Pemberdayaan Masyarakat sebagai Kunci dari Demokrasi yang Berdaya dan Bermakna

Suara Muhammadiyah

19 December 2025

717
Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakrta. Foto: Cris

Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakrta. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Demokrasi sebagai bagian integral dari pemberdayaan masyarakat. Melalui partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan, demokrasi membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini terpinggirkan.

Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Nurul Yamin mengutarakan hal ini saat Refleksi Akhir Tahun dan Bedah Buku "Sengkarut Pilkada Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah" yang ditulis oleh Irvan Mawardi.

Acara ini berlangsung di Lantai 3 Aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta, Jumat (19/12).

"Demokrasi pada realitanya sering disangkutpautkan dengan konteks partisipasi. Pun demikian, juga sering dikaitkan dengan kemandirian dan subjek atau integritas," ujarnya.

Maka, sambung Yamin, pemberdayaan masyarakat sesungguhnya sebagai upaya untuk mengangkat dan mengungkit potensi masyarakat agar memiliki spirit partisipasi.

"Tidak apatis, memiliki spirit untuk menjadikan subjek," terangnya, yang juga menekankan sebagai ruang untuk mengatasi masalah.

 "Bukan menjadi bagian dari masalah," sambungnya dengan tegas. Di sinilah kemudian letak substansial dari buku tersebut.

"Melalui sebuah kajian yang cukup lama penulis akan memberikan perspektif lain," jelasnya.

Dalam acara tersebut, hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Secara khusus, Haedar menyoroti kata refleksi sebagai metode reflektif yang sering dikaitkan dengan kajian-kajian yang menggunakan teori substantif dan kualitatif, meniscayakan upaya mencari makna dibalik peristiwa di dalamnya.

"Yang harus kita gali, yang kita tidak boleh terjebak pada fenomena permukaan. Dibalik permukaan itu ada sesuatu yang substantif," bebernya, yang menekankan hal itu tidak tunggal.

"Cara memandangnya tidak bisa oleh satu sudut pandang, kecuali untuk satu aspek dengan sudut pandang itu," jelasnya.

Dalam konteks itu, dibutuhkan pendekatan multidimensional. Yang menurut pandangan Sartono Kartodirdjo, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebagai perspektivisme. "Melihat persoalan dari berbagai perspektif," ulasnya.

Acara ini menghadirkan Ketua KPU RI Mochamad Afifudin, Ketua Komisi II DPR RI M Rifqinizamy Karsayuda, Bendahara MPM PP Muhammadiyah Nasrullah, Pakar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar, Akademisi Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Pembina Perludem Titi Anggraini. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Walidah Dahlan Universitas....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Jumat sore, 18 April 2025, Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat....

Suara Muhammadiyah

20 April 2025

Berita

FISIP UMSU dan LPM Teropong Adakan Seminar Nasional  MEDAN, Suara Muhammadiyah - Fakultas Ilmu....

Suara Muhammadiyah

10 October 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 20 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mene....

Suara Muhammadiyah

26 July 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Badan Pembina Taman Kanak-Kanak Islam Indonesia – Dewan Masjid I....

Suara Muhammadiyah

24 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah