Perlunya Merekatkan Kohesivitas Sosial di Tengah Ragam Perbedaan

Suara Muhammadiyah

28 March 2026

494
Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed.

Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed.

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Di tengah perbedaan penetapan 1 Syawal yang kerap menjadi perdebatan, Abdul Mu'ti, mengajak seluruh umat Islam untuk tidak larut dalam perselisihan. Ia menegaskan bahwa perbedaan dalam beragama adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan kedewasaan dan semangat fastabiqul khairat.

"Nggak usah dipersoalkan 1 Syawal-nya kapan. Itu soal keyakinan masing-masing, tapi semuanya sama, mulainya Idul Fitri 1 Syawal, nggak ada yang beda," tegas Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Sabtu (28/3) saat silaturahmi Syawalan 1447 H di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Merujuk pada Surah Al-Ma'idah ayat 48, Mu'ti menjelaskan bahwa Allah sendiri telah menetapkan bahwa setiap umat memiliki syariat dan jalan yang berbeda-beda. Likulli ja'alna minkum syir'ataw wa minhaja untuk setiap umat. Kami berikan aturan dan jalan tersendiri.

"Nggak usah ngotot siapa yang paling benar, nggak usah ngotot siapa yang masuk surga. Surga itu di Al-Qur'an disebutkan mayoritas dalam bentuk jamak "jannat". Artinya surga itu banyak, tidak satu," ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Ia juga mengutip pendapat Yusuf Qardhawi dalam kitab Al-Fiqhu Al-Ikhtilaf yang menyebut tiga sumber perbedaan di kalangan umat: perbedaan alamiah (bawaan), perbedaan karena faktor pemikiran dan ijtihad, serta perbedaan dalam pilihan strategi mengamalkan agama.

Soal ijtihad, Mu'ti mengingatkan bahwa tidak ada mujtahid yang rugi. "Kalau umat itu berijtihad dan benar, dia dapat dua pahala. Kalau ijtihadnya salah, dia dapat satu pahala. Yang tidak dapat pahala adalah yang tidak berbuat apa-apa, atau yang justru memancing di air keruh di tengah perbedaan yang ada," jelasnya.

Menutup tausiyahnya, Mu'ti menekankan pentingnya silaturahmi sebagai perekat umat di tengah keberagaman. Ia mengurai makna kata sila yang berarti mengurai benang kusut sekaligus menyambung tali yang putus. Dua makna yang sangat relevan dengan semangat Idul Fitri.

"Ciri dari orang mukmin itu adalah mereka yang menjaga silaturahmi. Orang yang memutus silaturahmi adalah di antara mereka yang Allah tidak pandang di hari kiamat," ingatnya.

Ia pun menutup dengan analogi sederhana, tapi mengena: "Pagar mangkok itu lebih kuat daripada pagar tembok. Kalau orang itu baik kepada tetangga, yang menjaga rumah kita itu tetangga kita sendiri."

Mu'ti berharap Muhammadiyah dapat menjadi teladan dalam menjaga kerukunan dan memperkuat persatuan umat, tidak hanya di Sulawesi Selatan, tetapi di seluruh Indonesia. (Naf)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Purwodiningratan mewisuda 95 siswa tahun pelajaran ....

Suara Muhammadiyah

10 June 2026

Berita

BENER MERIAH, Suara Muhammadiyah – Ketua LAZISMU Aceh Firdaus Nyak Idin beserta Ketua Pimpinan....

Suara Muhammadiyah

13 May 2025

Berita

TASIKMALAYA, Suara Muhammadiyah — Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bersama Program Inklusi &ls....

Suara Muhammadiyah

20 December 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menerima pe....

Suara Muhammadiyah

10 July 2025

Berita

MDMC dan UNFPA Libatkan Kader PCIM Timur Tengah - Afrika Utara JAKARTA, Suara Muhammadiyah — ....

Suara Muhammadiyah

3 September 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah