Mentoring sebagai Jalan Dakwah Berkemajuan

Publish

16 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
39

Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Di tengah derasnya perubahan zaman, kita sedang menyaksikan satu fenomena besar, generasi muda hidup dalam banjir informasi, tetapi tidak selalu sampai pada kejernihan arah. Mereka terhubung dengan dunia melalui gawai, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai platform digital. Namun, keterhubungan itu tidak selalu membuat mereka lebih dekat dengan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, apalagi dengan misi hidup yang bermakna.

Sebagian anak muda memang berhasil memanfaatkan dunia digital untuk belajar, berkarya, membangun jejaring, bahkan menciptakan peluang ekonomi baru. Tetapi tidak sedikit pula yang hanya menjadi konsumen pasif. Mereka sibuk, tetapi tidak selalu produktif. Mereka aktif di dunia digital, tetapi gagap membangun komunikasi di dunia nyata. Mereka memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan untuk memilih mana yang benar, mana yang baik, dan mana yang perlu ditinggalkan.

Inilah salah satu tantangan dakwah hari ini.

Dakwah tidak lagi cukup dipahami hanya sebagai ceramah dari mimbar ke mimbar, pengajian dari forum ke forum, atau penyampaian nasihat dari satu arah. Semua itu tetap penting. Namun, zaman menuntut metode dakwah yang lebih menyentuh, lebih personal, lebih berkelanjutan, dan lebih dekat dengan pergulatan hidup generasi muda. Pada titik inilah mentoring menjadi sangat penting.

Mentoring, atau pendampingan, sesungguhnya bukan hal asing dalam tradisi dakwah. Sejak awal, dakwah Islam tumbuh melalui proses pembinaan, keteladanan, persahabatan, dialog, dan kedekatan. Rasulullah tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga membentuk manusia. Beliau mendengar, menegur, menguatkan, memberi teladan, dan membimbing para sahabat sesuai dengan kondisi, kapasitas, dan pergumulan masing-masing. Dakwah bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi menghadirkan sosok yang menuntun.

Dalam konteks Muhammadiyah, mentoring dapat dibaca sebagai bagian dari dakwah berkemajuan. Dakwah yang tidak berhenti pada seruan normatif, tetapi bergerak menuju pembentukan manusia yang berilmu, berakhlak, mandiri, produktif, dan bermanfaat bagi kehidupan. Mentoring adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya menjadi objek perubahan zaman, tetapi menjadi subjek yang mampu mengarahkannya.

Sebagai dosen, saya melihat langsung fenomena ini di ruang-ruang kelas dan lingkungan kampus. Banyak mahasiswa datang dengan potensi besar. Mereka cerdas, cepat menangkap informasi, akrab dengan teknologi, dan memiliki akses luas terhadap pengetahuan. Namun, pada saat yang sama, tidak sedikit dari mereka yang tampak kehilangan fokus, mudah cemas, bingung menentukan prioritas, sulit membangun disiplin, dan belum menemukan makna dari apa yang mereka pelajari.

Kelas memiliki keterbatasan. Guru dan dosen dapat mengajar, menjelaskan, memberi tugas, dan menilai. Tetapi tidak semua kegelisahan anak muda dapat diselesaikan dalam format pembelajaran formal. Ada persoalan yang membutuhkan percakapan lebih dalam. Ada kebingungan yang membutuhkan pendengar yang sabar. Ada potensi yang hanya tumbuh jika disentuh oleh kepercayaan. Ada karakter yang hanya terbentuk melalui kedekatan, keteladanan, dan proses yang berulang.

Di sisi lain, banyak orang tua juga sedang berjuang keras untuk menopang ekonomi keluarga. Mereka mencintai anak-anaknya, tetapi tidak selalu memiliki cukup waktu, energi, atau pengetahuan untuk mengikuti kompleksitas dunia digital yang dihadapi anak-anaknya. Akibatnya, ruang kosong itu sering diisi oleh algoritma, tren media sosial, figur-figur digital, dan bahkan kecerdasan buatan yang belum tentu memahami nilai, iman, akhlak, serta tujuan hidup anak-anak kita.

Kita tidak sedang mengatakan bahwa teknologi adalah musuh. Digitalisasi tidak mungkin dihindari. Kecerdasan buatan tidak perlu ditakuti secara membabi buta. Media sosial juga tidak sepenuhnya buruk. Yang menjadi persoalan adalah ketika generasi muda dibiarkan berjalan sendiri di tengah arus itu tanpa kompas nilai, tanpa pendamping, dan tanpa kemampuan memilah.

Maka tugas dakwah hari ini bukan menolak zaman, tetapi mengarahkan zaman. Bukan memusuhi teknologi, tetapi membimbing manusia agar tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah teknologi. Bukan menjauhkan anak muda dari dunia digital, tetapi menolong mereka agar menjadi produsen kebaikan, bukan sekadar konsumen hiburan.

Di sinilah mentoring menemukan urgensinya.

Mentor bukan sekadar orang yang lebih tua. Mentor adalah orang yang bersedia hadir. Ia tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga mendengarkan. Tidak hanya mengoreksi, tetapi juga memahami. Tidak hanya menuntut, tetapi juga menuntun. Seorang mentor membantu anak muda membaca dirinya, menemukan kekuatannya, mengenali kelemahannya, menyusun arah hidupnya, dan menghubungkan potensi pribadi dengan kebermanfaatan sosial.

Anak muda hari ini tidak selalu membutuhkan ceramah yang panjang. Sering kali mereka membutuhkan satu orang yang bertanya dengan tulus: “Apa yang sedang kamu pikirkan?” “Apa yang membuatmu gelisah?” “Apa yang ingin kamu perjuangkan?” “Apa yang bisa saya bantu agar kamu tumbuh?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu bisa menjadi pintu dakwah yang sangat besar.

Bagi Persyarikatan Muhammadiyah, mentoring seharusnya menjadi agenda strategis. Muhammadiyah memiliki modal sosial yang luar biasa, sekolah, kampus, masjid, rumah sakit, organisasi otonom, majelis, lembaga, komunitas profesi, dan jaringan kader yang luas. Semua itu dapat menjadi ekosistem pendampingan generasi muda. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan besar itu tidak hanya hadir sebagai institusi, tetapi juga sebagai ruang tumbuh yang hangat, membina, dan menggerakkan.

Mentoring dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana tetapi terarah.

Pertama, setiap amal usaha pendidikan Muhammadiyah perlu memperkuat budaya pendampingan, bukan hanya pengajaran. Siswa dan mahasiswa tidak cukup hanya diberi materi akademik. Mereka perlu dibantu menyusun visi hidup, etika digital, kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, dan keberanian mengambil peran.

Kedua, masjid dan komunitas Persyarikatan perlu menjadi ruang ramah anak muda. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga rumah pembinaan. Di sanalah anak muda dapat berdialog, belajar kepemimpinan, mengembangkan minat, membicarakan masa depan, dan merasakan bahwa agama hadir sebagai rahmat, bukan beban.

Ketiga, organisasi otonom seperti IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Aisyiyah dapat memperluas model mentoring lintas generasi. Kader senior tidak cukup hanya memberi instruksi organisasi, tetapi perlu menjadi kakak ideologis, intelektual, dan moral bagi kader muda. Regenerasi tidak cukup melalui pelantikan, tetapi melalui pendampingan.

Keempat, Muhammadiyah perlu mendorong literasi digital yang lebih produktif. Anak muda harus diajak naik kelas, dari pengguna menjadi pencipta, dari penonton menjadi pelaku, dari penyebar konten menjadi pembawa nilai. Mereka perlu didampingi agar mampu menggunakan teknologi untuk belajar, berdakwah, menulis, berwirausaha, meneliti, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah masyarakat.

Kelima, mentoring harus dilakukan dengan pendekatan humanis. Anak muda tidak boleh hanya dipandang sebagai generasi yang bermasalah. Mereka adalah generasi yang sedang mencari bentuk. Mereka tidak kekurangan potensi; mereka sering kekurangan arah. Mereka tidak selalu malas; mereka kadang tidak tahu harus memulai dari mana. Mereka tidak selalu menolak nasihat; mereka hanya lebih mudah menerima nasihat dari orang yang lebih dulu mau mendengarkan.

Dakwah yang efektif hari ini adalah dakwah yang hadir dalam bahasa zaman, tetapi tetap berpijak pada nilai Islam. Dakwah yang mampu masuk ke ruang digital, tetapi tidak kehilangan kedalaman spiritual. Dakwah yang memahami psikologi anak muda, tetapi tidak kehilangan ketegasan moral. Dakwah yang memanfaatkan teknologi, tetapi tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembinaan.

Mentoring adalah salah satu bentuk tajdid metode dakwah. Substansinya tetap sama, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, membentuk akhlak mulia, dan menghadirkan kemaslahatan. Yang berubah adalah pendekatan, bahasa, media, dan cara menyentuh manusia.

Kita tidak boleh membiarkan generasi muda merasa sibuk, tetapi sesungguhnya kosong. Tidak boleh membiarkan mereka tampak aktif, tetapi kehilangan makna. Tidak boleh membiarkan umur mereka habis digerus layar, sementara jiwa, karakter, dan kontribusi mereka tidak tumbuh. Mereka membutuhkan ruang untuk didengar, diarahkan, dibina, dan dipercaya.

Maka, pertanyaan penting bagi kita bukan lagi, apakah mentoring diperlukan? Pertanyaannya adalah, siapa yang bersedia menjadi mentor?

Persyarikatan ini besar karena dibangun oleh manusia-manusia yang mau membina, bukan sekadar mengelola. Muhammadiyah tumbuh karena ada kesediaan untuk mencerdaskan, mencerahkan, dan menggerakkan. Hari ini, semangat itu perlu diterjemahkan kembali dalam bentuk pendampingan generasi muda yang lebih serius, terstruktur, dan berkelanjutan.

Setiap guru dapat menjadi mentor. Setiap dosen dapat menjadi mentor. Setiap kader senior dapat menjadi mentor. Setiap orang tua, aktivis masjid, profesional, pengusaha, dokter, penulis, dan pemimpin komunitas dapat mengambil peran. Tidak semua harus menjadi penceramah besar. Tetapi setiap orang dapat menjadi cahaya kecil yang menuntun satu, dua, atau beberapa anak muda agar tidak tersesat dalam derasnya zaman.

Sebab masa depan Persyarikatan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bangunan, amal usaha, atau program kerja. Masa depan Muhammadiyah ditentukan oleh kualitas manusia yang dibinanya. Dan kualitas manusia tidak lahir hanya dari instruksi, tetapi dari sentuhan. Tidak lahir hanya dari informasi, tetapi dari pendampingan. Tidak lahir hanya dari kelas, tetapi dari keteladanan hidup.

Kini saatnya mentoring ditempatkan sebagai gerakan dakwah. Bukan kegiatan tambahan, tetapi kebutuhan strategis. Bukan sekadar program, tetapi budaya. Bukan hanya untuk menyelamatkan anak muda dari dampak negatif digitalisasi, tetapi untuk menyiapkan mereka menjadi generasi beriman, berilmu, berkarakter, produktif, dan berkemajuan.

Zaman boleh berubah cepat. Teknologi boleh semakin canggih. Tetapi manusia tetap membutuhkan manusia. Anak muda tetap membutuhkan teladan. Dan dakwah tetap membutuhkan sentuhan hati.

Di situlah mentoring menemukan maknanya, menjadi jembatan antara nilai abadi Islam dan tantangan zaman yang terus bergerak.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

KOKAM Sebagai Subkultur (Refleksi Milad Kokam ke-59)  Oleh : Dr. Iwan Setiawan, M.S.I. (Wakil ....

Suara Muhammadiyah

2 October 2024

Wawasan

Oleh: A Hilal Madjdi, Wakil Ketua PDM Kudus Hampir beriringan dengan ibunda ‘Aisyiyah, adek-a....

Suara Muhammadiyah

18 May 2025

Wawasan

Anak Saleh (19) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

28 November 2024

Wawasan

Perbedaan Musibah dan Kesulitan dalam Membentuk Psikologi Manusia Oleh: Bayu Madya Chandra, SEI, pe....

Suara Muhammadiyah

14 August 2025

Wawasan

KKN di Perguruan Tinggi Muhammadiyah: Kampus Berdampak untuk Umat Berkemajuan Oleh: Dr. Ijang Faisa....

Suara Muhammadiyah

14 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah