JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Derry Wijaya mengatakan bahwa sejatinya AI merupakan cabang dari ilmu computer yang berusaha untuk menghadirkan mesin yang dapat membantu pekerjaan manusia dengan cara yang dianggap intelegen. “Kuncinya di sini intelegen, namun belum tentu intelegen,” ujar perempuan yang menyandang jabatanan sebagai Associate Professor sekaligus Program Coordinator Data Science di Monash University, Indonesia (23/1).
Menurutnya, kekuatan AI berada di mesin learning (mesin pembelajar), yang mana mesin ini merupakan sistem computer yang bisa belajar langsung dari contoh-contoh yang diberikan manusia. “Jadi, mesin ini dapat mengambil keputusan karena mengambil contoh dari manusia. Sehingga kita tidak perlu lagi mendetailkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu,” jelasnya di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta.
Berdasar pengakuannya, di dalam mesin learning terdapat deep learning yang melakukan imitasi dari bagaimana otak memproses informasi.
Dalam perkembangannya, muncul pertanyaan mengapa manusia melatih mesin. Apakah untuk menggantikan manusia. Derry menjelaskan bahwa tujuan awalnya untuk tujuan membantu mengotomasi beberapa pekerjaan supaya menjadi lebih gampang bagi manusia. Sebagaimana manusia yang belajar dari pengalaman, mesin kemudian memiliki kemampuan belajar dari pengalaman manusia. Mempelajari pola-pola yang terjadi. “Begitulah cara mesin belajar yang mana sangat bergantung kepada data yang kita berikan. Kalau datanya bagus, mesinnya akan bagus. Kalau datanya isinya bohong semua, maka mesinnya akan bohong semua. Tergantung siapa yang melatih dan memberi data,” kata Derry.
IA generasi terbaru seperti ChatGPT telah dilatih dengan seluruh data yang ada di internet. Karena dilatih dengan data yang begitu besar, sehingga pesat sekali pekembangannya. Dalam waktu delapan tahun mulai 2017, AI dapat menghasilkan produk visual yang jauh lebih bagus dari sebelumnya. Hal ini kemudian menyebabkan race to build dalam konteks membangun model bahasa besar (LLM) sendiri merujuk pada kompetisi intensif antara perusahaan teknologi, negara, dan organisasi untuk mengembangkan AI generatif yang berdaulat, khusus, dan efisien.
“Di masa depan, AI bisa menghasilkan data untuk melatih dirinya sendiri, melakukan validasi informasi secara mandiri, dan banyak lagi potensinya,” paparnya.
Selain dampak positif yang dihasilkan oleh AI, ada pula tantangan dan bahaya yang mesti dihadapi, di antaranya tantangan stereotip terhadap kelompok tertentu, misinformasi, ketergantungan yang berlebihan terhadap sistem AI, dampak terhadap lingkungan, hingga menyebabkan hilangnya pekerjaan.
“Sejatinya kita memiliki andil dalam membuat mesin menjadi lebih beretika. Masalahnya sekarang, kebanyakan data yang digunakan untuk melatih adalah data dari Eropa dan Protestan Western Europe, sedangkan data-data dari wilayah lain tidak kelihatan,” katanya.
Di sinilah menurutnya Muhammadiyah memiliki potensi besar sebagai bagian dari masyarakat yang dapat mengembangkan AI. Sehingga dapat membantu tugas-tugas untuk memajukan umat.
“Menciptakan AI yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan, yang aman, dan bisa bermanfaat. Inilah yang menurut saya posisi Muhammadiyah sangat strategis,” tegasnya. (diko)

