YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui pengukuhan Guru Besar ke-53 Pada Sabtu (4/7/2026) di Gedung AR Fachruddin B Lantai 5 UMY. Pada orasi ilmiahnya yang berjudul “Anestesiologi dan Terapi Intensif dalam Menjaga Martabat Hidup: Dari Intervensi Medis Menuju Keputusan Klinis Berbasis Bukti”, Prof. Dr. dr. Ardi Pramono, SpAn., MKes memperkenalkan Skor FORREST (Futile for Resuscitation) sebagai instrumen untuk membantu pengambilan keputusan resusitasi pada pasien kritis
Dalam orasinya, Prof. Ardi menjelaskan bahwa anestesiologi dan terapi intensif tidak lagi sekadar dipahami sebagai bidang yang berfokus pada tindakan teknis medis. Menurutnya, disiplin ini kini berkembang menjadi ilmu yang menempatkan pengambilan keputusan klinis berbasis bukti sebagai bagian penting dalam pelayanan kesehatan modern.
“Anestesiologi dan terapi intensif bukan sekadar cabang ilmu kedokteran yang bersifat teknis-prosedural, tetapi merupakan disiplin yang berdiri pada persimpangan antara ilmu pengetahuan, pengambilan keputusan klinik, dan tanggung jawab etik terhadap kehidupan manusia,” ujarnya.
Prof. Ardi menyoroti bahwa kemajuan teknologi kedokteran memungkinkan berbagai fungsi tubuh pasien dipertahankan lebih lama. Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan dilema etis, khususnya ketika pasien berada pada fase penyakit terminal, kanker stadium lanjut, atau mengalami kegagalan multi-organ.
Dalam situasi tersebut, tenaga medis tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan bagaimana menyelamatkan pasien, tetapi juga apakah intervensi yang dilakukan masih memberikan manfaat klinis yang bermakna bagi kualitas hidup pasien.
“Resusitasi jantung paru merupakan contoh paling nyata dari dilema tersebut. Pada kelompok pasien tertentu, tingkat keberhasilan resusitasi tetap rendah dan sering diikuti luaran neurologis yang buruk,” jelasnya.
Menurut Prof. Ardi, tindakan medis yang tidak lagi memberikan manfaat klinis bermakna dapat dikategorikan sebagai medical futility atau tindakan yang bersifat sia-sia. Oleh karena itu, diperlukan instrumen yang mampu membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan secara objektif dan berbasis bukti.
Skor FORREST sebagai Inovasi Pengambilan Keputusan Klinis
Sebagai kontribusi keilmuan, Prof. Ardi mengembangkan Skor FORREST (Futile for Resuscitation) berdasarkan telaah literatur, analisis data rekam medis, dan pengujian statistik multivariat.
Instrumen ini dirancang untuk membantu menilai kelayakan tindakan resusitasi, khususnya pada pasien penyakit terminal dan keganasan stadium lanjut. Berbeda dengan berbagai skor klinis lain yang cenderung kompleks, Skor FORREST mengedepankan kesederhanaan sehingga dapat diterapkan dengan cepat di ruang gawat darurat maupun unit perawatan intensif.
“Skor FORREST 3 variabel menunjukkan kinerja yang setara dengan model yang lebih kompleks. Namun, dengan keunggulan utama berupa kesederhanaan dan kemudahan aplikasi klinik,” terang Prof. Ardi.
Skor FORREST terdiri atas tiga komponen utama, yakni penggunaan obat vasoaktif atau vasopressor, kondisi anemia fungsional, serta adanya gangguan paru. Ketiga indikator tersebut terbukti berkorelasi kuat dengan kemungkinan kegagalan resusitasi.
Melalui skor ini, tenaga medis dapat memperoleh gambaran awal mengenai peluang keberhasilan tindakan resusitasi dalam waktu singkat tanpa menunggu pemeriksaan laboratorium yang kompleks.
Selain menawarkan instrumen klinis, Prof. Ardi juga menekankan pentingnya integrasi antara terapi intensif dan perawatan paliatif. Menurutnya, tujuan utama pelayanan kesehatan bukan hanya mempertahankan fungsi biologis pasien, tetapi juga menjaga kenyamanan, kualitas hidup, dan martabat manusia.
Ia menilai bahwa perkembangan anestesiologi dan terapi intensif ke depan akan semakin mengarah pada pendekatan yang lebih personal, terintegrasi, dan berbasis nilai.
“Menyelamatkan hidup adalah sebuah kehormatan, tetapi menjaga martabat hidup adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi dalam praktik kedokteran,” tegasnya.
Orasi ilmiah Prof. Ardi menjadi salah satu bukti kontribusi nyata Guru Besar UMY dalam menghasilkan inovasi yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan solusi dan dampak bagi persoalan kesehatan di lapangan.
Guru Besar Terbanyak di Kalangan PTS DIY
Melalui pengembangan Skor FORREST, UMY kembali menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi yang mendorong lahirnya riset aplikatif dan berdampak bagi masyarakat. Kehadiran Guru Besar ke-53 ini sekaligus memperkuat posisi UMY sebagai salah satu perguruan tinggi swasta dengan jumlah profesor terbanyak di Indonesia.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., menyebut UMY sebagai perguruan tinggi swasta (PTS) dengan jumlah guru besar terbanyak di DIY.
"Universitas Muhammadiyah Yogyakarta merupakan perguruan tinggi swasta dengan jumlah guru besar terbanyak di Yogyakarta. Mari kita berikan apresiasi yang tinggi untuk pencapaian UMY ini," ujarnya.
Menurut Setyabudi, capaian tersebut menunjukkan keseriusan UMY dalam membangun kualitas sumber daya manusia di bidang akademik sebagai fondasi utama pengembangan perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Setyabudi menegaskan bahwa jabatan guru besar bukanlah puncak yang menandai berakhirnya perjalanan akademik seorang dosen. Sebaliknya, gelar tersebut merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan kontribusi nyata melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Capaian guru besar bukanlah the end of academic journey. Ini adalah awal dari pengabdian dan kerja keras yang dampaknya harus dirasakan oleh masyarakat," tegasnya.
Ia menambahkan, seorang guru besar memiliki tanggung jawab strategis untuk menghasilkan inovasi, memperkuat ekosistem keilmuan, serta menjaga kualitas pendidikan tinggi. Mengacu pada Permendikbudristek Nomor 40 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian, Setyabudi menekankan bahwa inovasi dan kebermanfaatan harus menjadi orientasi utama perguruan tinggi.
Karena itu, guru besar diharapkan mampu menjadi motor penggerak yang menghasilkan berbagai inovasi dan karya ilmiah yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Kita sangat berharap setelah menjadi guru besar tidak kemudian berhenti. Guru besar harus menjadi motor penggerak inovasi dan dampak dari keberadaan perguruan tinggi," katanya.
Ia juga mengingatkan agar produktivitas riset dan publikasi ilmiah terus ditingkatkan sehingga jabatan akademik tertinggi tersebut benar-benar memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Selain menghasilkan inovasi, Setyabudi menilai guru besar memiliki tanggung jawab penting dalam membina dosen-dosen lain agar mampu mencapai jenjang akademik tertinggi. Saat ini UMY memiliki sekitar 181 dosen dengan jabatan lektor kepala dan 53 guru besar. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal besar untuk mempercepat lahirnya profesor-profesor baru di lingkungan UMY.
"Salah satu tugas seorang guru besar adalah menghasilkan guru besar-guru besar yang baru," ujarnya.
Ia berharap para profesor di UMY aktif membimbing dosen-dosen potensial sehingga regenerasi akademik dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Setyabudi juga menekankan pentingnya penjaminan mutu dalam pendidikan tinggi. Menurutnya, guru besar harus menjadi teladan dalam menjaga kualitas penelitian, publikasi ilmiah, serta integritas akademik.
Ia menilai tantangan perguruan tinggi saat ini tidak hanya meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, tetapi juga memastikan kualitas, kredibilitas, dan dampak penelitian yang dihasilkan. Karena itu, ia mengapresiasi konsistensi UMY dalam membangun budaya akademik serta meningkatkan jumlah dosen bergelar doktor maupun profesor.
Menutup sambutannya, Setyabudi berharap pengukuhan Prof. Ardi menjadi momentum bagi UMY untuk terus mempercepat pengembangan karier akademik dosen. Ia mendorong agar semakin banyak dosen UMY yang berhasil meraih jabatan guru besar dalam waktu dekat.
"Kalau tadi ada informasi masih diproses puluhan calon guru besar, mudah-mudahan semuanya bisa turun. Tahun depan minimal 50 lagi," ujarnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

