Menjaga Jati Diri di Kampus Persyarikatan

Suara Muhammadiyah

26 October 2026

129
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Menjaga Jati Diri di Kampus Persyarikatan: Dosen dan Tendik UMKU Mengkaji Kepribadian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah

KUDUS, Suara Muhammadiyah – Di tengah tuntutan akademik dan administrasi yang tak pernah sepi, Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) menyediakan ruang untuk kembali bertanya tentang jati diri: apa itu Muhammadiyah, apa dasar dan pedoman geraknya, dan sifat apa yang wajib dipelihara. Pertanyaan itu menjadi pintu masuk Pengajian Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik) UMKU yang digelar Senin, 26 Oktober 2026, di Ruang Serbaguna 1 UMKU, Jalan Ganesha 1, Purwosari, Kota Kudus dengan tema “Kepribadian Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah”.

Pengajian diselenggarakan Biro Pengkajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dan Pengembangan Persyarikatan UMKU. Acara dibuka dengan sambutan selamat datang dari Wakil Rektor II Bidang Administrasi dan Keuangan UMKU, Dr. Bdn. Islami, S.Si.T., M.Keb. Kegiatan dipandu Naili Azizah, S.H., M.H., Dekan Fakultas Sains Teknologi dan Fakultas Ekonomi Pendidikan Hukum UMKU, sebagai moderator.

Materi disampaikan Hj. Lintal Muna, S.Pd.I, M.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah. Kajian ditujukan bagi warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di lingkungan kampus, dengan tiga tujuan: memahami isi Kepribadian Muhammadiyah secara utuh, melihat bagaimana ‘Aisyiyah hadir sebagai gerakan perempuan Muhammadiyah, dan mengembalikan Muhammadiyah ke jati dirinya.

Lintal Muna sebagai pemateri mengawali kajian dengan menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah rumusan jati diri Persyarikatan. Rumusan ini disusun tim yang dipimpin KH Fakih Usman dan disahkan pada Muktamar ke-35 di Jakarta tahun 1962. Peserta diingatkan bahwa dokumen ini bukan teks seremonial, melainkan jawaban atas tiga pertanyaan mendasar tadi.

Muhammadiyah dijelaskan sebagai organisasi Islam non-pemerintah yang bergerak di bidang dakwah amar makruf nahi mungkar, juga di bidang sosial dan keagamaan. Organisasi ini didirikan KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta. Adapun ‘Aisyiyah adalah organisasi Islam perempuan dari Persyarikatan Muhammadiyah yang bergerak di bidang dakwah amar makruf nahi mungkar dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, untuk mewujudkan Islam yang sebenar-benarnya. ‘Aisyiyah didirikan Nyai Ahmad Dahlan pada 27 Rajab 1335 H atau 19 Mei 1917, juga di Kauman, Kota Yogyakarta.

Sepuluh Sifat Muhammadiyah

Lintal Muna yang Wakil Ketua Bazas Kabupaten Pati menegaskan bahwa bagian terbesar kajian mengurai sifat-sifat dan karakter yang semestinya melekat pada Persyarikatan. Materi mengelompokkannya dalam tiga arah: kepada sesama, kepada agama, dan kepada negara.

Pertama, sikap kepada sesama. Muhammadiyah diminta beramal dan berjuang untuk kedamaian dan kesejahteraan, memperbanyak sahabat, serta memelihara ukhuwah, baik ukhuwah Islamiyah maupun ukhuwah wathaniyah. Sikap ini diikuti kelapangan dada dan keluasan pandangan, yaitu terbuka, toleran, dan berpikiran maju tanpa mengorbankan prinsip syariat Islam. Dari sini lahir sikap kerja sama dengan golongan Islam mana pun secara inklusif.

Kedua, sikap kepada agama dan masyarakat. Muhammadiyah bersifat keagamaan dan kemasyarakatan, dengan gerakan dakwah yang berdampak nyata pada kehidupan sosial. Amar makruf nahi mungkar dijalankan di segala lapangan. Persyarikatan juga diminta aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan, hadir memberi solusi dan perbaikan moral.

Ketiga, sikap kepada negara. Warga Muhammadiyah mengindahkan hukum, undang-undang, serta dasar dan falsafah negara yang sah, dengan komitmen menjaga NKRI dan Pancasila. Muhammadiyah juga membantu pemerintah dan bekerja sama dengan golongan lain, yakni mendukung program yang membawa kebaikan bagi masyarakat dengan tetap bersikap adil dan kritis.

Sifat terakhir sekaligus penyeimbang seluruh sifat sebelumnya: bersikap korektif ke dalam dan ke luar, bijaksana, serta terbiasa bermuhasabah. Masukan ke luar disampaikan dengan santun dan beradab. Bagi civitas akademika, pesan ini terasa dekat, sebab kritik yang membangun dan kebiasaan berkoreksi diri adalah napas dunia kampus sekaligus tradisi Persyarikatan Muhammadiyah.

Enam Karakter Utama ‘Aisyiyah

Pada bagian kedua, Lintal Muna menegaskan kembali ada 6 (enam) karakter utama ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan berkemajuan. Enam karakter itu dirangkum sebagai berikut:

  • Pelopor perempuan berkemajuan. Perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang setara, dan perempuan didorong untuk berpendidikan tinggi serta mandiri.

  • Gerakan Islam berkemajuan. Dakwah dan tajdid bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan watak wasathiyah atau moderat, menebar Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

  • Ketahanan keluarga. Keluarga dijadikan benteng utama pendidikan karakter dan keagamaan, dengan relasi suami istri yang adil, setara, dan saling mendukung.

  • Kepedulian sosial dan empati. Berpijak pada spirit Al-Ma’un, berorientasi pada tindakan nyata, serta aktif mengelola Amal Usaha ‘Aisyiyah (AUA).

  • Moderasi dan semangat belajar yang tinggi.

  • Mandiri dan berjiwa wirausaha. Kemandirian ekonomi perempuan didorong melalui UMKM, koperasi, dan usaha lainnya.

Keenam karakter ini memperlihatkan bahwa ‘Aisyiyah tidak berhenti pada ranah dakwah lisan. Pendidikan, keluarga, kepedulian sosial, dan ekonomi dipandang sebagai satu rangkaian kerja yang saling menguatkan.

Pulang ke Jati Diri

Kajian ini mempertemukan dua sisi dalam satu kerangka. Kepribadian Muhammadiyah menjadi kompas nilai bagi seluruh warga Persyarikatan, sedangkan karakter ‘Aisyiyah menunjukkan bagaimana nilai itu diterjemahkan dalam kerja nyata perempuan di keluarga, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Bagi dosen dan tenaga kependidikan UMKU, pengajian ini menjadi pengingat bahwa kampus Muhammadiyah dibangun bukan hanya untuk mengajar dan melayani, tetapi juga untuk merawat identitas gerakan. Dengan memahami jati diri secara utuh, setiap unsur di lingkungan kampus diharapkan bekerja dengan orientasi yang sama: dakwah, pencerahan, dan kemaslahatan. (Supardi)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muhammadiyah Semarang....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Keberadaan sebagian besar Satuan Pendidikan Keagamaan didaera....

Suara Muhammadiyah

29 August 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Lembaga Pengkajian, Pengembangan, Pendidikan, dan Kewirausahaan ....

Suara Muhammadiyah

19 December 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Metode pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia berkembang s....

Suara Muhammadiyah

21 December 2025

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah – Silaturahmi Pandu Senior Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Da....

Suara Muhammadiyah

3 September 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah