Prof Syamsul Anwar, Membingkai Organisasi dengan Kefakihan dan Kezuhudan

Suara Muhammadiyah

31 August 2026

448
Prof Dr Haedar Nashir M.Si saat memberikan sambutannya dalam acara Launching Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran (31/8).

Prof Dr Haedar Nashir M.Si saat memberikan sambutannya dalam acara Launching Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran (31/8).

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di mata keluarga, Prof Syamsul Anwar dikenal sebagai sosok yang sangat serius serta tekun. Keseriusannya terlihat dari ketahanan beliau selama berjam-jam di depan komputer untuk mengetik atau saat membaca buku. Mungkin hal inilah yang membuat beliau berada di level yang berbeda seperti yang kita lihat sekarang. Dalam keilmuan, tak jarang orang menyebutnya sebagai pakar dalam hal keislaman. 

Prof Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai Prof Syamsul Anwar sebagai sosok ulama yang langka di Muhammadiyah. Kepakarannya dalam bidang fikih dan kemudian ditambah dengan sifat zuhudnya membuat banyak orang menaruh hormat kepada beliau. 

Sehingga gelar Fakih yang Zahid menjadi sangat relevan dengan beliau. Cerminan dari ulama yang matang dalam berpikir dan dewasa dalam bersikap. Begitu pula saat memimpin organisasi Islam modern terbesar, kedewasaannya ditunjukkan melalui sikap tidak merasa paling benar, serta tidak memaksakan kehendak pribadinya dalam memutuskan langkah organisasi. Hal ini menjadi karakter yang terus melekat pada diri Syamsul Anwar, yang mana secara istiqomah, beliau membingkai dirinya melalui Muhammadiyah sebagai organisasi yang berpegang pada tiga hal, al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad. 

“Ilmu kita terbatas. Jangan sampai kita merasa melampaui keputusan organisasi. Bingkai kita adalah al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad,” ujar Haedar. 

Masih berkaitan dengan rambu-rambu organisasi dalam menentukan suatu kebijakan, Muhammadiyah sejatinya menganut ijtihad jama’i atau yang akrab disebut ijtihad kolektif. Dan inilah yang terus dijaga dan dipegang teguh oleh seluruh Pimpinan Persyarikatan, khususnya oleh Prof Syamsul Anwar sebagai pimpinan sekaligus ulama Muhammadiyah. 

“Kalau kita punya pandangan, jangan mencoba untuk memaksakan pandangan kita diterima, lebih-lebih pandangan tersebut bersifat pribadi. Ingat, di Muhammadiyah ada musyawarah,” pesan Haedar di UMY Hotel (31/8). 

Ia kembali menegaskan bahwa di Muhammadiyah ada sistem yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh warga Persyarikatan. Sistem yang menjaga kompas arah organisasi.

“Sehebat apapun orang di Muhammadiyah, mereka datang dan pergi. Yang abadi adalah sistemnya,” tutupnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi tuan rumah penyelen....

Suara Muhammadiyah

15 October 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) menerima kunjungan silatu....

Suara Muhammadiyah

7 August 2026

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) lakukan penandatangan Nota Kese....

Suara Muhammadiyah

16 October 2023

Berita

ACEH BARAT, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah Aceh Barat Daya melepas Tim MDMC Aceh ....

Suara Muhammadiyah

26 June 2025

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Dalam semangat mempererat ukhuwah dan memperkuat sinergi antar lembag....

Suara Muhammadiyah

10 April 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah