KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah tidak pernah berhenti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Realitas empirik memperlihatkan, sekolah yang didirikan Muhammadiyah tersebar secara luas, lebih-lebih lagi madrasah.
"Madrasah Muhammadiyah seluruh Indonesia ada hampir 2.000," bongkar Didik Suhardi, dihadapan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Irwan Akib.
Jumlah madrasah yang demikian rupanya itu, sebut Didik, perlu membutuhkan atensi khusus. Kenapa?
"Kita ingin madrasah kita tidak ketinggalan dengan sekolah-sekolah yang ada di Muhammadiyah juga," tekan Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Di sinilah titik temu Rapat Kerja (Raker) Duta Madrasah Muhammadiyah di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Dadapan, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis-Sabtu (23-25/7).
"Kita ingin melakukan pembaharuan, ingin melakukan transformasi," tegas Didik. Dari situlah kemudian, Madrasah Muhammadiyah memiliki peningkatan kualitas yang lebih baik.
"Yang tentu menjadi harapan bagi keluarga Muhammadiyah, sehingga anak-anak mereka bisa di tetapkan sekolah Muhammadiyah," ujar Didik, yang juga Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Manajemen dan Kelembagaan.
Didik menyebut, raker ini menjadi respons terhadap dinamika pendidikan kontemporer. Yang mana fakta di lapangan, banyak sekolah yang kekurangan murid, sehingga menjadi relevan untuk mencandra pelbagai strategi agar madrasah Muhammadiyah tidak serupa dengan hal tersebut.
"Kami sepakat untuk melaksanakan Diksuskamad (Pendidikan Khusus Kepala Madrasah), di mana pendidikan akan diramu sedemikian rupa sehingga akan banyak inovasi, transformasi, dan pembaruan," terang Didik.

Berangkat dari sini, paradigma dan mindset kepala madrasah Muhammadiyah, kata Didik, memiliki lompatan pemikiran yang bernas. "Punya visi masa depan untuk menyiapkan generasi emas Indonesia 2045," tekannya.
Sisi lain, Marjiyanti melaporkan, peserta raker ini berasal dari beberapa wilayah yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Lampung, Sulawesi, Riau dan Sumatera.
"Artinya dari Sabang sampai Merauke sudah mewakili beberapa madrasah," ujar Ketua Duta Madrasah Muhammadiyah itu.
Marjiyanti mengatakan, kepala madrasah Muhammadiyah memiliki tugas dan responsibilitas amat besar. Yakni melejitkan sekolah, menyejahterakan guru, dan membentuk kader Muhammadiyah yang militan.
"Itu tugas kita. Tugas kita memang berat. Tetapi, selama kita kerja sama, berkomitmen, disiplin, insya Allah bisa membesarkan sekolah dan madrasah menjadi unggul, berkemajuan dan mendunia," jelasnya.
Sisi lain, Irwan menyebut, Raker Duta Madrasah menjadi sangat penting. Mengapa begitu? Sebutnya, Muhammadiyah mencoba melakukan pengembangan dan pendampingan khusus Madrasah.
"Tentu agar ke depan Madrasah-Madrasah Muhammadiyah ini maju, unggul, dan mampu bersaing di ranah global," jelasnya.
Menurut Irwan, keunggulan Madrasah Muhammadiyah tidak hanya terletak pada pengembangan kemampuan intelektual dan akademik, tapi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dapat menjadi ruh dalam mewarnai pendidikan di Madrasah Muhammadiyah.
"Sehingga harapan kita kedepann anak-anak kita di samping kemampuan intelektualnya bagus, karakternya juga penting," terangnya.
Irwan menginginkan murid Madrasah Muhammadiyah memiliki keseimbangan antara keimanan, intelektualitas, akhlak, dan keterampilan. Dan hal itu menjadi hal yang paling fundamental.
"Ini perlu tentu perlu upaya-upaya dari semua sekolah-sekolah kita untuk melahirkan itu," tuturnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan upaya bersama dari seluruh sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Karenanya, adanya Duta Madrasah sebagai paket pendamping dan fasilitator untuk hadir mendampingi Madrasah Muhammadiyah di akar rumput.
"Kita berharap bahwa Madrasah Muhammadiyah bisa sejajar dengan sekolah-sekolah yang unggul dan punya wawasan yang baik," tandasnya. (Cris)

