YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Suara Muhammadiyah (SM) memperingati hari ulang tahun ke-111 dengan menyelenggarakan Bedah Buku berjudul "Ijtihad Jurnalistik" karya Mustofa W. Hasyim di Gedung Graha Suara Muhammadiyah lantai 4 pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Direktur Media dan Publikasi Suara Muhammadiyah, Isngadi Marwah Atmadja mengatakan, di tengah tantangan industri media yang terus berubah dan banyaknya media cetak yang berhenti beroperasi, Suara Muhammadiyah meneguhkan komitmennya untuk terus tumbuh, berbenah, dan melangkah lebih jauh.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan yang menjadi momentum pengenalan sosok Mustofa W. Hasyim, tokoh yang dinilai memiliki pengaruh besar dalam perjalanan Suara Muhammadiyah sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan media milik Muhammadiyah tersebut.
Dalam sambutannya, perwakilan Suara Muhammadiyah menyampaikan bahwa usia 111 tahun bukan sekadar momentum perayaan ulang tahun. Keberlangsungan SM hingga saat ini dinilai menjadi sesuatu yang patut disyukuri, terutama ketika banyak media massa yang pernah berjaya justru harus menghentikan aktivitas penerbitannya.
Ia menyebut Mustofa W. Hasyim sebagai salah satu sosok yang telah menyaksikan perjalanan Muhammadiyah dan Suara Muhammadiyah dalam berbagai fase. Ia mengalami masa jatuh dan bangunnya organisasi maupun media tersebut, sekaligus turut membimbing generasi muda yang kemudian meneruskan perjuangan di Suara Muhammadiyah.
Pengalaman panjang tersebut membuat Mustofa tidak hanya dikenal sebagai jurnalis, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki dedikasi dan ideologi kuat dalam menjalankan tugas jurnalistik.
“Pak Mustofa adalah jurnalis murni, tetapi berdedikasi dan berideologi. Khasnya di situ. Seorang jurnalis yang berideologi tidak hanya mengabarkan, tetapi menyeleksi kabar mana yang penting, perlu, dan kapan saatnya disebarkan,” tuturnya.
Ia juga mengenang perjalanan Suara Muhammadiyah pada masa lalu ketika media tersebut pernah mengalami masa kejayaan. Saat itu, kesejahteraan kru Suara Muhammadiyah disebut mampu bersaing dengan berbagai media lainnya.
Namun, perjalanan SM tidak selalu berada dalam kondisi gemilang. Media ini juga pernah mengalami masa sulit. Kondisi tersebut justru menjadi pemacu bagi para pengelola dan generasi penerus untuk terus melakukan pembenahan.
“Dulu pernah ada masa kejayaan. Tetapi ketika Pak Mus bercerita kepada kami, kondisinya justru sedang sebaliknya. Itu yang kemudian menyemangati kami bahwa Suara Muhammadiyah seharusnya bisa bangkit kembali,” katanya.
Upaya pembenahan tersebut perlahan membuahkan hasil. Suara Muhammadiyah mampu bertahan hingga memasuki usia 111 tahun, ketika sejumlah media massa yang pernah menjadi bagian dari sejarah pers Indonesia telah berhenti menerbitkan edisi cetaknya.
Karena itu, momentum milad ke-111 Suara Muhammadiyah tahun ini mengangkat tema “Tumbuh Lebih Tangguh, Melangkah Lebih Jauh.” Tema tersebut menjadi refleksi sekaligus tekad agar Suara Muhammadiyah terus berkembang di tengah perubahan lanskap media dan tantangan teknologi informasi.
Dalam kesempatan itu, sosok lain yang turut mendapat perhatian adalah Imawan Wahyudi. Ia disebut memiliki sejarah panjang bersama Suara Muhammadiyah sebelum kemudian meniti karier di dunia politik. Imawan pernah ikut membesarkan Suara Muhammadiyah dan menjadi bagian dari dinamika perjalanan media tersebut.
Selain Imawan Wahyudi, turut disebut Aqid Widi, yang dikenal sebagai salah satu sahabat lama Mustofa sejak masa muda di Kotagede. Kedekatan personal dan perjalanan hidup Mustofa bersama lingkungan Muhammadiyah menjadi bagian dari kisah yang turut terekam dalam buku tentang dirinya.
Mustofa sendiri dikenal memiliki hubungan yang sangat erat dengan Muhammadiyah. Sejak muda hingga usia senja, perjalanan hidupnya tidak dapat dilepaskan dari Muhammadiyah maupun Suara Muhammadiyah. Pengabdian panjang tersebut membuatnya dinilai sebagai salah satu sosok yang memahami Muhammadiyah secara mendalam.
“Pak Mustofa adalah orang yang paling mengenal Muhammadiyah saat ini, karena masa muda hingga menuanya bersama Muhammadiyah. Ia juga membaktikan diri kepada Suara Muhammadiyah sejak masih muda sampai sekarang,” ujarnya.
Perjalanan panjang tersebut menjadikan Mustofa bukan hanya seorang pekerja media, tetapi juga penjaga nilai dan ideologi jurnalistik Muhammadiyah. Pengalamannya menjadi pelajaran bagi generasi muda agar media tidak sekadar menjadi saluran informasi, tetapi juga memiliki keberpihakan pada nilai, kemanusiaan, dan kepentingan umat serta bangsa. (diko)

