Menumbuhkan Militansi Kader di Era Serba Instan
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Terdapat sebuah paradoks yang sedang dihadapi banyak organisasi, termasuk Muhammadiyah. Di satu sisi, teknologi digital membuat komunikasi semakin mudah, informasi semakin cepat, dan berbagai pengetahuan dapat diperoleh dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kemudahan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman komitmen, ketekunan perjuangan, dan militansi kader.
Kita hidup dalam zaman serba instan. Dalam situasi semacam ini, ada kecenderungan sebagian anak muda untuk menginginkan hasil yang cepat tanpa selalu bersedia menjalani proses yang panjang. Persoalannya, kaderisasi tidak pernah mengenal jalan pintas. Muhammadiyah sejak awal berdiri bukanlah organisasi yang dibangun dengan mentalitas instan.
Kelahiran Muhammadiyah pada 1912 merupakan buah dari kegelisahan, pemikiran, keberanian, dan kerja keras KH. Ahmad Dahlan. Gerakan ini tidak tumbuh karena mengejar popularitas, tetapi karena adanya keyakinan bahwa Islam harus diwujudkan sebagai kekuatan pembaruan yang bermanfaat bagi kehidupan.
Dari semangat itulah lahir sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, lembaga sosial, gerakan perempuan, gerakan kepemudaan, dan berbagai amal usaha yang hari ini menjadi bagian penting dari kehidupan bangsa. Semua itu tidak lahir dalam satu malam. Di sinilah makna militansi kader perlu kembali direnungkan.
Militansi sering kali disalahpahami sebagai sikap keras, fanatik, atau selalu berada di garis depan dalam mempertahankan kelompok. Padahal militansi kader dalam perspektif Muhammadiyah semestinya tidak identik dengan fanatisme organisasi.
Militansi adalah keteguhan dalam memegang nilai, kesediaan berjuang, konsistensi dalam menjalankan amanah, serta kemampuan untuk bertahan saat menghadapi kesulitan. Kader yang militan bukan sekadar kader yang paling sering hadir dalam kegiatan organisasi, melainkan kader yang memiliki orientasi nilai, memahami ideologi gerakan, mampu bekerja secara profesional, dan tetap istiqamah ketika perjuangan tidak menghasilkan penghargaan material maupun popularitas.
Militansi pada akhirnya bukan soal seberapa keras seseorang berbicara tentang organisasi, tetapi seberapa konsisten ia menghidupkan nilai-nilai organisasi dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, militansi harus dibedakan dari fanatisme. Fanatisme cenderung melahirkan sikap membela kelompok secara membabi-buta. Militansi justru menuntut kedewasaan berpikir. Kader yang militan berani mengkritik ketika ada yang perlu diperbaiki, tetapi kritik tersebut lahir dari kecintaan dan tanggung jawab terhadap gerakan.
Tantangan kaderisasi hari ini semakin kompleks karena generasi muda tumbuh dalam ekosistem digital. Media sosial membentuk budaya baru, seperti bahwa semuanya harus cepat, ringkas, menarik, dan mampu memunculkan respons. Sebuah gagasan dianggap penting ketika memperoleh banyak like, komentar, atau view. Popularitas digital perlahan dapat menjadi ukuran baru keberhasilan.
Padahal gerakan sosial tidak bekerja dengan logika algoritma. Algoritma mengutamakan hal-hal yang menarik perhatian. Kaderisasi justru harus membentuk hal-hal yang penting untuk masa depan. Algoritma mengejar engagement, sedangkan kaderisasi mengejar pembentukan karakter. Algoritma menyukai sesuatu yang viral, sementara perjuangan organisasi sering kali justru membutuhkan pekerjaan yang sunyi dan tidak terlihat.
Bahaya terbesar budaya instan bukan sekadar membuat seseorang tidak sabar. Lebih jauh dari itu, budaya instan dapat mengubah cara seseorang memandang perjuangan. Organisasi memang harus memberikan ruang aktualisasi bagi kader. Namun, jika orientasi pada manfaat pribadi menjadi satu-satunya ukuran, maka ruh perjuangan akan perlahan menghilang.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang tidak hanya bertanya apa yang akan diperoleh dari organisasi, tetapi juga apa yang dapat diberikan kepada organisasi dan masyarakat. Salah satu persoalan penting dalam kaderisasi adalah munculnya kecenderungan kader untuk menjadi konsumen organisasi.
Mereka menikmati fasilitas pendidikan Muhammadiyah, belajar di perguruan tinggi Muhammadiyah, mendapatkan pengalaman dari berbagai kegiatan organisasi, membangun jejaring, bahkan memperoleh peluang karier melalui ekosistem persyarikatan. Namun, setelah memperoleh berbagai manfaat tersebut, tidak semua merasa memiliki kewajiban untuk mengembalikan sesuatu kepada persyarikatan.
Kita perlu mengubah paradigma dari "apa yang Muhammadiyah berikan untuk saya" menjadi "apa kontribusi saya untuk Muhammadiyah". Organisasi yang besar tidak boleh hanya menghasilkan kader-kader yang pandai memanfaatkan peluang, melainkan juga harus mampu menghasilkan kader yang memiliki kesadaran untuk menciptakan peluang bagi orang lain.
Di sinilah konsep fastabiqul khairat menemukan relevansinya. Berlomba-lomba dalam kebaikan bukan berarti berlomba untuk mendapatkan posisi, melainkan berlomba untuk memberikan manfaat. Namun demikian, menghadapi generasi baru tidak berarti kita harus menghakimi mereka sebagai generasi yang lemah atau tidak mampu bertahan dalam proses tersebut.
Generasi hari ini memiliki kekuatan yang berbeda. Mereka lebih adaptif terhadap teknologi, lebih terbuka terhadap informasi, memiliki kemampuan komunikasi yang lebih cepat, dan relatif lebih berani dalam menyampaikan gagasan. Saat ini yang dibutuhkan bukanlah memaksa mereka kembali menjadi generasi masa lalu, melainkan mentransformasikan keunggulan mereka menjadi energi gerakan.
Muhammadiyah tidak perlu memusuhi teknologi. Sebaliknya, Muhammadiyah harus memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kaderisasi. Kajian ideologi harus hadir di ruang digital. Materi Kemuhammadiyahan harus dikemas dengan bahasa yang relevan. Kisah perjuangan kader harus didokumentasikan secara menarik.
Diskusi intelektual harus hadir di berbagai platform digital. Bahkan proses kaderisasi dapat memanfaatkan kecerdasan buatan, teknologi pembelajaran, dan komunitas digital. Namun teknologi hanyalah alat dan tidak boleh menggantikan proses pembentukan karakter. Seorang kader tetap membutuhkan pengalaman lapangan, interaksi sosial, pengabdian, kepemimpinan, serta pengalaman dalam menghadapi persoalan nyata.
Kaderisasi tidak cukup dilakukan melalui pengumpulan pengetahuan, melainkan juga membutuhkan peningkatan pengalaman dan karakter. Militansi tidak bisa diajarkan hanya melalui ceramah, tetapi harus dialami. Kader akan memahami arti kesabaran ketika ia mengelola program yang tidak langsung berhasil.
Kader akan memahami arti tanggung jawab ketika diberi amanah yang berat. Kader akan memahami makna pengabdian ketika bekerja di tengah masyarakat yang membutuhkan bantuan. Karena itu, kaderisasi Muhammadiyah perlu memberikan lebih banyak ruang bagi pengalaman nyata.
Kader muda harus diberi kesempatan untuk mengelola sekolah, masjid, panti asuhan, lembaga sosial, kegiatan ekonomi, program pemberdayaan masyarakat, advokasi publik, hingga gerakan lingkungan. Mereka perlu merasakan bahwa menjadi kader bukan sekadar menghadiri rapat, seminar, atau pengajian. Kader harus ditempa oleh persoalan.
Sebab karakter tidak lahir dari kenyamanan. Karakter lahir ketika seseorang berhadapan dengan pilihan antara bertahan atau menyerah, berbuat atau hanya berbicara, mengambil keuntungan pribadi atau memperjuangkan kepentingan bersama.
Ada persoalan lain yang perlu dibicarakan secara terbuka, yaitu agar kaderisasi tidak berubah menjadi sekadar jalan menuju posisi. Jika orientasi kaderisasi terlalu bertumpu pada jabatan, maka kader dapat belajar berorganisasi bukan untuk memperjuangkan nilai, melainkan untuk mendapatkan posisi.
Akibatnya, organisasi berpotensi menghasilkan kader yang sibuk menghitung peluang, bukan menghitung kontribusi. Muhammadiyah membutuhkan kader perjuangan, bukan sekadar kader jabatan. Kader perjuangan siap berada di depan ketika dibutuhkan, tetapi juga bersedia berada di belakang ketika orang lain lebih layak memimpin. Ia mampu bekerja meskipun namanya tidak disebut. Ia tetap mengabdi meskipun tidak memperoleh posisi struktural. Inilah bentuk militansi yang sesungguhnya.
Sebab organisasi akan rapuh apabila kader hanya mau bekerja apabila memperoleh jabatan. Sebaliknya, organisasi akan kuat apabila kader tetap bekerja meskipun tidak sedang menduduki posisi apa pun.
Militansi juga tidak boleh dipertentangkan dengan profesionalisme. Justru Muhammadiyah membutuhkan kader yang militan sekaligus profesional. Militansi tanpa kompetensi dapat melahirkan semangat yang tidak produktif. Sebaliknya, profesionalisme tanpa ideologi dapat melahirkan kemampuan yang kehilangan arah.
Kader Muhammadiyah masa depan harus memiliki dua kaki, yaitu satu kaki berpijak pada ideologi gerakan, satu kaki berpijak pada kompetensi profesional. Kader Muhammadiyah harus memahami Islam dan juga menguasai ilmu pengetahuan. Kader Muhammadiyah memiliki komitmen terhadap persyarikatan, tetapi juga mampu berkompetisi secara global. Kader Muhammadiyah memiliki kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial.
Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti pada pembentukan “orang Muhammadiyah”, tetapi juga menghasilkan manusia yang mampu menghadirkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam berbagai bidang kehidupan. Militansi pada akhirnya selalu berhubungan dengan kesediaan untuk berkorban. Inilah nilai yang barangkali semakin sulit ditemukan di tengah budaya konsumtif dan individualistik.
Banyak orang ingin mendapatkan hasil maksimal dengan pengorbanan yang minimal. Padahal hampir seluruh capaian besar Muhammadiyah dibangun melalui pengorbanan. Karena itu, kaderisasi harus menghidupkan kembali budaya memberi. Bukan hanya memberi uang, tetapi juga memberi waktu. Bukan hanya memberi tenaga, tetapi juga memberi gagasan. Bukan hanya memberi kritik, tetapi juga menawarkan solusi.
Di era media sosial, ukuran keberhasilan gerakan sering kali terjebak pada seberapa viral sebuah kegiatan. Padahal viral belum tentu berdampak. Sebuah program mungkin memperoleh ribuan penonton, tetapi tidak mengubah kehidupan siapa pun. Sebaliknya, sebuah program kecil di desa mungkin hanya diketahui oleh puluhan orang, tetapi berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Muhammadiyah perlu menggeser orientasi kader dari visibilitas ke dampak. Tidak semua kebaikan harus viral. Tidak semua perjuangan membutuhkan panggung. Tidak semua prestasi harus dipublikasikan.
Kader yang matang memahami bahwa ukuran utama perjuangan bukanlah seberapa banyak orang mengetahui apa yang ia kerjakan, melainkan seberapa banyak manfaat yang dihasilkan dari pekerjaannya. Inilah etos amal saleh yang seharusnya menjadi fondasi militansi kader.
Pada akhirnya, kaderisasi bukan sekadar agenda organisasi melainkan suatu investasi peradaban. Muhammadiyah telah berusia lebih dari satu abad. Tantangan terbesar organisasi bukan bagaimana mempertahankan apa yang telah ada, melainkan bagaimana memastikan nilai dan semangat gerakan tetap hidup pada generasi berikutnya.
Gedung dapat dibangun kembali. Amal usaha dapat dikembangkan. Teknologi dapat diperbarui. Namun, jika ruh gerakan kehilangan kader yang memiliki ideologi, integritas, kompetensi, dan militansi, maka keberlanjutan organisasi akan menghadapi persoalan yang serius.
Karena itu, militansi kader harus ditumbuhkan kembali, bukan dengan romantisme masa lalu, bukan pula dengan doktrinasi yang kaku, melainkan melalui proses kaderisasi yang relevan, dialogis, intelektual, dan berbasis pengalaman.
Generasi muda tidak perlu dipaksa menjadi seperti generasi terdahulu. Mereka perlu dibimbing agar memahami mengapa generasi terdahulu berjuang, lalu diberi ruang untuk menemukan bentuk perjuangan baru yang sesuai dengan tantangan zaman mereka.
Di tengah dunia yang serba cepat, Muhammadiyah justru membutuhkan kader yang mampu memperlambat langkah saat harus berpikir, memperdalam pemahaman saat harus mengambil keputusan, dan memperpanjang napas saat menghadapi perjuangan panjang.
Sebab perubahan besar tidak lahir dari mentalitas yang instan. Peradaban dibangun oleh manusia yang bersedia menanam hari ini meskipun belum tentu menikmati buahnya esok hari. Di situlah militansi menemukan maknanya, yaitu tetap bergerak ketika tepuk tangan berhenti, tetap berjuang ketika hasilnya belum terlihat, dan tetap mengabdi ketika tidak ada jabatan yang menunggunya.
Muhammadiyah tidak kekurangan kader yang cerdas. Tantangannya adalah memastikan kecerdasan itu memiliki arah, kompetensi memiliki nilai, dan keberanian memiliki keteguhan. Sebab pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kader yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa kuat karakter perjuangan yang hidup di dalam diri para kader.

