Menggugat Crab Mentality di Kampus: Dari Hasad Menuju Kolaborasi Berkemajuan
Oleh: Randi Syafutra, Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Perguruan tinggi idealnya menjadi pusat keunggulan intelektual dan inovasi. Ruang akademik menuntut kolaborasi antarpeneliti untuk memecahkan berbagai masalah kebangsaan. Namun, realitas operasional sering menunjukkan anomali. Sebagian akademisi terjebak dalam crab mentality (mentalitas kepiting). Analogi ini merujuk pada perilaku kepiting di dalam wadah tertutup. Saat satu kepiting berusaha memanjat keluar, kepiting lain akan mencapit dan menarik temannya kembali ke bawah. Di lingkungan kampus, praktik saling menjatuhkan ini menghambat ekosistem pendidikan tinggi.
Berdasarkan social comparison theory rumusan Leon Festinger, mentalitas kepiting lahir dari ancaman terhadap ego pribadi. Ketika melihat rekan sejawat lebih produktif, individu yang merasa tertinggal sering kali memilih jalan pintas. Alih-alih melakukan introspeksi, mereka justru berusaha menekan reputasi kolega tersebut.
Pola pikir zero-sum thinking memperburuk kondisi ini. Sebagian dosen menganggap kesuksesan orang lain sebagai kegagalan bagi diri sendiri. Mereka memandang pengakuan, jabatan akademik, atau dana hibah sebagai kuota yang terbatas. Kemajuan kolega lantas dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas karier mereka.
Praktik ini mewujud nyata dalam berbagai tindakan di lapangan. Gagasan inovatif dari dosen muda, terutama mereka yang sedang aktif menempuh studi doktoral atau melakukan riset lapangan, sering kali diabaikan atau dihambat oleh birokrasi internal. Dosen yang berhasil meraih gelar S3 pada usia muda kerap menjadi sasaran sentimen negatif. Lebih jauh, proses peer review (tinjauan sejawat) dan penilaian angka kredit sering kali disalahgunakan menjadi alat subjektif untuk menunda kenaikan pangkat rekan kerja.
Riset Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNIS mengonfirmasi pola ini. Kompetisi tidak sehat melahirkan pull-down syndrome yang mematikan iklim inovasi demi menjaga status quo. Dosen berprestasi akhirnya membatasi kontribusi atau memilih keluar (brain drain) demi menghindari politik kampus.
Mengkaji fenomena ini melalui perspektif Islam memberikan dimensi moral yang tegas. Crab mentality adalah padanan modern dari penyakit hasad (dengki). Hasad merupakan ketidaksukaan saat melihat pihak lain mendapatkan nikmat, disertai keinginan agar nikmat tersebut lenyap.
Rasulullah SAW melarang perilaku ini karena hasad memakan amal kebaikan layaknya api melahap kayu bakar. Di lingkungan akademik, dosen yang memelihara hasad merusak pahala ibadahnya sendiri sekaligus mencederai reputasi keilmuan koleganya. Tindakan ini melanggar etika solidaritas umat atau Ukhuwah Islamiyah. Ajaran Islam menekankan bahwa iman seseorang belum sempurna hingga orang tersebut mencintai saudaranya sebagaimana mencintai diri sendiri.
Ancaman terhadap Visi Islam Berkemajuan
Bagi institusi pendidikan di bawah naungan gerakan pembaruan, mentalitas kepiting menjadi ancaman ideologis. Gerakan ini berpijak pada semboyan Fastabiqul Khairat, yakni berlomba-lomba dalam kebaikan. Kompetisi ini bertujuan memacu diri berlari lebih cepat demi kemaslahatan bersama, bukan menjatuhkan lawan agar menang sendiri.
Jika dosen senior menahan laju karier dosen muda yang potensial, sistem kaderisasi akademik akan terputus. Hal ini mengganggu cita-cita Islam Berkemajuan yang menuntut keunggulan umat di bidang sains dan teknologi. Universitas sebagai motor penggerak akan kehilangan daya saing global dan mengalami kemunduran (takhalluf) jika akademisinya terus memelihara iklim saling menghambat. Pencetakan generasi intellectual-prophetic di lingkungan kampus pun menjadi terhambat.
Penyelesaian masalah ini membutuhkan pendekatan struktural sekaligus spiritual. Kampus wajib membenahi sistem birokrasi agar proses penilaian kinerja berjalan transparan dan murni berbasis meritokrasi.
Pada tataran spiritual, Islam menawarkan alternatif psikologis berupa Ghibthah. Berbeda dengan hasad, Ghibthah adalah rasa cemburu yang positif. Saat melihat pencapaian keilmuan kolega, seorang dosen termotivasi untuk menyamai atau melampaui prestasi tersebut tanpa sedikit pun niat merugikan orang lain. Hadis riwayat Bukhari membenarkan rasa iri terhadap individu yang dianugerahi ilmu, lalu mengamalkan serta mengajarkan ilmu tersebut kepada masyarakat luas.
Transformasi ruang akademik membutuhkan komitmen pada Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa), Qana'ah (rasa cukup atas karunia Tuhan), dan Husnuzan (kewajiban berprasangka baik). Crab mentality di perguruan tinggi bukan sekadar dinamika kompetisi kerja, melainkan wujud nyata dari penyakit spiritual. Mengubah hasad menjadi ghibthah adalah langkah krusial agar universitas terbebas dari parasit struktural dan kembali berfungsi sebagai katalisator peradaban.

