Rahasia Spiritual Tarekat NU dan Muhammadiyah

Publish

19 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
118
Dok Istimewa

Dok Istimewa

PAYAKUMBUH, Suara Muhammadiyah- Selama puluhan tahun, perdebatan antara warga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah seolah tak pernah usai. Qunut subuh, jumlah rakaat tarawih, hingga tradisi tahlilan kerap menjadi bahan perdebatan panjang di warung kopi, grup WhatsApp keluarga, bahkan mimbar-mimbar masjid. Namun, siapa sangka di balik hiruk-pikuk perbedaan ritual itu, tersimpan kedalaman filosofi spiritual yang justru saling melengkapi?

Inilah yang terungkap dalam perbincangan eksklusif Minangkabau News dengan Dr. Irwandi Nashir, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh, usai beliau mengisi Pengajian Ahad Shubuh di Masjid Ansharullah Muhammadiyah Payakumbuh pada Ahad pagi, 18 Januari 2026. Dengan tema "Di Balik Ayat-Ayat I'tishom", pengajian itu rupanya membuka tirai tentang sesuatu yang jauh lebih esensial dari sekadar perbedaan gerakan shalat.
Jalan Sunyi versus Jalan Ramai: Dua Rute Menuju Sang Pencipta

Akademisi UIN Bukittinggi ini membuka pembicaraan dengan sebuah analogi sederhana namun mengena. "Bayangkan Anda ingin mendaki gunung. Ada yang memilih jalur pendakian yang sepi, penuh kontemplasi, dipandu oleh pemandu berpengalaman. Ada pula yang memilih jalur ramai, penuh aktivitas, sambil membangun infrastruktur agar pendaki lain lebih mudah mencapai puncak. Keduanya sama-sama sah, sama-sama mulia," ujarnya dengan nada santai namun penuh makna.

Dalam konteks spiritualitas Islam di Indonesia, Dr. Irwandi menjelaskan bahwa NU merepresentasikan "jalan sunyi" melalui tradisi tarekat yang kental. Bagi komunitas Nahdliyin, perjalanan spiritual adalah pendakian vertikal yang membutuhkan bimbingan seorang mursyid—guru spiritual yang memastikan sang murid tidak tersesat dalam pencarian hakikat Tuhan.

"Tradisi al-Jam'iyyah ath-Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah bukan sekadar ritual kosong. Ini adalah metodologi pembersihan hati yang terstruktur, sistematis, dan telah teruji selama berabad-abad," jelasnya dengan penuh penghormatan terhadap tradisi NU yang sering disalahpahami sebagai bid'ah oleh sebagian kalangan.

Jika NU identik dengan tarekat, lalu bagaimana dengan Muhammadiyah yang kerap dicap "kering" dari aspek spiritual? Pertanyaan ini langsung dijawab tegas oleh Dr. Irwandi dengan gelengan kepala.

"Ini kesalahpahaman terbesar tentang Muhammadiyah!" tegasnya. "Muhammadiyah tidak anti-spiritual. Kami memiliki konsep 'Irfan—sebuah pemahaman mendalam tentang hakikat ketuhanan yang tidak berhenti di atas sajadah, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata transformasi sosial."

Dosen yang juga aktif di berbagai kegiatan akademik ini menjelaskan bahwa spiritualitas Muhammadiyah adalah "zikir eksistensial"—sebuah bentuk pengabdian kepada Allah melalui pelayanan kepada sesama manusia. Ribuan sekolah dan universitas Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia, ratusan rumah sakit dan klinik kesehatan, serta Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang selalu hadir di lokasi bencana—semua itu adalah manifestasi dari spiritualitas yang membumi.

"Ketika warga Muhammadiyah membangun rumah sakit di daerah terpencil, itu adalah ibadah. Ketika guru-guru Muhammadiyah mendidik anak-anak di pelosok negeri dengan gaji minim, itu adalah zikir. Ketika relawan MDMC bekerja tanpa henti di lokasi bencana, itu adalah bentuk cinta kepada Allah yang diejawantahkan dalam pelayanan kemanusiaan," paparnya dengan mata berbinar.

Yang menarik dari penjelasan Dr. Irwandi adalah bagaimana beliau tidak menempatkan kedua pendekatan spiritual ini dalam posisi berhadap-hadapan, melainkan berdampingan secara harmonis.

"Tarekat adalah jalan wuṣûl—sampai kepada Allah melalui pembersihan batin dan penyucian jiwa. Sementara Irfan adalah jalan ihsan—perbaikan peradaban melalui amal nyata dan kontribusi sosial. Keduanya bermuara pada satu tujuan: kesalehan yang paripurna, baik secara vertikal kepada Allah maupun horizontal kepada sesama,"jelasnya sambil merujuk pada berbagai literatur klasik maupun kontemporer.

Ia kemudian memberikan ilustrasi konkret. "Seorang pengamal tarekat mungkin menghabiskan malam-malamnya untuk berzikir, berwirid, dan berkhalwat. Sementara seorang aktivis Muhammadiyah mungkin menghabiskan malam-malamnya untuk menyusun proposal pembangunan sekolah di daerah tertinggal. Apakah keduanya bertentangan? Sama sekali tidak! Keduanya adalah bentuk pengabdian yang berbeda dengan esensi yang sama."

Indonesia Butuh Dua Sayap untuk Terbang

Memasuki bagian yang paling mengena, Dr. Irwandi menggunakan metafora Garuda Pancasila untuk menggambarkan posisi NU dan Muhammadiyah dalam konteks kebangsaan.

"NU adalah sayap kiri yang menjaga spiritualitas batin bangsa. Tradisi tahlilan, istighosah, dan berbagai ritual keagamaan mereka memastikan masyarakat Indonesia tidak kehilangan jiwa, tidak kehilangan ketenangan di tengah hiruk-pikuk modernitas yang semakin materialistis," ujarnya dengan nada serius.

"Sementara Muhammadiyah adalah sayap kanan yang menjaga akal sehat dan kesejahteraan fisik bangsa. Melalui modernisasi pendidikan, pelayanan kesehatan, dan berbagai program pemberdayaan ekonomi, Muhammadiyah memastikan bangsa ini tidak tertinggal oleh kemajuan zaman," lanjutnya.

Kemudian beliau bertanya retoris, "Bisakah burung Garuda terbang hanya dengan satu sayap? Tentu tidak! Kita butuh keduanya. Tanpa zikir dan kontemplasi spiritual NU, bangsa ini mungkin akan kehilangan jati diri dan tercerabut dari akar spiritualitasnya. Tanpa amal usaha dan gerakan pencerahan Muhammadiyah, bangsa ini akan stagnan dan tertinggal dalam kompetisi global."

Memasuki penghujung perbincangan, Dr. Irwandi memberikan pesan khusus untuk generasi muda, khususnya Generasi Alpha yang tumbuh di era digital dengan akses informasi tanpa batas namun sering kali dangkal dalam memahami esensi.

"Jangan lagi terjebak dalam perdebatan qunut atau tidak qunut, tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat. Itu hanya kulit luarnya. Yang lebih penting adalah: apakah kita sudah menjadi Muslim yang baik? Apakah kita sudah memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat? Apakah hati kita sudah bersih dan dekat dengan Allah?" tanyanya dengan nada menggugah.

Beliau mengingatkan bahwa perbedaan antara NU dan Muhammadiyah seharusnya dilihat sebagai kekayaan khazanah Islam Nusantara, bukan sebagai perpecahan. "Ini adalah rahmat, bukan laknat. Ini adalah kekuatan, bukan kelemahan. Kita harus belajar menghargai keberagaman dalam beribadah sambil tetap menjaga persatuan dalam tujuan akhir."

Pengajian Ahad Shubuh di Masjid Ansharullah hari itu ditutup dengan doa bersama dan optimisme bahwa harmoni antara "jalan sunyi" dan "jalan ramai" akan terus menjadi pilar kokoh peradaban Islam Indonesia di masa depan.

Setelah shalat shubuh berjamaah, beberapa jamaah yang hadir—ada yang bersorban ala NU, ada pula yang berpeci hitam ala Muhammadiyah—terlihat bersalaman hangat dan berbincang akrab. Sebuah pemandangan indah yang menjadi bukti bahwa perbedaan bukan penghalang untuk saling menghormati dan bekerja sama.

Dalam perjalanan pulang, seorang jamaah muda berusia sekitar 25 tahun menghampiri Dr. Irwandi dan berkata, "Ustadz, saya baru paham hari ini bahwa NU dan Muhammadiyah itu seperti tangan kanan dan tangan kiri. Berbeda fungsi, tapi saling melengkapi untuk memeluk Indonesia."

Dr. Irwandi tersenyum lebar. "Alhamdulillah, kalau begitu pengajian pagi ini tidak sia-sia."

Pembahasan ini menjadi pengingat penting di tengah maraknya polarisasi sosial-keagamaan yang kerap diperparah oleh media sosial. Alih-alih terus memperdebatkan perbedaan ritual, sudah saatnya umat Islam Indonesia—baik dari kalangan NU, Muhammadiyah, maupun organisasi Islam lainnya—kembali fokus pada esensi: membangun peradaban yang rahmatan lil 'alamin.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Pendidikan Ulama Tarjih Muhamamdiyah (PUTM) mewisuda sebanyak 52 ....

Suara Muhammadiyah

24 August 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah Pimpinan Pusat Muhammad....

Suara Muhammadiyah

30 April 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI....

Suara Muhammadiyah

29 February 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah -  Universitas Muhammadiyah Makassar, Selasa 26 Agustus 2025 melan....

Suara Muhammadiyah

26 August 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammmadiyah –  Pesantren Mahasiswa (Pesma) KH Mas Mansur Universitas M....

Suara Muhammadiyah

22 October 2023