YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di mata keluarga, Prof Syamsul Anwar dikenal sebagai sosok yang sangat serius serta tekun. Keseriusannya terlihat dari ketahanan beliau selama berjam-jam di depan komputer untuk mengetik atau saat membaca buku. Mungkin hal inilah yang membuat beliau berada di level yang berbeda seperti yang kita lihat sekarang. Dalam keilmuan, tak jarang orang menyebutnya sebagai pakar dalam hal keislaman.
Prof Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai Prof Syamsul Anwar sebagai sosok ulama yang langka di Muhammadiyah. Kepakarannya dalam bidang fikih dan kemudian ditambah dengan sifat zuhudnya membuat banyak orang menaruh hormat kepada beliau.
Sehingga gelar Fakih yang Zahid menjadi sangat relevan dengan beliau. Cerminan dari ulama yang matang dalam berpikir dan dewasa dalam bersikap. Begitu pula saat memimpin organisasi Islam modern terbesar, kedewasaannya ditunjukkan melalui sikap tidak merasa paling benar, serta tidak memaksakan kehendak pribadinya dalam memutuskan langkah organisasi. Hal ini menjadi karakter yang terus melekat pada diri Syamsul Anwar, yang mana secara istiqomah, beliau membingkai dirinya melalui Muhammadiyah sebagai organisasi yang berpegang pada tiga hal, al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad.
“Ilmu kita terbatas. Jangan sampai kita merasa melampaui keputusan organisasi. Bingkai kita adalah al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad,” ujar Haedar.
Masih berkaitan dengan rambu-rambu organisasi dalam menentukan suatu kebijakan, Muhammadiyah sejatinya menganut ijtihad jama’i atau yang akrab disebut ijtihad kolektif. Dan inilah yang terus dijaga dan dipegang teguh oleh seluruh Pimpinan Persyarikatan, khususnya oleh Prof Syamsul Anwar sebagai pimpinan sekaligus ulama Muhammadiyah.
“Kalau kita punya pandangan, jangan mencoba untuk memaksakan pandangan kita diterima, lebih-lebih pandangan tersebut bersifat pribadi. Ingat, di Muhammadiyah ada musyawarah,” pesan Haedar di UMY Hotel (31/8).
Ia kembali menegaskan bahwa di Muhammadiyah ada sistem yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh warga Persyarikatan. Sistem yang menjaga kompas arah organisasi.
“Sehebat apapun orang di Muhammadiyah, mereka datang dan pergi. Yang abadi adalah sistemnya,” tutupnya. (diko)

