MDMC dan UNFPA Libatkan Kader PCIM Timur Tengah - Afrika Utara
JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah bersama United Nations Population Fund (UNFPA) memperluas keterlibatan pemangku kepentingan dalam agenda “Zakat untuk Kesehatan Reproduksi dan Kekerasan Berbasis Gender” melalui partisipasi kader dan alumni Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dari Sudan, Tunisia, dan Maroko.
Keterlibatan kader PCIM tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas jangkauan diskusi sekaligus memperkaya penyusunan kerangka zakat yang responsif terhadap kesehatan reproduksi dan kekerasan berbasis gender. MDMC memandang pengalaman dan perspektif kader Muhammadiyah yang berada di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara penting untuk memahami relevansi program bagi masyarakat yang hidup dalam situasi kerentanan, termasuk wilayah terdampak konflik maupun krisis kemanusiaan.
PIC agenda sekaligus Wakil Sekretaris I MDMC, Abdoel Malik, menjelaskan bahwa pelibatan alumni PCIM Sudan, Maroko, dan Tunisia dirancang agar proses outreach agenda ini dapat menjangkau jejaring yang lebih luas.
“Keterlibatan alumni PCIM Sudan, Maroko dan Tunisia, biar outreach lebih meluas,” ujar Abdoel Malik.
Menurut Abdoel Malik, pelibatan jaringan PCIM di kawasan Timur Tengah juga memiliki tujuan strategis. Forum ini diharapkan dapat menyerap pandangan dari konteks masyarakat yang memiliki pengalaman langsung maupun kedekatan terhadap situasi konflik, perpindahan penduduk, kerentanan sosial, serta bencana alam.
“Mengapa PCIM Timteng dilibatkan, karena ingin mendapatkan pandangan dari sana dan bagaimana nantinya bisa diterapkan dikemudian hari oleh lembaga filantropi Islam untuk daerah rentan konflik dan krisis alam,” kata Abdoel Malik.
Tiga perwakilan kader dan alumni PCIM turut berpartisipasi dalam agenda tersebut, yaitu Dimas Muhammad Hanief Arkaan selaku Ketua Majelis Filantropi PCIM Sudan, Alasti Elva Mentari sebagai kader PCIM Tunisia, serta Sayyidah Nafisah selaku Wakil Ketua PCIM Maroko.
Kehadiran mereka memperkuat dimensi kolaborasi lintas negara dalam diskusi mengenai pemanfaatan zakat. Dalam konteks krisis kemanusiaan, kebutuhan akan layanan kesehatan reproduksi dan perlindungan dari kekerasan berbasis gender kerap meningkat, sementara kelompok rentan menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, perlindungan sosial, dan bantuan kemanusiaan yang layak.
Para kader PCIM tersebut menyambut agenda ini dengan antusias. Mereka menilai diskusi mengenai zakat untuk kesehatan reproduksi dan kekerasan berbasis gender penting untuk memberikan pemahaman yang lebih konkret mengenai persoalan yang dihadapi masyarakat rentan, sekaligus mendorong lahirnya solusi yang dapat diterapkan secara nyata.

