PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Penulisan sejarah tidak sekadar merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menjaga kesinambungan nilai, identitas, dan ideologi Muhammadiyah. Gagasan tersebut mengemuka dalam salah satu sesi di Festival Literasi dan Historiografi yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu (18/7) yang disampaikan Dr Asep Daud Kosasih M.Pd, dosen Pendidikan Sejarah FKIP UMP sekaligus Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UMP.
Dalam paparannya, Asep menegaskan bahwa penguatan atau revitalisasi ideologi Muhammadiyah sebagaimana diamanahkan dalam Muktamar Muhammadiyah 2010, 2015, dan 2022 tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun narasi sejarah Muhammadiyah secara berkelanjutan. Menurutnya, revitalisasi Muhammadiyah pada tingkat cabang, ranting, kader, anggota, hingga amal usaha membutuhkan fondasi historis yang kuat agar nilai-nilai perjuangan persyarikatan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia menjelaskan bahwa narasi sejarah Muhammadiyah setidaknya dibangun melalui tiga pilar utama, yakni penelitian sejarah Muhammadiyah, penulisan sejarah Muhammadiyah, dan pengajaran sejarah Muhammadiyah. Ketiganya merupakan sarana penting dalam revitalisasi sekaligus konsolidasi ideologi Muhammadiyah. Dengan sejarah yang terdokumentasi secara baik, warga persyarikatan tidak hanya mengenal tokoh dan peristiwa, tetapi juga memahami spirit tajdid, dakwah, dan gerakan sosial yang menjadi ruh Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.
Lebih lanjut, Asep menyoroti pentingnya pengembangan penelitian sejarah lokal Muhammadiyah. Menurutnya, selama ini banyak dinamika sejarah Muhammadiyah di daerah yang belum terdokumentasikan secara memadai, padahal pengalaman lokal tersebut merupakan bagian penting dari sejarah besar persyarikatan. Oleh karena itu, perguruan tinggi Muhammadiyah diharapkan mengambil peran lebih aktif dalam menginventarisasi, meneliti, dan mendokumentasikan sejarah Muhammadiyah di wilayah masing-masing.
Dalam konteks tersebut, Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dipandang memiliki posisi strategis sebagai leading sector sekaligus supporting sector bagi pengembangan penelitian sejarah lokal Muhammadiyah. Peran tersebut dapat dijalankan melalui program studi yang memiliki kedekatan dengan kajian sejarah, seperti Ilmu Sejarah, Pendidikan Sejarah, maupun Sejarah Peradaban Islam, didukung oleh lembaga penelitian, pusat studi, dan unit-unit akademik lainnya.
Asep juga menekankan bahwa optimalisasi peran PTM memerlukan perubahan cara pandang terhadap pentingnya kajian sejarah, didukung kebijakan institusi, komitmen bersama pimpinan, serta pemberdayaan program studi dan unit-unit terkait. Dengan ekosistem akademik yang mendukung, penelitian sejarah Muhammadiyah tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran dan penguatan ideologi bagi warga persyarikatan.
Selain menghadirkan Asep, Kelas Historiografi dalam Festival Literasi dan Historiografi ini juga mengundang Dr. Revianto Budi Santoso, dosen Universitas Islam Indonesia sekaligus ketua editor buku Sejarah Muhammadiyah Indonesia sebagai pembicara kunci; Prof. Dr. Sugeng Prihadi, pengkaji babad dan sejarah lokal Banyumas; Riswinarno, M.M., arkeolog dan koordinator Tim Heritage MPI PP Muhammadiyah; dan Ilham Nur Utomo, M.Hum., sejarawan Universitas Diponegoro yang menyampaikan tentang historiografi Muhammadiyah di Banyumas dan Pemalang.
Diskusi dalam Festival Literasi dan Historiografi ini memperlihatkan penulisan sejarah Muhammadiyah bukan sekadar program yang dimandatkan untuk ditulis oleh seluruh jajaran pimpinan persyarikatan, melainkan bagian dari strategi membangun memori kolektif persyarikatan untuk kepentingan jangka panjang. Melalui penelitian dan penulisan sejarah yang sistematis, Muhammadiyah diharapkan mampu memperkuat jati dirinya sebagai gerakan Islam berkemajuan sekaligus mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi mendatang. (Ghifari/Diko)

