Muchamad Arifin: Jangan Tunggu Siap untuk Berdakwah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
978
Foto Istimewa

Foto Istimewa

KEDIRI, Suara Muhammadiyah – Cahaya pagi di Masjid Nurul Hikmah, Kota Kediri, menjadi saksi hadirnya sebuah majelis ilmu yang begitu menggugah jiwa. Dalam kajian istimewa yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Kediri, hadir Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadz Muchamad Arifin, yang menyampaikan kajian bertema “Dakwah Menyapa Pinggiran: Menjadi Terang di Tempat yang Terlupakan.”

Sejak pagi buta, jamaah dari berbagai penjuru Kota Kediri dan sekitarnya telah memadati Masjid Nurul Hikmah. Antusiasme luar biasa tampak begitu nyata—barisan jamaah tak hanya memenuhi ruang utama masjid, tetapi juga meluber ke halaman, bahkan hingga ke tepi jalan raya. Karpet digelar, sajadah dibentang, dan setiap telinga disiapkan untuk menyimak dengan hati.

Dengan penuh ketulusan, Ustadz Arifin membuka ceramahnya dengan pengingat yang menusuk nurani. “Banyak lahan dakwah yang masih sunyi, menanti kehadiran kita. Di pelosok-pelosok negeri, di lorong sempit kota, bahkan di balik jeruji, masih banyak saudara kita yang belum tersentuh cahaya Islam,” ucapnya Ahad (11/5).

Beliau lalu menuturkan kisah-kisah nyata dari medan dakwah yang selama ini jarang terdengar. Tentang perjuangan para dai komunitas yang hidup bersama mualaf Baduy, menyusuri kampung-kampung adat di Kalimantan Selatan, hingga berdakwah di penjara yang penuh keterbatasan. 

“Dakwah di balik deruji bukan perkara mudah. Tapi di sanalah saya temukan air mata taubat, hati yang rapuh tapi rindu hidayah,” kisahnya, membuat suasana majelis terdiam haru.

Pesan beliau terasa begitu mendalam saat menyampaikan, “Jangan tunggu siap untuk berdakwah. Justru karena belum siaplah kita butuh dakwah. Kalau bukan kita yang datang ke mereka, siapa lagi?” Seruan itu membangkitkan kesadaran jamaah bahwa dakwah bukanlah tugas segelintir orang, tapi panggilan bersama.

Ustadz Arifin menegaskan, dakwah bukan hanya tentang ceramah atau mimbar, tetapi tentang kepedulian. “Jika kaki tak bisa melangkah, maka gerakkan tangan untuk memberi. Jika lisan tak bisa menyapa, maka doakan. Tapi jangan pernah diam, karena diam kita bisa jadi gelap bagi mereka yang menanti terang,” sebutnya.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali menggelar kegiata....

Suara Muhammadiyah

7 August 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Rapat Senat Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar telah mengesa....

Suara Muhammadiyah

11 June 2024

Berita

GARUT, Suara Muhammadiyah — Dalam rangka memperingati Milad ke-112 Muhammadiyah, Pimpinan Caba....

Suara Muhammadiyah

30 November 2024

Berita

LUWU, Suara Muhammadiyah - Hal yang tidak kalah menggembirakan dari kondisi Persyarikatan di Luwu ad....

Suara Muhammadiyah

22 January 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muh....

Suara Muhammadiyah

7 January 2026