RendangMu Model Ekonomi Daging KurbanMu

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
125

RendangMu Model Ekonomi Daging KurbanMu

Oleh: Amidi, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Palembang, BPH UM-AD Palembang dan Pengamat Ekonomi Sumsel

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan (Sunnah Muakkadah) adalah ibadah kurban. Perintah ibadah kurban merupakan syariat Islam untuk menyembelih hewan ternak (kambing atau sapi) sebagai bentuk ketaatan dan pendekaan diri kepada Allah SWT. Allah berfirman: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar ayar 2)

 Perintah sang Khaliq untuk melaksanakan ibadah kurban bagi kaum muslim, tidak hanya mengandung dimensi nilai ketakwaan kepadaNya, tetapi juga mengandung dimensi ekonomi bagi umat secara keseluruhan. 

 Melaksanakan kurban dengan menyembelih hewan kurban juga mengandung makna suatu keyakinan, “seyakin-yakinnya” atau ainul yaqin atas perintah sang khaliq tersebut, sehingga hewan kurban merupakan wujud dari “taqarrub” atau merupakan langkah mendekatkan diri, merupakan ketaqwaan hamba kepada Allah SWT.

Dimensi Ekonomi Kurban

Dimensi ekonomi melaksanakan kurban, nyata dan dapat dirasakan umat, baik bagi pihak yang melaksanakan kurban maupun yang akan menerima hewan kurban yang sudah disembelih tersebut.

 Para pelaku bisnis atau pedagang yang menjual hewan kurban atau hewan yang akan digunakan untuk melaksanakan kurban tersebut, pada hari-hari biasa sepi pembeli, apalagi masih ada sebagaian besar dikalangan umat Islam yang masih merasakan ekonomi sulit saat ini.

 Penjual sapi, dan atau kamibing pada hari-hari biasa terkadang gigit jari, hari-hari di lalui tanpa pembeli, walaupun ada yang membeli, hanya satu dua orang saja, hanya pedagang yang akan menjual sate, atau masyarakat yang mau hajatan serta yang mau berternak sapi, atau kambing tersebut.

 Namun, pada beberapa hari sebelum tibanya hari raya idul adha atau hari raya qurban 1447 H ini, pedagang tersebut, mulai kebanjiran pesanan, sehingga keuntungan mereka pun menjadi “gede”. Pedagang hewan kurban, juga ketiban rezeki nomplok dengan tibanya hari raya idul adha.

 Tidak heran, jika panitia kurban atau institusi yang akan melaksanakan ibadah kurban (seperti RS Muhammadiyah Palembang), jauh-jauh hari sudah “menempa” hewan kurban dan ada juga yang membeli hewan kurban masih kecil untuk dipelihara dengan sistem bagi hasil kepada pihak yang bersedia memelihara untuk membesarkan hewan kurban tersebut, sehingga pada saat mendekati hari “H” atau hari raya idul adha, hewan kurban yang dipelihara tersebut sudah besar dan sudah masuk kriteria hewan untuk digunakan dalam menunaikan ibadah kurban. Tinggal kedua belah pihak menghitung berapa harga hewan kurban pada saat itu, tinggal negosiasi antara pihak yang menitip hewan kurban untuk dibesarkan tersebut dengan pihak yang memeliharanya.

 Orang yang diberi Allah rezeki yang dapat digunakan untuk melaksnakaan ibadah kurban barang tentu akan membeli hewan kurban. Hewan kurban yang akan dibeli pelaku qurban berkisar Rp. 3 juta sampai Rp. 3,5 juta untuk satu ekor hewan kurban berupa kambing. Artinya untuk satu orang pelaku kurban, minimal harus menyediakan uang sekitar Rp. 3 juta sampai Rp. 3,5 juta rupiah baru bisa melaksanakan ibadah kurban. 

 Dengan demikian, berarti orang yang akan melaksanakan ibadah kurban secara ekonomi harus mampu, harus mempunyai uang cukup. Kecukupan uang tersebut, bisa juga disiasati dengan arisan atau memotong gaji, misalnya memotong gaji lebih kurang Rp. 250 ribu per bulan per pekerja, dalam setahun sudah cukup untuk membeli hewan qurban, dengan demikian ia sudah bisa melakukan perintah melaksanakan ibadah qurban tersebut.

 Dengan demikian pula perintah melaksanakan ibadah kurban mendorong seseorang untuk kreatif dan disiplin dalam mengatur uang yang akan diperolehnya dari pendapatan/penghasilannya.

Membantu Ekonomi Umat

Begitu juga dengan umat yang akan menerima daging hewan urban tersebut. Dengan adanya pihak yang diberi rezeki lebih untuk melaksanakan ibadah kurban, maka umat yang kurang beruntung, atau yang belum dapat membeli daging untuk dimakan sehari-hari, pada saat tibanya hari raya idul adha atau hari raya kurban, mereka akan ikut merasakan kebagian rezeki, memperoleh daging hewan kurban atas pembagian daging hewan kurban tersbut.

 Bagi mereka yang kurang mampu, maka mereka akan memperoleh daging, dengan kata lain mereka dapat memenuhi kebutuhan akan nutrisi berupa daging hewan kurban yang dibagikan kepada mereka tersebut. Berdasarkan data yang ada, setiap tahunnya jumlah kaum muslimin yang melaksanakan ibadah kurban terus bertambah, sesuai dengan perbaikan tingkat kesejahteraan mereka. 

 Namun, apa mau dikata, setelah kupon sudah semua ditukar oleh penerima penerima daging kurban terkadang masih juga ada masyarakat yang antri tidak mau membubarkan diri, karena mereka mau meminta daging hewan kurban, sementara mereka tidak memeiliki kupon.

 Pengalaman kami selaku panitia hanya bisa menghimbau, “maaf bapak/ibu/saudara, daging-nya sudah habis, Sekali lagi “maaf” daging-nya sudah habis. Indikasi ini, menunjukkan bahwa masih banyak saudara kita yang ingin mendapatkan daging hewan kurban tersebut. Namun, apa daya, daging hewan kurban yang akan dibagikan tersebut terbatas, tergantung dengan jumlah pelaku kurban yang akan melaksanakan ibadah kurban pada suatu tempat.

Optimalisasi Daging Hewan Kurban

 Fenomena di atas, merupakan kebiasaan yang sudah rutin dilakukan setiap tahun oleh panitia kurban. Pada umumnya, sebagian besar panitia kurban membagikan secara langusung daging kurban yang diamanahkan oleh pelaku kurban, sangat langkah panitia atau institusi yang memperoses daging hewan qurban terlebih dahulu baru akan didistribusikan/dibagian berupa daging olahan yang siap makan.

 Dalam hal ini Lembaga Amil Zakat, infaq dan Sadaqoh Muhammadiyah (LazisMu), seperti LazisMu Jawa Timur yang sudah melakukan inovasi dengan mengoptimalkan pemanfaatan daging hewan kurban Mu (Anda), dengan jalan memperosesnya menjadi rendang (RendangMu) atau menjadi kornet (KornetMu) yang sudah dikemas dalam kaleng. 

 Sayang, belum semua daging hewan kurban yang dikelola oleh panitia kurban LazisMU dan atau Persyarikatan Muhammadiyah yang melaksanakan hal tersebut. Masih ada sebagian panitia yang masih tetap membagikan daging hewan kurban secara langusung. Kita berharap ke depan sebagian besar panitia akan melakukan inovasi yang sama dengan LazisMu Jawa Timur yakni memproses daging hewan kurban Mu (Anda) untuk dijadikan makanan siap saji berupa rendang atau kornet dalam kaleng tersebut. 

 Semoga karya kreatif dan inovatif ini dapat diikuti oleh panitia kurban lain yang ada di semua daerah di nnegeri ini, agar daging hewan kurban Mu (Anda) dapat dimanfaatkan secara masimal dan atau secara optimal.

 Model pembagian daging hewan kurban Mu (Anda) yang sudah menjadi makanan siap saji ini, selain dapat memudahkan panitia membagikannya, juga dapat membantu pihak yang akan menerima daging hewan kurban yang akan dibagikan tersebut. Dengan demikian, kita sudah dapat membantu mereka dari sisi ekonomi yakni mereka yang menerima daging hewan kurban tersebut tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk memasak daging hewan kurban karena bisa langusng dimakan.

 Apabila terjadi suatu bencana alam, maka saudara kita yang terkena musibah yang tidak bisa menyediakan makanan sendiri karena semua harta bendanya “habis” terkena bencana, maka RendangMu sangat membantu sekali. RendangMu bisa langusng dimakan, karena memang sudah dirancang sudah siap dimakan.

 Kemudian RendangMu dan KornetMu terserbut bisa juga menjadi stok pengaman makanan siap saji yang bisa disimpan sebagai persiapan jika dibutuhkan segera. Seperti, jika ada bencana, gempa bumi, dan lainya saudara kita yang terkena musibah yang perlu bantuan makanan instan akan bisa dipenuhi dengan RendangMU dan atau KornetMu tersebut.

 Hanya tinggal, pihak yang berkompeten mengkaji hal ini, apakah sudah sesuai dengan syariat dan atau ketentuan yang ada atau ada hal lain yang perlu disempurnakan, sehingga daging herwan kurban Mu (Anda) dapat dimanfaatkan secara optimal.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Akhir Amanah  Oleh: Muslim Fikri  Senja mulai tampak, pertanda malam segera bertugas, ru....

Suara Muhammadiyah

29 October 2023

Wawasan

Oleh: Ir Tito Yuwono, ST., MSc., PhD., IPM, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Universitas Islam Indonesia....

Suara Muhammadiyah

14 May 2025

Wawasan

Wasiat dan Warisan: Memahami Hak Perempuan dalam Perspektif Al-Qur'an Oleh: Donny Syofyan/Dosen Fak....

Suara Muhammadiyah

16 April 2025

Wawasan

Oleh: H Akhmad Khairudin, SS., MBA, Anggota Majlis Ekonomi PCM Turi Dampak Ekonomi Bagi Negara Peng....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Wawasan

Beras Mentari, Icon Kedaulatan Pangan dan Simbol Persatuan Oleh: Wahyudi Nasution, MPM PP Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah