BANTUL, Suara Muhammadiyah - Pembinaan akhlak anak tidak hanya berlangsung di rumah dan sekolah, tetapi juga dapat dikembangkan melalui lingkungan ibadah seperti musala. Berangkat dari kesadaran tersebut, takmir Musala Al Wahda di Dukuh Glondong Wirokerten Banguntapan Bantul menggagas kerja sama pengabdian dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk mengembangkan konsep musala ramah anak.
Inisiatif ini disambut oleh dosen Psikologi UMY, Anita Aisah, S.Psi., M.Psi., Psikolog., yang kemudian merancang program pengabdian masyarakat bertajuk Musala Ramah Anak. Program ini dilaksanakan sejak Januari 2026 melalui kolaborasi antara dosen Psikologi UMY, takmir Musala Al Wahda, serta Ghifari Yuristiadhi, SS., MA. selaku dosen Sekolah Vokasi UGM yang memiliki pengalaman dalam Majelis Pendidikan Kader Muhammadiyah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) untuk mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan di Musala Al Wahda. Hasil diskusi menunjukkan tiga persoalan utama, yaitu belum adanya keterlibatan remaja secara terorganisasi, rendahnya kepercayaan diri jamaah dalam menyampaikan materi dakwah sehingga hanya didominasi oleh individu tertentu, serta belum terselenggaranya kegiatan belajar Al-Qur’an secara rutin.
Musala Al Wahda sendiri merupakan musala yang relatif baru, didirikan pada tahun 2022 dan mulai digunakan secara aktif pada Ramadan 2023. Takmir musala kemudian menggandeng UMY untuk membantu merumuskan arah pengembangan musala, termasuk menjadikannya sebagai ruang ibadah yang ramah anak dan mendukung kaderisasi.
Sebagai tindak lanjut, kegiatan pengabdian dilaksanakan dalam bentuk outing, pelatihan public speaking, dan sosialisasi Musala Ramah Anak yang digelar di Dolan nDeso Boro pada Ahad, 8 Februari 2026. Kegiatan outing dipandu oleh Ma’ruf, S.Pd., guru SMK Muhammadiyah 3 sekaligus trainer outbound. Melalui berbagai permainan kolaboratif, peserta diajak membangun kekompakan, strategi, dan komunikasi antarjamaah.
Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan public speaking yang diisi oleh Intarti, S.S., M.A., seorang praktisi public speaking sekaligus kader aktif Nasyiatul Aisyiyah. Dalam sesi ini, peserta didorong untuk lebih percaya diri dalam berdakwah. Intarti menekankan bahwa setiap individu memiliki potensi berbicara di depan publik yang dapat berkembang melalui latihan, tanpa harus meniru gaya orang lain.
Selanjutnya, sosialisasi Musala Ramah Anak disampaikan oleh Ghifari Yuristiadhi, S.S., M.A. Kegiatan ini diawali dengan pemaparan indikator musala ramah anak, kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Setiap kelompok memetakan kondisi yang sudah ada serta kebutuhan yang perlu dipenuhi untuk mewujudkan musala ramah anak. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan dan diperkaya dengan berbagai masukan, salah satunya adalah pentingnya menyediakan ruang baca bagi anak di lingkungan musala.
Dua minggu setelah pelatihan, memasuki bulan Ramadan, mulai terlihat perubahan yang signifikan dibandingkan tiga Ramadan sebelumnya. Keaktifan remaja meningkat dan lebih terorganisasi dengan terbentuknya Remaja Musala Al Wahda (RISMA). Kehadiran RISMA memudahkan koordinasi berbagai kegiatan anak dan remaja di musala.
Selain itu, pelatihan public speaking menunjukkan hasil nyata. Para remaja mulai tampil secara bergantian sebagai pemateri setelah salat tarawih. Jumlah pengisi kajian menjelang berbuka puasa juga semakin beragam. Jika sebelumnya hanya didominasi oleh bapak-bapak dengan tema seputar Ramadan, kini panitia memberikan kebebasan tema sesuai pengalaman para jamaah, baik bapak maupun ibu. Hal ini mendorong partisipasi yang lebih luas dan suasana dakwah yang lebih hidup.
Ketua Takmir Musala Al Wahda, Jauhari, S.Pd., mengungkapkan bahwa program ini membawa dampak positif bagi jamaah. “Kedekatan antarjamaah semakin erat setelah kegiatan ini. Remaja juga mulai berinisiatif membentuk organisasi remaja musala, dan suasana Ramadan menjadi lebih meriah,” ujarnya.
Ke depan, takmir Musala Al Wahda berharap pendampingan ini dapat berlangsung secara berkelanjutan. Diperlukan pelatihan lanjutan terkait keorganisasian bagi remaja musala serta pendampingan kegiatan anak secara rutin agar program yang telah dirintis dapat terus berkembang.
Melalui program pengabdian ini, Musala Al Wahda diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembinaan akhlak dan kaderisasi yang ramah bagi anak dan remaja. Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran musala sebagai pusat pembinaan umat yang berkemajuan.

