murni akan melahirkan sikap rendah hati dan kebijakan yang humanis, bukan justru menjadi alat dominasi atau manipulasi.

Dalam konteks kehidupan bernegara, penghormatan berarti melahirkan kebijakan yang berpihak pada martabat manusia sekaligus menjaga keberlanjutan ekologi. Seorang pemimpin yang tidak menghormati rakyatnya berpotensi menghasilkan kebijakan yang eksploitatif. Sebaliknya, kepemimpinan yang berangkat dari penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan akan melahirkan tata kelola yang lebih adil, makmur, dan beradab.

Penghormatan sebagai Penguat Keadilan dan Perdamaian

Perlu ditegaskan bahwa penghormatan harus bersifat timbal balik. Penghormatan yang berjalan sepihak mudah berubah menjadi alat eksploitasi. Ketika satu pihak menuntut dihormati tanpa menghormati pihak lain, hubungan sosial akan berubah menjadi relasi dominasi. Karena itu, penghormatan sejati selalu berjalan dalam dua arah atau timbal balik.

Prinsip yang sama berlaku pula dalam relasi antarbangsa. Dunia modern sering menyaksikan konflik yang lahir dari hilangnya rasa hormat terhadap kedaulatan pihak lain. Perang, agresi militer, dan penjajahan merupakan bentuk kesombongan gaya baru yang menempatkan kekuatan di atas kemanusiaan. Ketika penghormatan terhadap martabat manusia diabaikan, peradaban pun berada di ambang kehancuran.

Penghormatan adalah koridor untuk menjaga manusia agar tidak melampaui batas. Penghormatan dimulai dari skala yang paling kecil, yaitu: cara kita berbicara, cara kita berbagi ruang, hingga cara kita memperlakukan orang lain. Dalam lingkup yang lebih luas, ia menjadi fondasi bagi keadilan sosial dan perdamaian dunia.

Fitrah manusia sejak awal telah dimuliakan oleh penduduk langit. Namun kemuliaan itu juga bukanlah legitimasi untuk berlaku semena-mena. Tugas manusia di bumi adalah menjaga kemuliaan itu agar tidak tercemar oleh kesombongan, kedurhakaan, dan eksploitasi. Melalui tutur kata yang santun, kebijakan yang adil, dan sikap yang menghargai sesama, termasuk menjaga bumi, menunjukkan bahwa manusia mampu menjalankan amanah tersebut. Dengan demikian, menghormati sesama manusia sekaligus menjaga bumi sebagai ruang hidup bersama merupakan cara paling otentik untuk memuliakan Allah SWT. Wallahua’alam

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Penyakit Lever dan Penyakit Hati Oleh: Mohammad Fakhrudin Manusia memperoleh hidayah naluri, panca....

Suara Muhammadiyah

4 July 2024

Wawasan

Babi, Alkohol, dan Akal Sehat (Bagian 1) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universita....

Suara Muhammadiyah

27 October 2025

Wawasan

Mocaf: Solusi Berbasis Kearifan Lokal untuk Swasembada Pangan Oleh: Wahyu Imam Santoso, S.TP., M.P.....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Wawasan

Kehendak Bebas Manusia dalam Genggaman Ilahi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univer....

Suara Muhammadiyah

19 September 2025

Wawasan

Muhammadiyah; Merdeka Memajukan Bangsa Oleh: Prof. Dr.H. Muh. Hizbul Muflihin, M.Pd, Wakil Ketua PD....

Suara Muhammadiyah

1 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah