Ramadhan Bersama Al-Qur’an, Syawal Menguatkan Silaturahmi
Penulis: M. Saifudin, Pengasuh PPM Sangen, Alumni Al Azhar Kairo
Ramadhan sebenarnya membentuk dua arah perubahan dalam kehidupan seorang muslim. Hubungan dengan Allah Ta’ala benar-benar diperkuat melalui ibadah, sedangkan hubungan dengan manusia diperhalus secara pelan-pelan setelahnya. Makanya Ramadan dan Syawal selalu berjalan berurutan dengan pesan yang sangat jelas. Ramadan menata hati, Syawal menguatkan persaudaraan.
Pada bulan Ramadhan seorang muslim benar-benar diajak memperbaiki dirinya. Puasa, shalat tarawih, iktikaf, serta tadarus Al-Qur’an membuat suasana ibadah terasa sangat hidup. Masjid dipenuhi jamaah. Ayat-ayat Al-Qur’an terdengar hampir di setiap tempat. Kadang-kadang suasananya sangat berbeda dibandingkan bulan lain. Mushaf yang lama tersimpan kembali dibuka dan dibaca.
Kemuliaan Ramadhan memang berkaitan dengan Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil” (QS. Al-Baqarah 185).
Makanya para ulama sering menyebut Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Tradisi membaca Al-Qur’an meningkat sangat tajam. Di banyak masjid orang-orang berkumpul membaca Al-Qur’an bersama. Di rumah-rumah keluarga juga ikut membaca meskipun secara sederhana.
Kebiasaan ini terinspirasi dari tradisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam sebuah hadits disebutkan
كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَى النَّبِيَّ ﷺ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Malaikat Jibril menemui Nabi setiap malam di bulan Ramadhan lalu mengajarkan kepadanya Al-Qur’an” (HR. Bukhari).
Pertemuan itu berlangsung sepanjang Ramadhan. Al-Qur’an dibaca dan diulang secara pelan-pelan. Pada Ramadhan terakhir sebelum wafatnya, Rasulullah bahkan mengulang bacaan Al-Qur’an bersama Jibril sebanyak dua kali. Para sahabat memahami peristiwa ini sebagai isyarat kuat bahwa Ramadhan sangat terkait dengan Al-Qur’an.
Para sahabat menjalani Ramadhan dengan kesungguhan yang sangat tinggi. Malam-malam mereka dipenuhi qiyamul Ramadhan dengan bacaan Al-Qur’an yang panjang. Kadang-kadang sangat panjang. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab kaum muslimin shalat malam dengan imam Ubay bin Ka‘ab dan Tamim ad-Dari. As-Saib bin Yazid meriwayatkan
عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ، قَالَ وَكَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ
“Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka‘ab dan Tamim ad-Dari untuk mengimami manusia dalam qiyamul Ramadhan. Para imam membaca ratusan ayat hingga kami harus bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri.” (HR. Imam Malik).
Bayangkan suasana shalat seperti itu. Bacaan Al-Qur’an sangat panjang sampai sebagian jamaah harus bertumpu pada tongkat. Meski demikian mereka tetap bertahan sampai selesai. Bukankah berdiri lama bersama ayat-ayat Allah bagi mereka justru memberi ketenangan hati.
Tradisi ini kemudian diwarisi para ulama. Imam Az-Zuhri pernah mengatakan bahwa ketika Ramadhan tiba kesibukan kaum muslimin biasanya berkisar pada dua hal yaitu membaca Al-Qur’an dan memberi makan orang lain. Sebagian ulama mampu mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali dalam satu bulan. Mereka ingin menjaga hubungan hati dengan wahyu.
Al-Qur’an memang dibaca berulang selama Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya” (QS. Shad 29).
Ayat-ayat yang dibaca setiap malam bekerja secara pelan-pelan dalam diri seseorang. Hatinya menjadi lebih tenang dan lebih sabar. Sikap terhadap orang lain juga berubah. Kadang-kadang perubahan itu terasa sangat halus tetapi pengaruhnya besar.
Setelah Ramadhan berakhir umat Islam memasuki Syawal. Idul Fitri sering dipahami sebagai hari kegembiraan setelah latihan panjang menahan diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Puasa Ramadhan melatih kesabaran. Seseorang belajar menahan amarah dan menjaga ucapan. Dengan demikian latihan spiritual itu seharusnya terus berlanjut setelah Ramadhan selesai.
Syawal juga dikenal sebagai bulan silaturahmi. Keluarga, kerabat, dan sahabat saling mengunjungi serta saling memaafkan. Allah Ta’ala berfirman
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan” (QS. An-Nisa 1).
Di Indonesia suasana ini terasa sangat kuat melalui tradisi halal bi halal. Orang-orang saling berjabat tangan dan meminta maaf. Hubungan yang sempat renggang kadang-kadang menjadi cair kembali. Makanya Syawal terasa hangat bagi banyak keluarga.
Syawal juga disertai anjuran puasa enam hari. Rasulullah berpesan
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun” (HR. Muslim).
Pesan Ramadhan sepertinya sangat jelas. Al-Qur’an memperbaiki hati manusia secara pelan-pelan. Hati yang lembut biasanya lebih mudah memaafkan orang lain. Oleh sebab itu Syawal terasa seperti kelanjutan alami dari Ramadhan.
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menggambarkan akhlak Rasulullah dengan kalimat yang sangat singkat
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”
Al-Qur’an membentuk pribadi yang sabar, lembut, dan mudah memaafkan. Seharusnya kebiasaan membaca Al-Qur’an selama Ramadhan meninggalkan bekas dalam kehidupan sehari-hari. Makanya Syawal sering terasa sangat indah ketika Al-Qur’an benar-benar hidup dalam sikap manusia. Ketika itu terjadi, persaudaraan tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, melainkan tumbuh sebagai karakter yang menetap dalam kehidupan umat.
