YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah menggelar Seminar Internasional dalam rangka Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah pada Jumat, 16 Mei 2025, di Gedung AR Fachruddin UMY, Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Kehutanan RI sebagai pembicara utama yang menekankan pentingnya peran perempuan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Dirjen Kementerian Kehutanan menyampaikan materi yang berkaitan dengan perhutanan sosial perempuan sebagai pilar ekonomi restoratif yang berkeadilan gender.” Ia menegaskan bahwa perhutanan sosial bukan semata persoalan pengelolaan kawasan hutan, melainkan upaya membangun keterlibatan masyarakat desa sekitar hutan sebagai bagian utama dari pembangunan berkelanjutan.
“Perhutanan sosial bukan hanya tentang pengelolaan kawasan hutan, tetapi bagaimana masyarakat dan desa sekitar kawasan hutan menjadi bagian utama dalam pembangunan berkelanjutan,” ujarnya di hadapan peserta seminar internasional.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan percepatan perhutanan sosial dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2023. Dalam implementasinya, terdapat tiga prinsip utama yang menjadi landasan, yakni kelembagaan, kawasan, dan usaha. Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun tata kelola hutan berbasis masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, kebijakan perhutanan sosial tidak hanya berorientasi pada pelestarian bentang alam, tetapi juga menjadi ruang tumbuh, ruang belajar, dan ruang ekonomi bagi masyarakat, khususnya perempuan. Paradigma lama yang menempatkan masyarakat hanya sebagai penonton kini telah berubah, di mana masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.
Dirjen Kemenhut juga memaparkan sejumlah praktik baik keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lingkungan hidup di berbagai daerah. Salah satunya berasal dari Kampung Damaran Baru, Aceh, di mana kelompok perempuan secara konsisten melakukan patroli pengamanan kawasan untuk melindungi Daerah Aliran Sungai (DAS) Wih Gie yang menjadi sumber air vital bagi masyarakat desa sekitar.
Selain itu, ia mencontohkan praktik pemberdayaan perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT), ketika kelompok ibu-ibu mengelola bambu sebagai sumber penghidupan bernilai ekonomi tinggi. Tidak hanya menanam dan merawat, mereka juga mewariskan pengetahuan pengelolaan bambu secara lintas generasi sebagai bagian dari keberlanjutan lingkungan dan ekonomi masyarakat.
“Kebangkitan perempuan hari ini terlihat dari keterlibatan mereka secara utuh, dari hulu hingga hilir. Perempuan tidak lagi berada di balik layar, tetapi hadir menggerakkan keberlanjutan dan menciptakan nilai tambah,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan pesan khusus kepada kader Nasyiatul Aisyiyah bahwa perjuangan perempuan saat ini telah memasuki fase kepemimpinan nyata dalam pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan lingkungan.
“Jika dahulu perjuangan Kartini membuka ruang bagi perempuan, maka hari ini perempuan telah mengambil peran nyata dalam kepemimpinan sumber daya alam. Perubahan sejati tumbuh dari praktik nyata di tingkat tapak, dari kerja bersama, keberanian, dan kepercayaan yang terus dibangun dari akar rumput,” tambahnya.
Seminar internasional tersebut mendapat antusiasme tinggi dari para peserta yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang akademik maupun aktivis perempuan. Salah seorang peserta, Vivid Rohmaniyah, mengaku sangat terkesan dengan materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, seminar ini membuka kesadaran perempuan untuk lebih peduli terhadap lingkungan melalui langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
“Banyak informasi penting yang memantik kesadaran kami sebagai perempuan untuk lebih awas terhadap lingkungan sekitar. Dari hal-hal kecil pun kita sebenarnya bisa mengambil peran dalam penyelamatan lingkungan,” ujarnya.
Melalui seminar internasional ini, Nasyiatul Aisyiyah berharap perempuan muda Indonesia semakin aktif mengambil bagian dalam isu-isu keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta pembangunan sosial yang berkeadilan gender. Momentum Milad ke-95 juga diharapkan menjadi penguat gerakan perempuan dalam menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan. (Maharina)

