MALANG, Suara Muhammadiyah - Di tengah arus perubahan ekonomi global yang semakin kompleks, kebutuhan pendekatan baru dalam pembangunan berkelanjutan menjadi sangat mendesak. Merespons tantangan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) menyelenggarakan Colloquium Post Doctoral bertajuk “Risalah Ekonomi dan Bisnis Berkemajuan: Integrasi Business Sustainability dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan”. Kegiatan ini digelar Selasa, 14 April 2026, di Aula GKB 4 UMM, sebagai ruang untuk mempertemukan gagasan dan mendiseminasikan hasil riset para dosen yang baru merampungkan studi doktoral.
Terdapat enam dosen yang mempresentasikan disertasinya, yakni M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D., Dr. Ida Nuraini, M.Si., Yeyen Pratika, MBA., Ph.D., Dr. Sri Wahjuni L., M.M., Ak., CA., Fika Fitriasari, M.M., Ph.D., dan Novita Ratna Satiti, M.M., Ph.D. Kolokium ini bertujuan memetakan kepakaran dosen sekaligus memperkuat kontribusi keilmuan dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi yang inklusif. Forum ini juga memastikan agar hasil disertasi dapat diaplikasikan lebih luas oleh akademisi dan pemangku kebijakan.
Dalam presentasinya, M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D., menyoroti persoalan kemiskinan dan ketimpangan global. Menurutnya, indikator kesejahteraan dari lembaga seperti World Bank dan UNDP masih terlampau materialistik dan belum mencakup aspek moral. Melalui perspektif Islam, ia menawarkan pendekatan holistik yang mengukur kesejahteraan lewat penjagaan terhadap lima dimensi utama: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
“Selama ini kesejahteraan sering diukur dari angka ekonomi semata. Kita perlu indikator utuh. Integrasi nilai spiritual adalah kunci agar pembangunan tidak sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga martabat manusia,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Ida Nuraini, M.Si. membahas isu ketimpangan ekonomi wilayah, terutama kesenjangan kawasan barat dan timur Indonesia. Ia mengkritik kebijakan pembangunan daerah yang cenderung copy-paste tanpa menimbang potensi lokal, yang justru berisiko menghambat kesejahteraan masyarakat.
“Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Perencanaan pembangunan harus berbasis data serta kebutuhan nyata lokal,” ungkap Ida. Ia kemudian mengusulkan pendekatan berbasis ekologi wilayah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai solusi mengatasi ketimpangan.
Disisi lain, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa kolokium ini adalah agenda strategis untuk mengembangkan institusi dan mengidentifikasi kepakaran dosen. Ia mendorong para doktor baru agar segera mengakselerasi kenaikan jabatan akademik. “FEB memiliki potensi besar melahirkan banyak guru besar. Momentum ini penting diiringi inovasi seperti program mikrokredensial dan kolaborasi internasional untuk meningkatkan daya saing institusi,” ujarnya.
Secara keseluruhan, kolokium ini menjadi refleksi kritis mengenai arah pembangunan ekonomi di Indonesia. Melalui penegasan akan pentingnya integrasi aspek ekonomi, sosial, dan spiritual, gagasan ini diharapkan berkontribusi nyata dalam mewujudkan ekosistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan. (diko)
