Pemberdayaan Masyarakat sebagai Kunci dari Demokrasi yang Berdaya dan Bermakna

Suara Muhammadiyah

19 December 2025

744
Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakrta. Foto: Cris

Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakrta. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Demokrasi sebagai bagian integral dari pemberdayaan masyarakat. Melalui partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan, demokrasi membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan.

Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Nurul Yamin mengutarakan hal ini saat Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" yang ditulis oleh Irvan Mawardi.

Acara ini berlangsung di Lantai 3 Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta, Jumat (19/12).

"Demokrasi pada realitanya sering disangkutpautkan dengan konteks partisipasi. Pun demikian, juga sering dikaitkan dengan kemandirian dan subjek atau integritas," ujarnya.

Maka, sambung Yamin, pemberdayaan masyarakat sesungguhnya sebagai upaya untuk mengangkat dan mengungkit potensi masyarakat agar memiliki spirit partisipasi.

"Tidak apatis, memiliki spirit untuk menjadikan subjek," terangnya, yang juga menekankan sebagai ruang untuk mengatasi masalah.

 "Bukan menjadi bagian dari masalah," sambungnya dengan tegas. Di sinilah kemudian letak substansial dari buku tersebut.

"Melalui sebuah kajian yang cukup lama penulis akan memberikan perspektif lain," jelasnya.

Dalam acara tersebut, hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Secara khusus, Haedar menyoroti kata refleksi sebagai metode reflektif yang sering dikaitkan dengan kajian-kajian yang menggunakan teori substantif dan kualitatif, meniscayakan upaya mencari makna dibalik peristiwa di dalamnya.

"Yang harus kita gali, yang kita tidak boleh terjebak pada fenomena permukaan. Dibalik permukaan itu ada sesuatu yang substantif," bebernya, yang menekankan hal itu tidak tunggal.

"Cara memandangnya tidak bisa oleh satu sudut pandang, kecuali untuk satu aspek dengan sudut pandang itu," jelasnya.

Dalam konteks itu, dibutuhkan pendekatan multidimensional. Yang menurut pandangan Sartono Kartodirdjo, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebagai perspektivisme. "Melihat persoalan dari berbagai perspektif," ulasnya.

Acara ini menghadirkan Ketua KPU RI Mochamad Afifudin, Ketua Komisi II DPR RI M Rifqinizamy Karsayuda, Bendahara MPM PP Muhammadiyah Nasrullah, Pakar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar, Akademisi Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Pembina Perludem Titi Anggraini. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir hadir dalam....

Suara Muhammadiyah

29 October 2025

Berita

ACEH BESAR, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah (PD) ‘Aisyiyah Kabupaten Aceh Besar resmi mel....

Suara Muhammadiyah

24 June 2025

Berita

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Pengajian Selapanan yang diselenggarakan oleh PCM Kembaran di Balai D....

Suara Muhammadiyah

18 March 2024

Berita

Baitul Arqam Muballigh Muhammadiyah Makassar: Pencerahan Dakwah Berkemajuan MAKASSAR, Suara Muhamma....

Suara Muhammadiyah

24 November 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah — Jum’at, 21 Maret 2025 M., bertepatan 21 Ramadhan 1446 H.....

Suara Muhammadiyah

2 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah