YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memperkuat penjajakan kerja sama pendidikan dengan Tunisia. Hal tersebut dibahas dalam pertemuan UMY bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (LBBP RI) untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, di Holding Room Gedung AR Fachruddin UMY, Rabu (2/9/2026).
Pertemuan yang disambut oleh Wakil Rektor UMY bidang Pendidikan, Entrepreneurship, dan Alumni, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag, Wakil Rektor bidang Reputasi, Kerjasama dan Digital, Prof. Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.T., Ph.D, dan Sekretaris UMY Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., MPA, berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka. Diskusi membahas peluang pengembangan kerja sama antara UMY dan berbagai institusi di Tunisia.
Dalam pertemuan tersebut, Zuhairi Misrawi menyoroti potensi pendidikan sebagai bagian dari penguatan hubungan Indonesia dan Tunisia. Kolaborasi akademik dapat melibatkan perguruan tinggi, dosen, peneliti, dan mahasiswa dari kedua negara.
Menurut Zuhairi, hubungan Indonesia-Tunisia memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui kerja sama pendidikan. Pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan gagasan menjadi bagian dari peluang yang dapat dijajaki.
“Kerja sama akademik dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan gagasan sekaligus membuka peluang bagi civitas akademika untuk mengenal lingkungan pendidikan dan budaya kedua negara,” ujar Zuhairi.
Ia juga menilai perguruan tinggi dapat menjadi penghubung penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dengan Tunisia. Karena itu, jejaring akademik kedua negara perlu terus dibangun dan diperluas.
Bagi UMY, pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperluas jejaring internasional. Kehadiran Duta Besar RI untuk Tunisia membuka peluang komunikasi dengan berbagai institusi dan pihak terkait di Tunisia.
Pembahasan tidak hanya diarahkan pada hubungan kelembagaan. UMY juga menjajaki peluang kolaborasi yang dapat melibatkan civitas akademika secara langsung.
Wakil Rektor UMY bidang Pendidikan, Entrepreneurship, dan Alumni, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag, menegaskan bahwa pengembangan jejaring internasional perlu diarahkan pada kerja sama yang memberikan manfaat bagi pendidikan dan akademik.
“Pengembangan jejaring internasional menjadi ruang bagi UMY untuk memperluas kerja sama sekaligus membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan interaksi akademik,” ujar Zuly Qodir.
Menurutnya, komunikasi dengan berbagai pihak di Tunisia diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kerja sama yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing.
Pertemuan bersama Duta Besar RI untuk Tunisia menjadi bagian dari upaya UMY memperkuat jejaring pendidikan internasional. Penjajakan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih konkret.
Penguatan hubungan akademik Indonesia-Tunisia juga menjadi peluang bagi UMY untuk memperluas pengalaman internasional mahasiswa dan dosen. Kolaborasi lintas negara diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan dan akademik.
Seni Membangun Persahabatan
Zuhairi Misrawi juga menjadi narasumber kuliah umum UMY bertema “Diplomasi Budaya Indonesia di Negara Tunisia”. Dirinya mengungkapkan, diplomasi tidak hanya berlangsung melalui pertemuan formal antarnegara. Kemampuan membangun persahabatan, komunikasi, jejaring, dan kepercayaan juga menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan internasional.
Oleh karena itu, Zuhairi mendorong mahasiswa untuk memahami diplomasi secara lebih luas. Menurutnya, kemampuan akademik perlu diimbangi dengan wawasan internasional, keterampilan komunikasi, penguasaan bahasa asing, kemampuan membangun jejaring, serta integritas.
Pesan tersebut relevan dengan arah diplomasi Indonesia di Tunisia. KBRI Tunis menempatkan diplomasi kebudayaan sebagai salah satu fokus diplomasi Indonesia–Tunisia pada 2026, bersama diplomasi ekonomi, pendidikan, dan perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI).
Dalam pemaparannya, Zuhairi menjelaskan bahwa diplomasi tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan formal antarnegara. Seorang diplomat juga harus mampu membangun hubungan baik dengan berbagai pihak.
“Diplomasi itu adalah seni bersahabat,” ujar Zuhairi.
Menurutnya, kemampuan membangun relasi menjadi modal penting dalam diplomasi. Hubungan yang baik dapat membuka ruang komunikasi sekaligus memperkuat rasa saling percaya.
Karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan membangun jejaring sejak masa kuliah. Relasi yang luas dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki lingkungan profesional maupun internasional.
Pendekatan persahabatan juga menjadi salah satu karakter diplomasi Indonesia-Tunisia. Zuhairi sebelumnya menyebut hubungan kedua negara memiliki akar historis yang kuat, termasuk melalui hubungan Presiden Sukarno dan Presiden pertama Tunisia, Habib Bourguiba.
Dalam praktik hubungan Indonesia-Tunisia, kebudayaan menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mendekatkan masyarakat kedua negara.
KBRI Tunis selama beberapa tahun terakhir mengembangkan berbagai bentuk diplomasi kebudayaan melalui seni, musik, tari, kuliner, sastra, hingga buku. Zuhairi menyebut kebudayaan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat kerja sama bilateral kedua negara.
Pada April 2026, misalnya, Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam Pameran Buku Internasional Tunisia ke-40. Paviliun Indonesia menghadirkan buku-buku, diskusi, pertunjukan tari dan musik, hingga kuliner Nusantara sebagai bagian dari upaya memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Tunisia.
Sebelumnya, KBRI Tunis juga menjalankan diplomasi melalui puisi. Zuhairi memandang kebudayaan sebagai instrumen untuk memperkokoh persahabatan Indonesia-Tunisia melalui prinsip saling menghormati dan kepentingan bersama.
Selain memahami peran kebudayaan, Zuhairi mendorong mahasiswa memiliki international mindset atau pola pikir internasional. Mahasiswa perlu memperluas pengetahuan mengenai berbagai negara, kawasan, serta dinamika global.
Menurutnya, berbagai persoalan internasional memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat. Wawasan tersebut diperlukan agar mahasiswa mampu melihat suatu persoalan dari perspektif yang lebih luas.
“Jangan hanya tahu hasilnya, tetapi kalian harus tahu prosesnya,” tegasnya.
Ia mendorong mahasiswa untuk mempelajari karakteristik berbagai negara dan kawasan. Buku maupun berbagai sumber informasi yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan global tersebut.
Peran generasi muda dalam diplomasi juga sebelumnya menjadi perhatian Zuhairi. Dalam kuliah umum di Universitas Carthage, Tunisia, pada November 2025, ia mendorong kaum muda untuk berperan aktif dalam diplomasi dan kolaborasi guna mempererat hubungan Indonesia-Tunisia.
Selain wawasan global, penguasaan bahasa menjadi salah satu modal penting dalam komunikasi lintas negara. Zuhairi menilai kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, perlu dipersiapkan mahasiswa untuk memasuki lingkungan internasional.
Namun, kemampuan komunikasi harus berjalan beriringan dengan integritas. Menurutnya, kejujuran menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan dengan orang lain.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengembangkan kompetensi akademik dan profesional. Karakter dan moral juga perlu dibangun sebagai bagian dari kesiapan menghadapi dunia global.
Kemampuan bahasa, wawasan internasional, serta integritas tersebut pada akhirnya menjadi modal untuk membangun hubungan dengan orang-orang dari latar belakang budaya dan negara yang berbeda.
Zuhairi turut mengingatkan mahasiswa agar tidak mengejar keberhasilan secara instan. Menurutnya, proses pendidikan merupakan bagian penting dalam membentuk kemampuan dan kesiapan seseorang menghadapi masa depan.
“Belajar adalah suatu kewajiban, kamu hari ini ialah kamu di masa depan, jangan capek untuk belajar,” pesannya.
Ia menilai berbagai aktivitas selama kuliah merupakan bagian dari proses pembentukan diri. Karena itu, mahasiswa perlu menjalani proses tersebut dengan sungguh-sungguh dan konsisten.
“Generasi kalian berbeda dengan generasi saya. Generasi kalian kadang ingin semuanya mudah. Mau enak, mau sukses, tetapi tidak mau melalui proses. Pola pikir seperti itu harus dibuang. Karena kesuksesan adalah hasil dari proses yang baik,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi bagian dari dorongan Zuhairi agar mahasiswa tidak hanya mempersiapkan kompetensi teknis, tetapi juga membangun ketekunan dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan.
Kuliah umum tersebut diawali dengan sambutan Wakil Rektor UMY Bidang Pendidikan, Entrepreneurship, dan Alumni, Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. Ia mengapresiasi kehadiran Zuhairi dan berharap pengalaman diplomatik yang dibagikan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa.
“Semoga bisa memberikan inspirasi kepada para mahasiswa saya, sehingga mahasiswa saya ini memiliki semangat untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan bisa percaya diri di masa depan,” ujar Zuly.
Kuliah umum yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Lantai 5 Gedung AR Fachruddin UMY tersebut dimoderatori Wakil Dekan FISIPOL UMY, Dr. Sugeng Riyanto, S.IP., M.Si. (Kia)

