PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah - Bertempat di BTM Bobotsari Purbalingga (10/10), LP UMKM PWM Jawa Tengah dan LP UMKM PDM Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, dan Wonosobo berkumpul. Mereka melakukan pertemuan tidak formal guna membahas banyak hal, khususnya pengembangan sektor ekonomi persyarikatan yang secara spesifik digawangi oleh UMKM Jawa Tengah.
Khafid Sirojudin mengatakan, keberadaan UMKM harus terus didukung dan dibela oleh seluruh elemen yang ada di dalam ekosistem Muhammadiyah. Mulai dari pendanaan, perizinan, hingga memberikan keringanan angsuran. Dalam hal ini, sinergi dan kolaborasi menjadi upaya yang sangat penting dalam rangka mendukung kemajuan UMKM.
Menurutnya, UMKM bukan badan hukum yang mengharuskannya menempuh berbagai kerumitan alur birokrasi. Mengisi form ini dan itu agar mendapat kemudahan dan kelancaran dalam proses usaha. Fenomena yang dianggap wajar bagi sebagian besar orang inilah yang dinilai oleh Ketua LP UMKM kurang tepat dan tidak realistis jika dibebankan kepada UMKM.
Khafid justru melihat UMKM sebagai skala usaha, yaitu kelompok usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dimiliki oleh perorangan atau badan usaha, dengan batasan modal dan hasil penjualan tahunan tertentu di bawah skala usaha besar.
Dalam hal ini, keberpihakan kepada UMKM menjadi sesuatu yang perlu untuk terus digelorakan oleh meraka para pemangku kebijakan, pemilik modal, dan instansi pendukung UMKM.
Selain itu, untuk mendorong UMKM agar naik kelas menjadi usaha yang mandiri dan berkelanjutan, dibutuhkan kemampuan literasi bisnis yang mumpuni. Adapun kemampuan literasi yang dimaksud adalah kemampuan untuk membaca, memahami, menilai, mengevaluasi, mendefinisikan, serta mengaplikasikan temuan baru dari sebuah hasil untuk pengembangan UMKM.
Kemudian yang tak kalah penting. Formula terakhir agar UMKM bisa maju adalah sikap dan karakter jujur. Khafid menegaskan, bagi pelaku usaha, jujur adalah harga mati. Sebagaimana meneladani Nabi Muhammad yang dicap Tuhan sebagai manusia yang memiliki perangai jujur.
Ia pun mengilustrasikan tentang bagaimana karakter jujur harus ada dalam 3 profesi berbeda. Antara lain politikus, akademisi, dan pedagang. Dari ketiga, hanya pedagang yang tidak boleh salah dan harus berkata jujur.
"Politikus boleh bohong tapi gak boleh salah. Akademi boleh salah tapi gak boleh bohong. Tapi kalau pedagang, ia harus jujur dan gak boleh salah," tegasnya. (diko)

