PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati Milad 'Aisyiyah ke-109, Lembaga Penelitian dan Pengembangan 'Aisyiyah (LPPA) bersama Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Banyumas menyelenggarakan seminar bertajuk “Peran Strategis 'Aisyiyah dalam Isu Lingkungan dan Penanggulangan Bencana” di Aula Abu Dardiri PDM Banyumas, Ahad (14/6/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini diikuti oleh Pimpinan Harian PDA Banyumas, majelis dan lembaga, PCA dan PRA se-Kabupaten Banyumas, PDNA, PCNA, relawan, serta anggota 'Aisyiyah dari berbagai wilayah.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Antidesabila yang membacakan QS. Al-A'raf ayat 56 dan QS. Al-Baqarah ayat 29, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars 'Aisyiyah. Seminar ini menjadi bagian dari ikhtiar 'Aisyiyah dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan kapasitas perempuan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta risiko kebencanaan yang semakin kompleks.
Ketua Panitia, Dr. Anis Shofiyani, dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar diselenggarakan sebagai respons terhadap berbagai persoalan lingkungan yang saat ini dihadapi masyarakat, mulai dari pemanasan global, ancaman krisis pangan akibat pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana, hingga potensi dampak fenomena iklim yang dapat meningkatkan risiko bencana. Menurutnya, diperlukan upaya edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat memiliki pemahaman dan kesadaran untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga lingkungan serta memperkuat ketangguhan menghadapi bencana.
“Seminar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga forum untuk memperkuat aksi nyata berbasis nilai-nilai Islam dalam menjaga kelestarian lingkungan dan membangun kesiapsiagaan masyarakat,” ujarnya.
Mewakili Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Banyumas, Wakil Ketua PDA Banyumas Ratifah, S.ST., M.Kes., dalam opening speech menegaskan bahwa isu lingkungan dan kebencanaan merupakan bagian dari tanggung jawab keumatan yang harus mendapat perhatian serius dari seluruh warga persyarikatan. Ia menyampaikan bahwa 'Aisyiyah memiliki kekuatan besar dalam menggerakkan perubahan melalui sinergi antara LPPA dan LLHPB.
Menurutnya, LPPA berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan, riset, dan kajian yang mampu menghasilkan berbagai rekomendasi strategis berbasis data, sedangkan LLHPB menjadi ujung tombak gerakan lapangan yang menghadirkan aksi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi keduanya menjadi modal penting dalam membangun ketangguhan komunitas yang berkelanjutan.
“Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan, tetapi realitas yang kita hadapi saat ini. Karena itu, 'Aisyiyah harus mengambil peran yang lebih strategis, tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga membangun ketangguhan masyarakat sebelum bencana datang,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan edukasi berbasis keluarga, peningkatan kapasitas masyarakat dalam mitigasi bencana, serta advokasi kebijakan lingkungan sebagai bagian dari implementasi konsep fiqh al-bi'ah atau fikih lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Sesi seminar dipandu oleh Fitri Rakhmawati, M.Pd. selaku moderator dengan menghadirkan tiga narasumber yang membahas isu lingkungan dan kebencanaan dari berbagai perspektif.
Narasumber pertama, Dr. Ugung Dwi Ario Wibowo, M.Si., Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan pakar psikologi kebencanaan, menyampaikan materi bertajuk “Dari Amanah ke Aksi: Ekoteologi Islam sebagai Dasar Relawan Psikososial Tanggap Bencana.” Ia menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan merupakan bagian integral dari ajaran Islam melalui konsep ekoteologi yang menempatkan manusia sebagai khalifah sekaligus 'abdullah di muka bumi.
Dr. Ugung menekankan pentingnya penguatan kapasitas relawan psikososial, mulai dari kemampuan berkomunikasi, asesmen kebutuhan penyintas, manajemen posko, hingga kemampuan beradaptasi dan berkolaborasi. Ia juga mengenalkan pendekatan sederhana dalam pendampingan psikososial melalui konsep 3A (Amati, Ajak Bicara, Ajak Berkegiatan) dan 3L (Look, Listen, Link) sebagai langkah awal membantu korban bencana.
Sementara itu, Dr. Elis Puspitasari, M.Si., Ketua LPPA PDA Banyumas, mengangkat tema “Kepemimpinan Perempuan Berkemajuan dalam Mitigasi Bencana dan Advokasi Lingkungan.” Ia menyoroti bahwa krisis iklim pada dasarnya juga merupakan krisis keadilan gender karena perempuan sering menjadi kelompok yang paling rentan terdampak sekaligus memiliki potensi besar sebagai agen perubahan.
Dalam paparannya, Dr. Elis menjelaskan pentingnya transformasi paradigma menuju gerakan eco-jihad, yakni gerakan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kepedulian lingkungan, dan aksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ia juga memaparkan berbagai praktik baik yang telah dilakukan PDA Banyumas melalui inovasi filantropi hijau dan penguatan komunitas perempuan dalam menjaga lingkungan.
“Menjaga lingkungan adalah amanah kekhalifahan, sedangkan membantu korban bencana merupakan implementasi nyata spirit Al-Ma'un dalam kehidupan,” ungkapnya.
Narasumber ketiga, Ir. Ari Widayati, Ketua LLHPB PDA Banyumas, memaparkan materi berjudul “Peran Strategis 'Aisyiyah dalam Pengelolaan Lingkungan dan Penanggulangan Bencana.” Ia menjelaskan berbagai program dan gerakan yang telah dilakukan LLHPB PDA Banyumas dalam membangun kesadaran lingkungan serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana.
Menurutnya, tantangan lingkungan dan kebencanaan saat ini membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk organisasi perempuan. Karena itu, LLHPB terus mendorong penguatan jejaring hingga tingkat akar rumput agar terbentuk masyarakat yang peduli lingkungan dan tangguh menghadapi bencana.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan dan masukan disampaikan peserta terkait penguatan peran perempuan dalam pengelolaan lingkungan, kolaborasi lintas lembaga, serta pengembangan program pengelolaan sampah dan mitigasi bencana berbasis komunitas.
Melalui seminar ini, PDA Banyumas berharap lahir berbagai gagasan dan langkah konkret yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga, organisasi, maupun masyarakat luas. Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen 'Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang tidak hanya berperan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, tetapi juga hadir sebagai pelopor dalam menjaga kelestarian lingkungan serta memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai risiko bencana.
Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber, sesi foto bersama, dan pembacaan hamdalah sebagai ungkapan syukur atas terselenggaranya kegiatan yang berlangsung dengan lancar dan penuh semangat kolaborasi. (diko)

