TANGSEL, Suara Muhammadiyah – PKBM Kak Seto menerima kunjungan dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Nonformal serta Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari model tata kelola dan keberhasilan Sekolah Kak Seto dalam rangka mendukung program strategis Muhammadiyah, "1 Cabang 1 PKBM", Rabu (28/1).
Delegasi dihadiri oleh perwakilan Majelis Dikdasmen dan PNF, Gufron Amirullah dan Fazhar Restu Fauzi, serta dari LPCRPM, dr. Fakhri Haidar Anis dan Achmad Fauzi. Turut mendampingi dari Pimpinan Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Banten, Euis Hendrawati dan Misdayati.
Fazhar Restu Fauzi mewakili Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah mengatakan bahwa tata kelola PKBM di lingkungan Muhammadiyah belum digarap dengan baik. "Kunjungan ke PKBM Kak Seto ini diharapkan dapat dijadikan benchmarking untuk program '1 Cabang 1 PKBM' kami. Kami ingin mempelajari model pengelolaan yang telah terbukti berhasil, terutama dalam aspek manajerial dan pendekatan pendidikan," ujar Fazhar.
Seto Mulyadi (Kak Seto) adalah tokoh utama PKBM Kak Seto. Sementara itu, Budi Kurnia Suhaeri, Ketua Yayasan Kazeto Putra Perkasa, yang mengurus operasional dan pengembangan PKBM Kak Seto di berbagai wilayah seperti Tangerang Selatan dan Pekanbaru, memaparkan kunci keberhasilan PKBM Kak Seto.
Budi Kurnia Suhaeri menjelaskan bahwa kunci keberhasilan PKBM Kak Seto terletak pada manajemen yang solid dan pemisahan tata kelola aset. "Kami memisahkan antara pengelolaan aset dan pelaksanaan operasional. Pembayaran gaji dan pelaksanaan program ditangani oleh Yayasan, sementara pengelolaan aset ditangani oleh Pihak Ketiga. Prinsip ini penting untuk menjaga stabilitas dan menghindari masalah hukum, seperti yang kami pelajari dari lembaga-lembaga besar lainnya," ujar Budi.
Dalam aspek pendidikan, PKBM Kak Seto menekankan bahwa magnet utama mereka bukan hanya nama besar, tetapi juga pendekatan pembelajaran yang berfokus pada karakter dan psikologis siswa. "Kebanyakan yang datang ke sini adalah anak-anak dari kalangan high class, direktur BUMN, anggota DPR, dokter spesialis, yang memiliki masalah psikologis atau tidak cocok dengan sistem sekolah formal yang kaku," jelas Budi.
PKBM Kak Seto menerapkan asesmen diagnostik untuk menyesuaikan kebutuhan setiap siswa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan psikologis terlebih dahulu, bukan langsung ke mata pelajaran. Hal ini tercermin dari penggunaan panggilan "Kakak" alih-alih "Bapak/Ibu" untuk membangun kedekatan dan mempermudah siswa mengungkapkan problem mereka. Visi utama Sekolah Kak Seto adalah mencetak "Community Builder dan Good Character" melalui kurikulum Cerdas, Kreatif, dan Ceria, yang mengacu pada delapan dimensi kecerdasan Howard Gardner.
Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan wawasan praktis bagi Muhammadiyah dalam mengembangkan program "1 Cabang 1 PKBM" yang tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada tata kelola kelembagaan yang kuat dan pendekatan pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan unik setiap peserta didik.
Dalam diskusi, kemandirian PKBM menurut Fauzi adalah bentuk tanggung jawab moral agar program tidak terhenti di tengah jalan. Dengan komitmen awal yang kuat dan strategi manajemen yang mandiri, PKBM diharapkan tumbuh menjadi pusat keunggulan yang berdaulat secara ekonomi. “Maka kita yang mencetuskan PKBM ini, harus bisa menghasilkan. ‘Do it untuk duit,’ istilah saya. Jadi kita kerja dulu, mendatangkan uang, jangan kita minta duit dulu di awal pendirian PKBM,” tutup Fauzi dari LPCRPM. (GUF/Hendra Apriyadi)

