MPKS PWM Jatim Gelar Upgrading AUMSos Regional: Perkuat Sinergi dan Kaderisasi Pengelola Sosial
SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar kegiatan Upgrading AUMSos Regional di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Jumat (15/05). Kegiatan ini menjadi ajang penguatan sinergi, peningkatan kapasitas, dan kaderisasi pengelola amal usaha sosial Muhammadiyah di Jawa Timur.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung hingga Ahad (17/05) ini, menjadi momentum penting bagi penguatan struktur Muhammadiyah di bidang sosial.
Dalam sambutannya, Ketua MPKS PWM Jatim, M. Himawan Sutanto, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi yang tinggi atas antusiasme para peserta. Tercatat, sebanyak kurang lebih 200 peserta hadir memenuhi aula kegiatan.
”Dari hampir 200 peserta tersebut, insyaAllah mewakili 38 kota dan kabupaten di Jawa Timur. Jadi lengkap, meskipun mungkin tidak semua (personel) hadir, tapi sudah melengkapi keterwakilan daerah,” ujarnya.
Berdasarkan data pemetaan, peserta terbanyak berasal dari Kota Surabaya, disusul oleh Lamongan, dan Kediri. Komposisi peserta didominasi oleh para kepala atau pengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), para Ketua MPKS tingkat daerah, hingga Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) yang membidangi kesejahteraan sosial.
Himawan menekankan bahwa agenda upgrading ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan amanah dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tujuan utamanya adalah membangun sinergi yang maksimal antara Pimpinan Daerah, Majelis, dan pengelola lembaga di lapangan.
”Kenapa kita membangun sinergi yang lebih maksimal? Agar ke depan, permasalahan-permasalahan sosial tidak lagi terbengkalai dan bisa diselesaikan secara tuntas di level pimpinan daerah masing-masing,” tegasnya.
Selain sinergi, isu kaderisasi menjadi sorotan utama. Himawan berharap melalui kegiatan ini, akan muncul kader-kader baru yang memiliki militansi dan kompetensi di bidang kesejahteraan sosial.
”Kami berharap munculnya kaderisasi di bidang kesejahteraan sosial. Menurut kami, ini sangat penting untuk masa depan sebagai salah satu amanah dari persyarikatan Muhammadiyah,” tambahnya.
Himawan mengajak seluruh pimpinan MPKS untuk menjadikan acara ini sebagai wadah berbagi (sharing). Ia menegaskan bahwa pimpinan wilayah tidak selalu lebih baik dari pimpinan daerah, sehingga semangat saling mengisi kekurangan sangat diperlukan.
”Kalau ada yang kurang, mari kita perbaiki bareng-bareng. Kalau ada yang lebih, ya monggo kita bagikan bareng-bareng. Selamat bergembira ber-Muhammadiyah sampai hari Ahad nanti,” ujar Himawan dengan tegas.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Muh. Khoirul Abduh, S.Ag., M.Si., memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiasi kegiatan upgrading bagi pengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja strategis Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PWM Jawa Timur untuk meningkatkan standar pelayanan panti asuhan di seluruh wilayah.
Khoirul Abduh menegaskan bahwa tantangan masa depan menuntut panti asuhan Muhammadiyah untuk bertransformasi dalam hal personalitas dan tata kelola.
"Hari ini kita butuh betul tentang profesionalitas itu, termasuk tata kelola dan lain sebagainya, sehingga ke depan panti asuhan lebih berkemajuan dalam konteks penataannya," ujarnya.
Fokus utama dari gerakan ini adalah memastikan seluruh LKSA di Jawa Timur memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dalam menangani anak asuh secara profesional.
Lebih lanjut, Khoirul Abduh mengungkapkan harapannya agar panti asuhan tidak sekadar menjadi tempat tinggal, tetapi menjelma menjadi Kawah Candradimuka, tempat penggemblengan bagi anak-anak LKSA agar bisa tumbuh secara normal dan berprestasi.
Target keberhasilan dari pembinaan ini meliputi kehidupan yang normal untuk memastikan anak asuh mendapatkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang layaknya anak-anak pada umumnya, mendorong anak asuh untuk unggul dalam bidang agama, pengetahuan umum, dan keterampilan lainnya (prestasi multisektoral), serta membentuk karakter anak-anak panti agar menjadi individu yang kuat dan berkontribusi bagi masyarakat.
Program penguatan ini menyasar seluruh LKSA Muhammadiyah yang tersebar di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Saat ini, koordinasi terus diperkuat terutama untuk merangkul wilayah yang sedang dalam pengembangan intensif seperti Kabupaten Probolinggo dan Pacitan.
Dengan adanya sinergi antara MPKS dan jajaran pimpinan wilayah, diharapkan panti asuhan Muhammadiyah di Jawa Timur dapat menjadi model percontohan nasional dalam pengelolaan lembaga kesejahteraan sosial yang mandiri dan profesional.
Sementara itu, Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Mariman Darto, SE., M.Si., memberikan apresiasi mendalam atas langkah strategis MPKS PWM Jawa Timur dalam menyelenggarakan agenda upgrading panti asuhan se-Jawa Timur.
Kegiatan ini dinilai sebagai terobosan penting dalam menjawab tantangan pengelolaan lembaga kesejahteraan sosial di era modern.
Mariman menyoroti kehadiran para Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) yang membidangi MPKS dalam acara ini. Menurutnya, keterlibatan pengambil kebijakan di tingkat daerah adalah kunci suksesnya sebuah gerakan sosial.
"Selama ini kegiatan seringkali hanya di level teknis Ketua LKSA atau Ketua MPKS. Namun, melibatkan pimpinan daerah sebagai pengambil keputusan akan memastikan setiap persoalan sosial di daerah menjadi isu prioritas yang segera mendapatkan solusi," ungkapnya.
Mariman menekankan pentingnya profesionalitas untuk menghindari fenomena panti asuhan yang hanya aktif secara musiman. Ia merujuk pada data Kementerian Sosial yang mencatat ribuan panti asuhan di Indonesia baru menunjukkan aktivitas signifikan menjelang bulan Ramadan demi mendapatkan bantuan masyarakat.
"Muhammadiyah hadir bukan sekadar untuk urusan administratif. Target utama kita adalah bagaimana memproduktifkan panti, menjamin hak-hak sosial anak, serta mencukupi kebutuhan fisik dan mental mereka secara berkelanjutan, bukan musiman," tegasnya.
Selain fokus pada anak asuh di LKSA, Mariman mendorong MPKS di seluruh daerah untuk mulai memberikan perhatian serius pada kelompok rentan lainnya, yaitu penyandang disabilitas dan lansia. MPKS diminta memastikan aksesibilitas dan pelayanan yang setara sehingga kelompok disabilitas dapat beraktivitas dengan baik.
Begitu pula dengan perhatian bagi kelompok lansia, MPKS perlu mengadakan program perlindungan yang produktif bagi mereka. Mengingat jumlah lansia di Indonesia telah mencapai 20% dari total penduduk.
Mariman Darto berharap inisiasi yang dilakukan oleh Muh. Khoirul Abduh (Wakil Ketua PWM Jatim) dan tim MPKS Jatim ini dapat dicontoh oleh wilayah-wilayah lain di seluruh Indonesia. Ia optimis bahwa dengan kesamaan persepsi dan sinergi yang kuat, perguruan dan amal usaha sosial Muhammadiyah akan semakin dipercaya oleh masyarakat luas. (Yuda)

