Penuh Haru Daurah Tahfidz Ramadhan Ponpes Ummul Mukminin, Kembali Cetak Penghafal Al-Qur'an
MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin ‘Aisyiyah Wilayah Sulawesi Selatan menutup kegiatan Daurah Tahfidz Al-Qur’an Angkatan V yang berlangsung selama 17 hari pada bulan Ramadhan 1447 Hijriah.
Program intensif menghafal Al-Qur’an ini diikuti oleh 172 santriwati dengan target hafalan tujuh juz selama masa kegiatan.
Penutupan kegiatan dilaksanakan di Aula St Ramlah Azis Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin pada Ahad, 8 Maret 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan hafalan Al-Qur’an yang rutin digelar pesantren setiap Ramadhan untuk memperkuat kedekatan santriwati dengan Al-Qur’an sekaligus sebagai ikhtiar mencetak kader penghafal Al-Qur'an.
Ketua Panitia kegiatan, Irmayani, menjelaskan bahwa Daurah Tahfidz ini dilaksanakan selama 3–19 Ramadhan 1447 H atau bertepatan dengan 20 Februari hingga 8 Maret 2026.
Program tersebut diikuti santriwati dari empat satuan pendidikan SMP, MTs, SMA dan MA dari kelas VII hingga kelas XII.
“Kegiatan ini diikuti oleh 172 santriwati. Hingga akhir pelaksanaan, 170 santriwati dapat menyelesaikan rangkaian daurah dengan baik, sementara dua lainnya tidak dapat menuntaskan karena kondisi kesehatan,” ujar Irmayani.
Selama pelaksanaan daurah, para santriwati mengikuti rangkaian kegiatan intensif yang berfokus pada penguatan hafalan Al-Qur’an.
Setiap hari mereka menjalani halaqah tahfidz yang berlangsung enam kali dalam sehari semalam, dimulai sejak pukul 02.00 dini hari hingga pukul 21.30 malam.
Selain halaqah tahfidz, kegiatan juga diisi dengan berbagai amalan Ramadhan seperti tadarus Al-Qur’an, setoran hafalan, kultum, qiyamul lail, serta kajian keislaman yang disampaikan oleh para ustadz dan ustadzah.
Menurut panitia, rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk membangun kedisiplinan sekaligus memperkuat kecintaan santriwati terhadap Al-Qur’an.
Irmayani menjelaskan bahwa dalam program ini para peserta ditargetkan mampu menambah hafalan secara signifikan dalam waktu yang relatif singkat.
Ia menyebutkan bahwa capaian tersebut menunjukkan bahwa proses menghafal Al-Qur’an dapat berlangsung lebih cepat ketika didukung lingkungan yang kondusif dan kesungguhan peserta.
“Target hafalan yang biasanya ditempuh dalam waktu sekitar satu tahun dalam pembelajaran reguler dapat dicapai dalam waktu jauh lebih singkat selama daurah ini. Hal ini menunjukkan bahwa ketika Al-Qur’an menjadi pusat aktivitas, Allah memudahkan proses menghafal,” katanya.
Dari total peserta yang mengikuti kegiatan, panitia mencatat sebanyak 51 santriwati berhasil mencapai target hafalan yang ditetapkan dalam program tersebut. Pencapaian ini dinilai sebagai hasil dari kedisiplinan dan ketekunan para peserta selama menjalani program intensif.
"Alhamdulilah, pada daurah tahfidz angkatan V sebanyak 4 orang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz," tambahnya.
Ia juga mengapresiasi kerja panitia dan para pembimbing yang telah mendampingi santriwati selama program berlangsung. Ia menilai peran para muhafidzah sangat penting dalam menjaga konsistensi hafalan sekaligus memotivasi santriwati selama menjalani program intensif tersebut.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada pimpinan pesantren, orang tua santriwati, serta seluruh panitia yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia juga mengapresiasi peran 23 muhafidzah yang dengan kesabaran dan ketulusan membimbing para santriwati selama program berlangsung.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan para muhafidzah yang dengan kesabaran dan ketulusan membimbing para santriwati hingga mampu menyelesaikan rangkaian Daurah Tahfidz ini,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin, Masriwaty Malik, menekankan bahwa Ramadhan merupakan momentum yang sangat istimewa untuk memperkuat hubungan umat Islam dengan Al-Qur’an.
Ia menyebutkan bahwa bulan suci tersebut memiliki keterkaitan erat dengan turunnya kitab suci umat Islam.
“Keutamaan menghafal Al-Qur’an di bulan Ramadhan sangat besar, karena Al-Qur’an sendiri diturunkan pada bulan Ramadhan,” kata Masriwaty Malik.
Ia menambahkan bahwa kegiatan daurah tahfidz tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah hafalan atau mencetak hafidzah Al-Qur'an.
"Tetapi juga membentuk kedekatan spiritual santriwati dengan Al-Qur’an," ungkapnya.
Menurutnya, pesantren terus mendorong para santri agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, pihak pesantren berharap para santriwati mampu menjaga hafalan yang telah dicapai serta terus menambah hafalan setelah Ramadhan berakhir.
Pengalaman intensif selama 17 hari bersama Al-Qur’an diharapkan dapat memperkuat kecintaan para santriwati terhadap kitab suci serta menjadi bekal dalam kehidupan mereka di masa depan.
Penutupan juga dirangkaikan pengajian oleh Kyai Pondok, KH. Jalaluddin Sanusi.
Kyai Jalaluddin Sanusi mengatakan kemuliaan luar biasa bagi keluarga ahli Qur'an, khususnya para orang tua yang memfasilitasi anaknya menghafal kitab suci.
Menurutnya, setiap huruf yang dihafal oleh sang anak akan memancarkan cahaya "mutiara" kebaikan yang dampaknya dirasakan langsung oleh orang tua sejak di dunia hingga di akhirat kelak. Ia menekankan bahwa jerih payah orang tua dalam mendidik anak mencintai Al-Qur'an tidak akan pernah sia-sia di mata sang Pencipta.
Sebagai puncak kemuliaan, KH. Jalaludin Sanusi mengingatkan tentang janji Allah bagi orang tua dari seorang hafiz di hari kiamat.
"Kelak, seorang anak yang menghafal Al-Qur'an akan menjadi wasilah bagi orang tuanya untuk mengenakan mahkota kemuliaan yang cahayanya lebih indah dari sinar matahari. Mahkota itu diletakkan langsung di kepala mereka sebagai bentuk penghormatan tertinggi karena telah melahirkan generasi penjaga wahyu," pungkasnya. (Ikhwan)
