PDNA Jaktim Dorong Ketahanan Pangan dan Deteksi Kanker Dini Melalui Kolaborasi dengan Magister Keperawatan UI

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

386
PDNA Jaktim

PDNA Jaktim

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Krisis iklim yang berdampak pada sektor pangan dan kesehatan perempuan menjadi perhatian serius Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Jakarta Timur. Sebagai wujud komitmen tersebut, PDNA Jakarta Timur menggelar Green Talkshow: Menjawab Krisis Iklim melalui Ketahanan Pangan Rumah Tangga dan Perlindungan Kesehatan Perempuan pada Sabtu, 14 Februari 2026 di Gedung Dakwah ‘Aisyiyah DKI Jakarta, Tebet Timur Dalam No. 4. Kegiatan ini dihadiri oleh 45 peserta yang terdiri dari kader Nasyiatul Aisyiyah dan masyarakat umum, serta menjadi ruang kolaborasi antara PDNA Jakarta Timur dengan Magister Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari SR12, Pocari Sweat, dan Bu Anas Snack.

Sejak awal kegiatan, suasana terasa hangat dan penuh semangat kolaboratif. Dalam sambutannya, Ketua PDNA Jakarta Timur, Restiana, menegaskan bahwa perempuan muda memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan krisis iklim, khususnya melalui penguatan ketahanan pangan keluarga. Ia menekankan bahwa gerakan besar selalu dimulai dari langkah kecil di rumah. Praktik urban farming, menurutnya, bukanlah sesuatu yang rumit dan justru sangat mungkin dilakukan oleh ibu rumah tangga. “Urban farming itu mudah dan bisa dimulai dari rumah. Ini bukan sekadar menanam, tetapi membangun kesadaran kemandirian pangan keluarga,” ujarnya.

Lebih jauh, Restiana juga menyampaikan visi keberlanjutan gerakan ini. Jika panen dilakukan secara serentak, PDNA Jakarta Timur berkomitmen membangun ekosistem distribusi hasil panen melalui pembentukan Badan Usaha dan Amal Nasyiatul Aisyiyah. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi kader secara kolektif.

Semangat tersebut kemudian diperkaya dengan cerita praktik baik dari Sri Zulfida, salah satu peserta yang aktif menjalankan budidaya ikan dalam ember (budikdamber) di rumahnya. Ia membagikan pengalamannya bagaimana budikdamber tidak hanya menghadirkan sumber pangan tambahan bagi keluarga, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi anak-anak. “Anak-anak belajar bertanggung jawab memberi makan ikan dan merawat tanaman. Jadi ini bukan hanya soal panen, tetapi proses pembelajaran di rumah,” tuturnya. Kisah ini menjadi bukti bahwa ketahanan pangan skala rumah tangga bukan sekadar wacana, melainkan bisa diwujudkan secara nyata dan berdampak langsung pada kehidupan keluarga.

Setelah mendengar praktik baik dari akar rumput, peserta kemudian diajak melihat isu ketahanan pangan dalam perspektif kebijakan nasional. Pada sesi materi pertama, Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, M. Nur Rianto Al Arif, memaparkan arah kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto melalui visi Asta Cita yang menitikberatkan pada kemandirian dan swasembada pangan. Ia menegaskan bahwa swasembada pangan tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebagai peningkatan produksi, tetapi harus mencakup kedaulatan input seperti benih dan pupuk, serta berdampak pada stabilitas harga dan kesejahteraan petani.

Dalam paparannya, Prof. Arif juga menguraikan berbagai tantangan pertanian saat ini, termasuk persoalan irigasi dan ketergantungan pada pupuk kimia. Pemerintah, menurutnya, tengah menggagas perbaikan sistem irigasi sebagai fondasi penguatan produksi pertanian, sekaligus mendorong penggunaan pupuk organik untuk menciptakan sistem budidaya yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan demikian, gerakan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan kebijakan di tingkat nasional diharapkan dapat saling terhubung dan saling menguatkan.

Isu ketahanan pangan kemudian dipadukan dengan perspektif kesehatan perempuan dalam sesi materi kedua yang disampaikan oleh Dr. Tuti Nuraini, S.Kp., M.Biomed, Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Ia menjelaskan bahwa perubahan lingkungan dan gaya hidup memiliki kaitan dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular, termasuk kanker payudara yang masih menjadi salah satu kasus kanker tertinggi pada perempuan.

Dr. Tuti menekankan pentingnya deteksi dini sebagai langkah penyelamatan. Ia memaparkan metode SADARI (Periksa Payudara Sendiri), SADANIS (pemeriksaan klinis), hingga pemeriksaan lanjutan seperti USG dan mamografi. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa pencegahan dapat dimulai dari pola hidup sehat, seperti rutin beraktivitas fisik, mengonsumsi buah dan sayur, serta menghindari faktor risiko seperti merokok dan konsumsi alkohol. Edukasi ini sekaligus memperkuat pesan bahwa ketahanan pangan yang baik akan berkontribusi pada kualitas gizi dan kesehatan perempuan.

Melalui rangkaian kegiatan yang menyatukan cerita akar rumput, arah kebijakan nasional, dan literasi kesehatan perempuan ini, PDNA Jakarta Timur berharap kader perempuan muda dapat menjadi agen perubahan yang utuh—tidak hanya tangguh dalam isu ketahanan pangan dan adaptasi krisis iklim, tetapi juga sadar dan peduli terhadap perlindungan kesehatan perempuan di tingkat keluarga dan komunitas.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah – Pengajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diselenggarakan o....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar acara Wisu....

Suara Muhammadiyah

24 February 2024

Berita

PALANGKA RAYA, Suara Muhammadiyah - Berbagi kepada sesama dalam setiap momen merupakan bagian dari k....

Suara Muhammadiyah

10 January 2026

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Semangat berbagi dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan mela....

Suara Muhammadiyah

14 June 2026

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Kwartir Daerah (Kwarda) Hizbul Wathan (HW) Lamongan menggelar Rapat K....

Suara Muhammadiyah

10 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah