BANTUL, Suara Muhammadiyah – Dalam Al-Qur’an, Allah telah menyeru kepada orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya. Yang dari sinilah diberikan kemampuan furqan. Demikian kata Muhammad Sayuti, menukil penggalan surat al-Anfal ayat 29.
“Jadi kalau kita berniat ikhtiar melakukan perintah-perintah Allah dengan ikhlas tidak iri, dengki, tidak meninggalkan ibadah, tertib lima waktu, sedekah, Allah itu memberikan kemampuan menjadi furqan untuk membedakan antara yang hak dan dan batil,” urai Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Dengan memiliki furqan sebagai buah dari usaha membangun fondasi takwa di dalam jiwa, menurut Sayuti, orang tersebut akan memiliki sensitivitas untuk menyeleksi pelbagai tindakan-tindakan yang bersifat subversif.
“Kalau sudah tertib ibadahnya, Allah memberikan kita kemampuan untuk memilih (benar atau tidak tindakan tersebut, red),” tutur Sayuti, dalam Subuh Ceria, Ahad (18/1) di Masjid Khoirul Ummi Kasihan Tamantirto, Kasihan, Bantul.
Maknanya kemudian, orang itu dengan kemampuan furqannya, niscaya tidak tergelincir dalam jalan kesesatan. “Dia memiliki kekuatan untuk tidak ikut kebatilan,” sebutnya. Mencontohkan tindakan korupsi.
“Mau diajak yang tidak benar, dia memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan salah (tidak melakukan korupsi,” red),” tegas Sayuti, menggarisbawahi betapa pentingnya kemampuan furqan itu. Di samping itu, juga akan menghapus segala kesalahan dan mengampuni dosa-dosa yang diperbuat.
“Jadi orang yang diberikan derajat takwa, ingin menjadi takwa, ikhtiar menjadi takwa, diberikan kemampuan Allah untuk furqan, kemampuan untuk memilah, membedakan antara yang benar dan salah, yang hak dan yang batil,” tandasnya. (Cris)

