Perjalanan Menuju Akhirat
Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta
Hari Akhirat adalah sebuah keniscayaan yang harus diyakini oleh setiap insan beriman kepada Allah SwT serta kebenaran agama-Nya. Ia bukan sekadar akhir dari perjalanan duniawi, melainkan awal dari kehidupan yang hakiki, tempat segala amal perbuatan manusia mendapat balasan yang setimpal. Pada hari itu, keadilan ditegakkan tanpa celah, setiap amal, baik yang nyata maupun tersembunyi akan ditampakkan dalam cahaya kebenaran yang tak dapat disangkal.
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) atas perbuatannya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). (Az-Zalzalah [99]: 6-8)
Tak ada lagi tipu daya atau rekayasa, karena segala sesuatu dihisab dengan sempurna. Mereka yang semasa hidupnya berbuat kebaikan akan memperoleh balasan yang berlipat-lipat, sementara mereka yang melampaui batas, menzalimi diri sendiri dan orang lain, akan mendapati dirinya dalam penyesalan yang tak berujung. Dengan wajah pucat pasi, mereka menggumamkan kepedihan, berharap dapat kembali ke dunia walau sejenak untuk menebus segala kesalahan. Namun, waktu telah tertutup, dan tak ada jalan kembali. Hanya ada balasan yang adil, sebagai cerminan dari apa yang telah mereka perbuat di dunia.
Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini. [Al-Fajr [89]: 24]
Oleh karena itu, setiap Muslim yang mengutamakan keselamatan hakiki seyogianya memberikan perhatian mendalam dalam mempersiapkan diri serta mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari keabadian. Sebab, pada hakikatnya, hari itulah yang menjadi masa depan sejati bagi manusia. Kedatangannya begitu cepat, seiring dengan derasnya arus waktu yang tanpa henti mengikis usia.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr [59]: 18)
Ayat ini menegaskan pentingnya ketakwaan dan introspeksi diri dalam rangka mempersiapkan kehidupan akhirat. Allah mengingatkan setiap orang beriman untuk memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan setiap amal yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Kesadaran ini mendorong manusia untuk selalu mengevaluasi diri dan berusaha memperbaiki amal perbuatan.
Tentang ayat di atas Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata, “Allah SwT memerintahkan kepada hamba-Nya yang beriman untuk memenuhi hal-hal yang dapat mewujudkan iman dan takwa, baik amalan yang dilakukan secara tersembunyi ataukah terang-terangan dalam setiap keadaan. Hendaklah mereka memperhatikan perintah, syariat dan batasan-batasan Allah.
Hendaklah mereka perhatikan kebaikan dan keburukan yang mereka akan peroleh kelak. Hendaklah mereka memikirkan apa buah yang diperoleh dari amalan mereka kelak di hari kiamat. Apakah akan menuai hasil yang baik ataukah malah akan membahayakan karena kejelekan yang dilakukan.
Jika seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan di hadapannya dan jadi tambatan hati, terus bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan menuju akhirat. Bersungguh-sungguhlah dengan melakukan banyak amalan yang dapat mengantarkan pada akhirat. Lalu bersihkanlah jalan tersebut dari berbagai duri dan rintangan.
Jika mereka pun yakin, Allah itu Maha Tahu terhadap apa yang mereka kerjakan, Allah Maha Tahu terhadap apa yang mereka sembunyikan. Allah tidak mungkin lalai dari memperhatikan mereka. Dari sini, semestinya kita semakin serius dan sungguh-sungguh dalam beramal.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 853).
Allah SwT memerintahkan setiap individu untuk memperhatikan amalnya. Ini menunjukkan pentingnya muhasabah atau introspeksi dalam kehidupan seorang Muslim. Setiap hari, seorang Muslim harus merenungkan apakah perbuatannya telah mendekatkannya kepada Allah atau justru menjauhkannya dari jalan kebenaran. Rasulullah SaW bersabda:
"Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah (tanpa usaha)." (HR. Tirmidzi)
Sahabat yang mulia Umar bin Khathab RA mengingatkan tentang hal ini dalam ucapannya:
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal.” (At Tirmidzi).
Senada dengan ucapan di atas, Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah datang menghampiri kita, dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini waktunya beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok di akhirat adalah saat perhitungan dan tidak ada waktu lagi untuk beramal." (HR. Ahmad)
Seperti Orang Asing
Dunia tak lebih dari sekadar persinggahan sementara, tempat manusia menanam benih amal sebagai bekal menuju keabadian di negeri akhirat. Ia laksana ladang yang hasilnya akan dipanen di kemudian hari, menentukan arah perjalanan menuju kehidupan yang hakiki. Barang siapa dengan penuh kesungguhan mengumpulkan perbekalan yang memadai, maka dengan izin Allah SwT ia akan mencapai tujuan dengan selamat. Namun, siapa yang lalai dan tidak cukup membawa bekal, niscaya ia terancam tidak akan sampai ke negeri yang dijanjikan. Rasulullah SaW mengajarkan hakikat keberadaan manusia di dunia dengan sabdanya:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari)
Hadits ini merupakan nasihat berharga bagi setiap mukmin tentang bagaimana seharusnya ia memposisikan dirinya dalam kehidupan dunia. Seorang perantau atau musafir hanyalah singgah sementara, tidak membiarkan hatinya terikat pada tempat persinggahannya, sebab jiwanya senantiasa merindukan kampung halaman yang hakiki. Mereka datang ke dunia kemudian mereka pergi meninggalkannya. Kematian akan menimpa setiap orang.
Kematian adalah kepastian yang tak terelakkan bagi setiap makhluk. Ia menjadi gerbang pemisah antara kehidupan dunia yang fana dan alam barzakh yang abadi.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al Anbiya [21]: 35)
Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Al-Jumu'ah [62]: 8).
Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran [3]: 145)
Rasulullah SaW bersabda, Perbanyaklah oleh kalian mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian). (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa'i)
Barangsiapa yang hatinya senantiasa merenungi hakikat kematian serta bersemangat dalam menggapai kebahagiaan akhirat, niscaya ia tergolong dalam golongan yang berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal saleh. Sebaliknya, apabila seseorang lalai dari mengingat kematian, serta terbuai dalam ilusi kefanaan dunia, hatinya akan mengeras dan jiwanya menjadi enggan untuk tunduk dalam ketaatan.
Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diturunkan, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diberi kitab, kemudian waktu yang panjang berlalu atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik. (Al-Hadid [57]: 16)
Keadaan seorang mukmin di dunia ini hatinya tidak terpaut pada kefanaan, melainkan selalu merindu tempat kembalinya yang sejati, yaitu surga yang dipenuhi kenikmatan abadi.
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (Al-Ankabut [29]: 64)
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, serta saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian ia mengering dan kamu lihat warnanya kuning, lalu menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadid [57]: 20)
Jika dunia ini bukanlah negeri domisili maupun tempat perhentian abadi bagi seorang Mukmin, maka ia seyogianya menyikapi kehidupan dengan salah satu dari dua cara berikut:
Pertama, laksana seorang asing yang menetap di negeri yang bukan miliknya, di mana segala obsesinya baik tujuan maupun cita-citanya terpusat pada upaya mengumpulkan bekal untuk kembali ke tanah air sejatinya.
Kedua, seperti seorang musafir yang tak pernah menetap, yang terus menapaki perjalanan siang dan malam tanpa henti, menuju negeri keabadian yang menjadi tujuan akhirnya.
Sikap hidup seperti ini menanamkan pada diri seorang Mukmin kesadaran untuk tidak terjebak dalam angan-angan panjang dan harapan yang berlebihan dalam menjalani kehidupan dunia. Sebab, barangsiapa menapaki dunia laksana seorang musafir di negeri asing, maka hasratnya tidak lain hanyalah mempersiapkan bekal terbaik bagi perjalanannya menuju keabadian. Ia tidak terhanyut dalam ambisi dan perlombaan mengejar gemerlap dunia, sebab dirinya bak seorang perantau yang tak gelisah oleh kefakiran, tak terusik oleh rendahnya kedudukan, karena hatinya telah tertambat pada tujuan yang lebih luhur dan abadi.
Sebaik-Baik Bekal Adalah Taqwa
Setiap perjalanan menuntut perbekalan yang memadai, terlebih jika perjalanan itu menuju kampung keabadian di akhirat. Betapa agung dan panjang lintasan yang mesti ditempuh, maka segala bekalnya harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya dan selengkap-lengkapnya selagi masih di alam dunia. Tiada bekal yang lebih utama dan bernilai selain ketakwaan kepada Allah SwT, sebab hanya dengannya seseorang dapat meniti jalan keselamatan menuju kehidupan yang hakiki.
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (Al-Baqarah [2]: 197)
Berkaitan dengan ayat ini Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan, “Bekal yang sebenarnya yang tetap mesti ada di dunia dan di akhirat adalah bekal takwa, ini adalah bekal yang mesti dibawa untuk negeri akhirat yang kekal abadi. Bekal ini dibutuhkan untuk kehidupan sempurna yang penuh kelezatan di akhirat dan negeri yang kekal abadi selamanya. Siapa saja yang meninggalkan bekal ini, perjalanannya akan terputus dan akan mendapatkan berbagai kesulitan, bahkan ia tak bisa sampai pada negeri orang yang bertakwa (yaitu surga). Inilah pujian bagi yang bertakwa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 92)
Taqwa adalah upaya menjaga diri dari segala perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah SwT. Untuk mencapai derajat taqwa, diperlukan pondasi iman yang kokoh, yakni keyakinan yang mendalam terhadap keberadaan dan keesaan Allah SwT.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang membutuhkan), orang-orang yang meminta-minta, dan untuk (memerdekakan) hamba sahaya; serta melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah [2]: 177)
Keyakinan inilah yang akan menuntun seseorang untuk senantiasa mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal guna menempuh perjalanan menuju kampung akhirat. Maka, siapa pun yang mendambakan ketakwaan sejati, hendaknya ia menghayati bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-geriknya dimanapun dan kapan pun.
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid [57]: 4)
Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun. (Al-Baqarah [2]: 235)
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (Qaf [50]: 16-18)
Taqwa adalah bekal terbaik bagi seorang mukmin dalam menuju kehidupan akhirat. Umar bin Abdul Aziz berkata dalam khutbahnya, “Sesungguhnya dunia bukan negeri yang kekal bagi kalian karena Allah telah menetapkan kehancuran bagi dunia dan memutuskan bahwa penghuninya akan pergi. Betapa banyak bangunan yang kokoh tidak lama kemudian hancur atau roboh dan betapa banyak orang mukim yang sedang bergembira tidak lama kemudian dia meninggalkan dunia. Karena itu, hendaklah kalian semoga Allah merahmati kalian memperbaiki kepergian kalian darinya dengan kendaraan paling baik yang ada pada kalian dan berbekallah, sesungguhnya bekal paling baik ialah taqwa.” (Hilyatul Auliya’, V/325, no. 7270)
Mengapa taqwa disebut sebagai bekal terbaik untuk kehidupan akhirat? Sebab, orang yang bertaqwa senantiasa menjaga akhlaknya, menjalankan amal saleh yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain, serta menjauhkan diri dari segala bentuk keburukan yang dapat mendatangkan mudarat. Taqwa menjadikan seseorang waspada terhadap segala perbuatan yang tidak diridhai Allah, sehingga kehidupannya senantiasa berada dalam kebaikan dan keberkahan.
Jika seseorang ditanya, "Manakah yang lebih diinginkan, kebahagiaan atau kesengsaraan?" Tentu jawabannya adalah kebahagiaan. Namun, bagaimana realitas kehidupan mereka di dunia? Banyak yang justru mengikuti hawa nafsunya tanpa batas, melampaui garis yang telah ditetapkan oleh Allah SwT. Akibatnya, kebahagiaan yang mereka dambakan sering kali berubah menjadi kesengsaraan yang tak disadari.
Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi insan yang beruntung, hendaknya kita bertaqwa kepada Allah SwT. Sebab, taqwa menuntun seseorang untuk selalu beramal dalam keridhaan-Nya. Dengan taqwa, hati menjadi tenang, langkah terasa ringan, dan kehidupan pun bermakna. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua, menuntun kita pada jalan yang lurus, serta menganugerahkan kebahagiaan di dunia dan derajat yang mulia di sisi-Nya.