GORONTALO, Suara Muhammadiyah – Kedudukan Fakultas kedokteran sangat strategis dalam mata rantai kehidupan khususnya disektor kesehatan. Keberadaannya memegang peranan amat substansial.
“Hal itu sudah disadari sejak periode pemerintahan yang lalu. Ditempatkan sebagai program afirmasi, yaitu sebagai bagian upaya kita membangun Indonesia dari pinggiran,” kata Muhadjir Effendy, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mantan Menko PMK.
Produksi dokter di Indonesia, kata Muhadjir, masih sangat kurang. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, pasokan dokter umum nasional saat ini defisit sekitar 93.200 orang. Kondisi itu menurut Muhadjir, diperparah oleh adanya penumpukan dokter di Jawa-Bali dan kota-kota besar.
“Sementara dokter yang ditugaskan di daerah-daerah terpencil hanya bertahan sebentar, pindah ke kota karena mereka bukan putra asli daerah setempat,” bebernya, Selasa (14/7) saat Sidang Senat Terbuka Resepsi Milad XVIII Wisuda XXIII di Gedung Indoor David Bobihoe Akib Universitas Muhammadiyah Gorontalo.
Bagi Muhadjir, membuka dan memperbanyak fakultas kedokteran di daerah khususnya di luar Jawa menjadi keniscayaan. Dan dalam konteks ini, Muhammadiyah telah bergerak di garda terdepan dengan mengambil langkah konkretnya: pendirian fakultas kedokteran antara lain di UM Gorontalo ini.
“Ini adalah bentuk respons Muhammadiyah dalam membantu pemerintah mensukseskan program program unggulan atau superprioritas pemerintah untuk pemerataan tenaga dokter di selurh Indonesia,” katanya.
Di tengah jumlah tenaga dokter yang kurang, maka Muhadjir mendorong adanya langkah terobosan dengan koridor program afirmasi berupa pemberiaan beasiswa pendidikan khusus dokter.
“Saya kira saat ini juga dari LLDIKTI menyediakan beasiswa, bisa diambilkan dari LPDP sehingga pemerataan dokter itu bisa segera terpenuhi,” jelasnya.
Hidup di Era “VUCA”
Landskap global saat ini tengah mengalami transformasi sangat cepat, begitu rupa, yang disebabkan oleh munculnya VUCA: Volatility (volatilitas), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas).
“Dan inilah tanda-tanda zaman yang semakin mudah berubah-ubah, tidak pasti, ruwet dan mengganda arti atau ambiguitas”, tandasnya.
Di sinilah masalah pendidikan berkualitas menjadi sangat fundamental. Penguasaan satu disiplin ilmu saja tidak lagi cukup untuk menjawab berbagai persoalan yang semakin kompleks.
“Karena itu anak-anakku sekalian anda tidak bisa sepenuhnya mengandalkan disiplin anda untuk menyelesaikan masalah,” tegas Muhadjir.
Ia mendorong para lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah, khususnya Universitas Muhammadiyah Gorontalo, untuk mengembangkan kompetensi lintas disiplin, memperkuat integritas, serta mengabdikan ilmu pengetahuan bagi kepentingan masyarakat. (Cris)

